• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 20 September 2014
Tribunners

Blog Tribunners

Said Abdullah

Pro vs Kontra Tambang Pulau Laut

Selasa, 4 Januari 2011 09:26 WIB
Pro vs Kontra Tambang Pulau Laut
banjarmasin post
Aktivitas lokasi pertambangan di Kalimantan terpantau dari udara, rawan terjadi masalah, diantarannya kerusakan hutan, dan banjir. Biasanya mereka meninggalkan lubang besar berbentuk danau setelah isi perut bumi digali.
TRIBUNNEWS.COM, KOTABARU - Kabupaten kotabaru yang terletak di ujung tenggara pulau Kalimantan, Tepatnya sebuah pulau yang dinamai Pulau Laut dan masuk dalam pemerintahan Provinsi Kalimantan Selatan.

Pulau ini semakin hari semakin menarik untuk disimak, mulai dari panorama alam yang begitu mempesona hingga penomena pemerintahan yang semakin terlihat berantakan, walaupun pada dasarnya mereka para petinggi kabupaten kotabaru tenang tenang saja. Semakin santernya isu bahwa Pulau Laut akan ditambang membuat heboh semua kalangan termasuk para petinggi negara sudah di datangi oleh LSM yang menyatakan Menolak Tambang Pulau Laut.

Tujuan mereka beralasan dan sangat wajar jika melirik kepada kehidupan dan kesejahteraan mereka saat ini, mereka pada umumnya adalah masyarakat yang berada didaerah perkotaan dibagian kota kecil yang dinamai kotabaru ini. Karena mereka telah dapat hidup layak dan semestinya, namun ironisnya, mereka yang sudah merasakan kelayakan hidup perkotaan malah mengajak kaum bawah yang hidup juga dibagian perkotaan untuk bersama sama melakukan penolakan, tanpa disadari oleh pihak bawah tersebut bahwa dalang disetiap wayang yang digerakkan pasti sudah punya sekenario terbaik untuk dapat menggugah para penonton.

Namun hal ini akan terus berimbang dengan semakin banyaknya masyarakat yang mendukung pertambangan dan pembangunan jembatan penghubung antara pulau laut dan pulau kalimantan.

Dan inilah mereka yang pro, dari segi kelayakan hidup mereka masih terus menjalani di bawah rata rata kelayakan hidup yang sudah semakin maju dan berkembang di era globalisasi ini, bagi saya pribadi masyarakat di Kabupaten kotabaru ini masih menganut faham diskriminasi, ini terlihat masih berkembangnya pradigma orang kampung, orang sungaian serta orang kota, sehingga masyarakat yang memang letak strategisnya jauh dari perkotaan dikota kecil itu akan merasa sungkan jika harus melanjutkan pendidikan dikawasan perkotaan.

Bahkan mereka yang telah melanjutkan pendidikan diperkotaan akan merasa sangat hebat dibanding dengan orang yang berada didesa mereka, walaupun ini tidak semuanya dapat terlihat namun sangat banyak ditemukan apabila dicari. Fakta seperti ini seperti didengar namun tak coba dilihat oleh petinggi pemerintah Kab. Kotabaru, terbukti dari segi pembangunan dan prioritas untuk memajukannya, sehingga hal ini akan terus menerus berlanjut tak berkesudahan jika pemerintah tetap tutup mata,

Sangat wajar jika masyarakat di pedesaan tersebut akan sangat senang jika didesa mereka ada lapangan pekerjaan yang layak, karena pemerintah sendiri tidak pernah memberikan lapangan pekerjaan bagi mereka di letak strategisnya terkebelakang, Terbukti disetiap adanya Seleksi calon Pegawai negeri dikota ini, yang mengikutinya dari semua pihak, namun yang berhasil hanya mereka yang mempunyai ikatan keluarga dengan para petinggi daerahnya. Ironis bukan, padahal seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil didaerah ini merupakan hal yang sangat bergengsi di Kota Kecil ini.

Pembangunan saat ini hanya berpusat di Kec. Pulau Utara saja padahal kotabaru Pulau Laut merupakan Pulau Kecil yang sangat mungkin untuk dikembangkan, Bagi mereka yang baru pertama kali datang ke Pulau Laut, akan merasakan terawangan indah sebelum memasuki pulau ini, mereka mengira selepas dari penyeberangan dari Batulicin Tanah Bumbu mereka sudah akan bertemu dengan kotabaru.

Ya, mereka memang bertemu dengan kotabaru, tetapi tidak bagi masyarakat kotabaru sendiri, mereka baru memasuki pedesaan yang masih dikelilingi hutan, bahkan signal Handpone pun sangat sulit ditemui, dan baru akan bertemu kawasan perkotaannya yang tidak lebih sekitar 5 (lima) Kilometer saja, selebihnya adalah hutan belantara yang seolah tidak pernah dilihat oleh petinggi kota ini.
 
Mengapa Masyarakat kecil sangat bahagia ketika dibukanya pertambangan batu bara di Kab. Kotabaru?? Itu karena Mereka mempunyai lahan untuk dijadikan garapan yang bisa dijadikan objek ganti rugi, dan juga mendapatkan kelayakan pekerjaan.
 
Mengapa ada beberapa orang yang kontra? Mungkin kebalikan dari jawaban ini.Alasan lain karena akan menjadikan Pulau Laut Tenggelam?

Sebuah pulau tidak ada yang dinamakan pulau timbul, Tuhan menciptakan alam itu sangat sempurna, silahkan saja bawakan para peneliti handal dari negara manapun! Tidak akan mereka temui sebuah pulau yang garis besarnya adalah daratan dan lautan itu mengapung, Tidak akan pernah ada.
Apakah mereka yang teriak untuk menolak itu ibarat sebuah kambing yang melindungi banteng?

Itu bisa dicari tau sendiri sendiri, Faktanya seorang teman pernah menceritakan kronologis penolakan pengangkatan seorang Seketaris Daerah pada waktu lalu, ada banyak LSM yang teriak sana teriak sini agar bupati mengurungkan niatna mengangkat sekda tersebut dengan alasan:

Masa pensiunnya sudah dekat, Bukan Putra daerah dan lain lainnya, pada kenyataannya ada beberapa nama besar dibelakang mereka yang sudah bersedia untuk memberikan dana, tujuannya, harap punya harap agar diangkat menjadi sekda, Teman saya masih punya bukti lengkap, dari tandatangan penolakan hingga bukti2 penerimaan uang masih dengan baik mereka simpan.

Bagi saya, masyarakat akan semuanya mendukung penolakan jika Pemerintah Kab. Kotabaru telah berlaku adil, dan pemerintah telah menerapkan pemerataan pembangunan.

Dan akan banyak yang setuju, jika semua mereka yang menganggap orang kota berada diposisi masyarakat bawah.
 
Hal seperti ini hendaknya dikaji dahulu sebelum teriak sana teriak sini untuk mengkedepankan satu pihak, dengan argumentasi yang jelas dan mudah untuk dimengerti. IsyaAllah semua pihak akan lebih baik kedepannya serta Kabupaten Kotabaru akan semakin maju. Apapun kegiatannya akan berdampak merusak alam, atau bahkan memperbaiki alam serta kesejahteraann selama masyarakat juga ikut serta memberikan pengawasan.
Penulis: Said Abdullah
Editor: Anita K Wardhani
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
75422 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas