• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 23 Agustus 2014
Tribunners

Blog Tribunners

Nonton Wayang Yuk di Acara Sedekah Bumi

Sabtu, 30 Oktober 2010 11:42 WIB

Pagelaran wayang kulit untuk menghibur warga
Bulan Apit bagi orang jawa merupakan bulan istimewa karena pada bulan ini warga yang khususnya tinggal dipedesaan masih menjaga dan melestarikan adat dan budaya sedekah bumi yang merupakan tinggalan nenek moyang . Seperti halnya desa Karangaji kecamatan Kedung kabupaten Jepara ini , meskipun pelaksanaan secara meriah setiap dua tahun sekali namun kegiatan itu tetap dilaksanakan tiada pernah lowong. Sehingga jika tibanya tahun melaksanakan sedekah bumi maka pemerintahan desa menganggarkan sejumlah dana untuk pelaksanaan acara sedekah bumi yang tertuang dalam RAPBdes yang diputuskan bersama-sama. Sebagai pelestari adat dan budaya acara sedekah bumi secara rutin dimeriahkan dengan pentas wayang sehari dan semalam sebagai sarana hiburan yang juga tuntunan bagi warga desa yang masih menggemari kesenian wayang.


” Karena sudah menjadi adat dan tradisi pendahulu desa ini setiap bulan Apit dua tahun sekali diadakan acara sedekah bumi , selain selamatan seluruh warga desa dengan membuat ambengan dari tiap RT masing-masing . Sebagai hiburan untuk warga masyarakat kita mendatangkan pentas wayang kulit semalam suntuk ini merupakan keinginan seluruh warga desa utamanya generasi tua yang masih cinta akan kesenian wayang kulit ini. Namun demikian kami tidak melupakan selamatan khusus dengan mengundang seluruh tokoh masyarakat desa Karangaji yang setiap waktu membantu aparat desa dalam rangka memberdayakan warga ” , ujar Mufaiduddin,S Pd Petinggi desa Karangaji di dampingi Ahmad Taufik Carik desa di sela-sela acara selamatan .


Selamatan dengan tokoh masyarakat


Mufaidudin yang baru beberapa tahun memimpin desa Karangaji mengatakan , Sedekah bumi baginya merupakan ajang silaturahmi seluruh warga desa dan juga sebagai sarana untuk mempererat antar warga masyarakat. Ini dibuktikan dengan kompaknya warga 27 RT dengan cara swadaya membuat ambengan yang berisi nasi beserta lauk pauknya yang ditempatkan didalam wadah berbagai macam rupa sehingga indah jika dipandang. Ambengan tersebut biasanya dibuat di salah satu rumah warga yang kemudian dihias dengan berbagai macam bentuk di dalamya berisi nasi dengan lauk pauk yang menggambarkan hasil bumi. Sekitar jam 1 siang dari seluruh penjuru RT berdatanganlah ambengan-ambengan yang ditata berjajar rapi diseputaran lokasi diselenggarakannya sedekah bumi dengan dijaga masing-masing pengawal. Ketika semua sudah berkumpul maka dimulailah do’a bersama yang dipimpin oleh tokoh agama , yang diamini seluruh warga yang hadir, tidak hanya warga Karangaji saja namun warga desa sekitar ikut juga nimbrung disana.
Setelah pembacaan do’a selesai maka ambengan-ambengan itupun diserbu oleh seluruh yang hadir karena ingin mencicipi atau menikmati nasi dan lauk pauk dalam ambengan, sehingga suasana menjadi meriah sekali. Inilah saat yang ditunggu-tunggu oleh seluruh yang datang dan menghadiri acara sedekah bumi, karena mereka mengganggap nasi atau lauk pauk dalam ambengan mempunyai nilai tersendiri bagi yang makan atau mendapatkannya. Oleh karena itu banyak pengunjung yang tidak hanya makan di tempat namun membawa sisa nasi dan lauk pauknya untuk dibawa pulang , bagi mereka nasi selamatan sedekah bumi bisa dijadikan jimat. Misalnya yang petani biasanya nasi itu dikeringkan kemudian dicampurkan bibit padi dan selanjutnya ketika musim tebar maka disertakan pada tebar benih padi . Begitu juga yang nelayan nasi tersebut juga dijadikan nasi aking yang kemudian di taruh dalam wadah khusus dalam perahu mereka.

” Meskipun sudah berkurang tidak seperti dahulu , namun kepercayaan masyarakat akan barokahnya selamatan sedekah bumi masih sangat kuat . Sehingga ketika ambengan selesai di do’akan bersama maka yang menghadiri acara sedekah bumi ini serentak untuk berebut nasi dalam ambengan sehingga kelihatan seru sekali ”, ujar salah seorang warga desa Karangaji

Ambengan dari warga RT


Memang tradisi sedekah bumi ini bagi masyarakat pesisir Jepara maupun Demak masih cukup lekat dan tidak bisa hilang , sehingga jika bulan Apit tiba setiap desa secara bergiliran mengadaka acara sedekah bumi ini dan rata-rata untuk memeriahkannya mereka nanggap wayang kulit. Hal ini merupakan keberuntungan tersendiri bagi para pedagang kakilima keliling yang selalu mremo di acara sedekah bumi dimanapun berada diseputaran Jepara. Jika bulan Apit tiba dipastikan tidak ada waktu nganggurnya karena acara sedekah bumi ini terus dilaksanakan dengan tempat yang berbeda-beda. Dari penjualan mainan anak-anak, makanan sampai dengan pakaian ikut berkeliling dari desa satu ke desa lainnya untuk menagguk keuntungan. Apalagi bagi warga desa acara sedekah bumi ini sudah lama dinanti-nanti sehingga tiba hari H mereka telah menyiapkan uang untuk menyenangkan seluruh keluarga, khususnya anak-anak.




” Lumayan mas untuk bulan Apit ini rombong saya tidak pernah ngandang , karena setiap hari selalu berkeliling dari desa satu ke desa lainnya . Yang namanya bekerja ya kemanapun ada gula maka semutpun mencarinya , begitupun saya jika ada keramaian dimanapun kami datangi karena itu merupakan lahan kami mencari nafkah ” ujar Suhadak Jenggot warga desa Mbawu kecamatan BateAlit yang mremo jualan Pop Ice dan Sosis di arena sedekah bumi desa Karangaji. (FM)

Fatkhul Muin
Pengelola Blog : Pusat Informasi Masyarakat Pesisir (http: www.For-Mass.Blogspot.com
Penulis: Fatkhul Muin
Editor: Widiyabuana Slay
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
59788 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas