Tribunners / Citizen Journalism

Lebaran di Australia Tak Seragam

Kota kedelapan dalam perjalanan safari Ramadhan di Australia jatuh pada Wollongong.

Lebaran di Australia Tak Seragam
Ist
Kota kedelapan dalam perjalanan safari Ramadhan di Australia jatuh pada Wollongong.

Oleh Cholil Nafis, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU

TRIBUNNEWS.COM, WOLLONGONG - Kota kedelapan dalam perjalanan safari Ramadhan di Australia jatuh pada Wollongong. Kota kecil di selatan Sydney ini dikelilingi pegunungan dan pantai. Wollongong mashur sebagai destinasi turis dunia karena salah satu pantainya memiliki blawhole, bebatuan pinggir pantai yang terkikis ombak sehingga membentuk laksana gua.

Tampiasan ombak yang bergelung, sesekali menghantam bebatuan gua, meninggi ke udara, dengan warna-warni seperti pelangi. Wisata pantai ini gratis bagi publik, berikut fasilitas kolam renang. Semua itu dibiayai oleh pemerintah.

Tepat sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, masyarakat muslim sudah ramai membicarakan datangnya Hari Raya Idul Fitri. Masjid-masjid yang tersebar menjadi pusat informasi penentuan salat Ied. Pemerintah Australia tak terlibat dalam urusan keagamaan. Wajar untuk urusan keagamaan, segala informasi terpusat di masjid.

Sama halnya di Indonesia, penentuan jatuhnya Hari Raya Idul Fitri di Australia tak seragam. Lantaran di Australia subur komunitas muslim yang berbeda asal. Sebut saja misalnya, masyarakat muslim asal Turki, menentukan 1 Syawal pada hari Selasa tanggal 30 Agustus 2011.

Sementara komunitas lainnya di masjid Umar, New South Wales belum menentukan lebaran. Mereka memilih menunggu rukyah bil fi'li atau melihat langsung hilal. Komunitas lainnya seperti di Masjid Lacanba, akan melaksanakan lebaran antara tanggal 31 Agustus atau 1 September 2011.

Potensi perbedaan sudah terlihat sejak penentuan awal Ramadhan. Masjid resmi yang ada hubungannya dengan pemerintah mengumumkan awal puasa dimulai pada 1 Agustus 2011. Sementara sebagian umat lainnya memulai puasa pada 2 Agustus 2011. Perbedaan ini karena muslim Australia tak diatur oleh lembaga agama.

Kadangkala, ditemukan masyarakat muslim yang memegang penentuan puasa dan lebaran, merujuk pada kebiasaan negara asalnya. Perbedaan lainnya karena di antara masjid-masjid yang menjadi pusat informasi keislaman, tak ada koordinasi dengan menggunakan metode penetapan awal Ramadhan.  

Contoh saja, masjid yang bermitra dengan pemerintah, menggunakan metode hisab (ilmu astronomi). Namun masjid lainnya memilih metode rukyatul hilal bil fi'li atau melihat wujud bulan secara langsung. Mereka yang menggunakan hisab awal Ramadhan, mudah menentukan pesiapan lebaran. Termasuk menyewa tanah lapang seperti stadion.

Di Australia, tanah lapang dipilih agar dapat menampung banyak umat muslim yang hendak melaksanakan solat Ied. Sedang komunitas muslim yang menggunakan metode rukyah dalam penentuan awal bulan, seringkali melaksanakan salat Ied di masjid, dengan tambahan tenda agar dapat menampung jamaah lainnya.

Jangan pernah membayangkan suasana lebaran di Wollongon seperti di tanah air. Tak ada takbiran keliling, tak ada petasan, dan tak ada pawai dalam suasana Idul Fitri di Wollongong. Di Australia, pelaksanaan apapun tak boleh mengganggu ketenangan orang lain, dan mengganggu ketertiban umum, apalagi menciptakan kebisingan. Boleh tengok bagaimana pelaksaaan salat Jumat, suara khatib tak boleh mendesing keluar ruangan masjid. Ini demi menjaga ketenangan orang lain.

Lebaran di Australia tak mengenal hari libur. Kerja seperti biasa, begitu juga sekolah. Hari Raya Idul Fitri tak ubahnya hari-hari lainnya. Tak sedikit, kondisi ini disiasati masyarakat muslim untuk mengambil cuti kerja atau sekolah. Kalau warga Indonesia biasanya mengambil cuti kerja atau bolos. Ada juga dari mereka yang tetap beraktifitas, setelah salat Idul Fitri.

Lazimnya lebaran di tanah air, salam-salaman juga berlaku di Australia. Mereka melakukan usai salat. Bagi masyarakat Muslim Wollongong, mereka gotong-royong mendirikan tenda pinggir pantai. Bubaran salat, mereka langsung ke pantai, bersilaturahmi dengan saudaranya yang lain.

Puasa dan lebaran di Australia menghadirkan kesunyian. Tak ada ketipuk gendang dan beduk. Untuk tahu waktu imsak, berbuka, dan jatuhnya 1 Syawwal pun, masyarakat Muslim di negeri kanguru itu harus mencari informasi di internet. Tantangan Muslim asal Indonesia yang berpuasa di Asutralia lebih besar dari pada di Tanah Air. Kondisi yang ada, membuat ibadah mereka terasa lebih khidmat, militan dan bermakna.

Editor: Ade Mayasanto
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved