Tribunners / Citizen Journalism

Mobil Buatan Siswa SMK

Ronde Ketiga untuk Esemka

Terlepas dari kegagalan kali keduanya itu, pada 2010 dan tahun ini, Esemka telah beri pelajaran berharga.

Ronde Ketiga untuk Esemka
TRIBUNNEWS.COM/FX ISMANTO/TRIBUNNEWS.COM/FX ISMANTO
Walikota Surakarta, Joko Widodo memperlihatkan struktur mesin Mobil Esemka Rajawali kepada wartawan dan warga dikantor Komunitas Ayo Selamatkan Indonesia (KASI) Jalan Fatmawati Raya, Jakarta. Sabtu (25/2/2012) Esemka selain akan melakukan uji emisi Euro 2 di Balai Thermodinamika Motal dan Propulsi (BTMP), Serpong, Tangerang, Juga melakukan promosi Mobil Esemka Rajawali jenis Sport Utility Vehicle (SUV) di Jakarta. . (TRIBUNNEWS.COM/FX ISMANTO)

Oleh: Firdaus Putra, S.Sos

TRIBUNNEWS.COM - Tak mengherankan jika Jokowi dan Rudy, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo kecewa karena Esemka tak lolos uji emisi. Pasalnya dari 11 item yang diujikan, Esemka, mobil rakitan anak bangsa itu, gagal pada dua item.

Pertama, Esemka gagal pada standar gas buang karbonmonoksida yang seharusnya (CO) 5 gram/km dan HC+NOx standar 0,70 gram/km, namun terbukti CO-nya 11,63 gram/km dan HC+NOx sebesar 2,69 gram/km. Kegagalan kedua yakni tingkat terang lampu, seharusnya 12.000 candle (CD), namun lampu Esemka hanya mampu bersinar pada 10.900 CD, lampu kanan dan sebelah kiri 6.700 CD. Standar-standar itu mengacu pada Kepmen KLHJ No 04/2009 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang untuk Kendaraan Bermotor Tipe Baru.

Terlepas dari kegagalan kali keduanya itu, pada 2010 dan tahun ini, Esemka telah beri pelajaran berharga. Paling tidak Jokowi dan Rudy, sebagai pejabat pemerintah telah tunjukkan komitmen untuk membangun produk lokal. Komitmen ini yang nyaris pupus di tengah pusaran arus modal dan produk asing dewasa ini. Dan tak mengherankan pula, dengan kendaraan Esemka ini mereka peroleh popularitas. Popularitas dalam arti kebijakan yang diambilnya populis dan disukai masyarakat.

Memang seharusnya komitmen link and match dunia pendidikan dan dunia kerja didukung pemerintah. Dan sebagai pejabat pemerintah, Jokowi dan Rudy perjuangkan itu. Di belakangnya, anak-anak SMK berikut guru dan sekolah menaruh harap besar. Jika sukses, maka SMK akan menjadi pilihan menarik bagi orang tua untuk menitipkan putra-putrinya. Jika gagal, para orang tua akan berpikir ulang. Di sinilah Esemka simbol pemersatu tentang harapan masyarakat dan sekolah.
Distribusi Peran

Siswa, guru dan sekolah SMK punya peran besar membuktikan kualitas pendidikannya. Visi itu temukan momentum di tengah arus balik globalisasi. Kecenderungannya produk lokal mulai digemari. Fenomena Esemka senafas dengan Gerakan Beli Indonesia, yang juga santer di Kota Solo. Agar Gerakan Beli Indonesia tak berhenti dalam slogan kosong, segenap pihak harus sumbangkan karya. Pasalnya tak mungkin Beli Indonesia berjalan sedang produknya tak ada di pasaran.

Mengandalkan sekolah saja belum cukup. Sebagai laboratorium dan sentral kreativitas, karya-karya mereka harus disambut para pengusaha lokal. Kenyataannya, pasar begitu dinamis dengan tingkat kendali mutu tinggi. Contohnya, sering produk Usaha Kecil Menengah (UKM) ditolak pasar karena kualitasnya kurang. Tentu, Gerakan Beli Indonesia tak berarti membeli produk Indonesia dengan tutup mata. Melainkan membeli produk Indonesia yang juga berkualitas. Konsekuensinya, apa yang dihasilkan dan dijual di pasar juga terjaga mutunya.

Peranan-peranan itu disimpul rapih oleh pemerintah. Di era sekarang, memang fungsi pemerintah sebagai katalisator pembangunan. Bukan penyedia (provider) segala kebutuhan masyarakat. Katalis bekerja melalui komitmen dan pengarusutamaan. Aksi Jokowi dan Rudy, paling tidak sudah melukiskan peran itu. Tak perlu Jokowi dan Rudy perintahkan SKPD atau unit pemerintahannya buat mobil lokal, cukup dukung dan arusutamakan geliat SMK di kotanya.

Dan tampaknya virus bahu-membahu ini menular ke yang lain. Pasca Esemkan gagal uji kelayakan, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Deputi Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa, nyatakan janji untuk mendampingi Esemka sampai memenuhi standar kelayakan. Virus itu paling tidak sudah melibas ego sektoral lembaga pemerintahan. Masing-masing sektor tak melulu sibuk dengan agendanya, namun dapat melihat bahwa Esemka adalah produk lokal yang harus disengkuyung bersama.

Ronde Ketiga

Esemka gagal hanya dua dari 11 item yang diujikan. Pada ronde ketiga, dapat diyakini Esemka akan lulus ujian. Persoalan ambang batas emisi dan tingkat keterangan lampu bukan masalah besar. Apalagi, pihak SMKN 2 Surakarta, yang bertanggungjawab terhadap penelitian dan pengembangan mobil itu sudah mengetahui kelemahannya. Esemka sudah laik 85% untuk kemudian jadi kebanggaan republik ini pasca Mobnas Timor. Dan 15% sisanya, adalah PR yang tak perlu dirisaukan.

Menyongsong ronde ketiga, memang sebaiknya Tim Esemka berikut Jokowi tak perlu memancing di air keruh soal kemungkinan politisasi kegagalan uji Esemka. Cukup kembali ke laboratorium, hitung ulang emisi, terapkan teknologinya dan daftarkan ulang untuk ujian. Tiap terobosan, sebaik apapun itu,  selalu pancing pro dan kontra. Lebih bijak jika tak larut dalam pro-kontra, melainkan buktikan dengan karya.

Bukankah Thomas Alfa Edison, si penemu bola lampu lalui ratusan percobaan sampai akhirnya temuannya terbukti? Bedanya, dulu mungkin Edison hanya terima cemooh dari orang yang belum tahu ihwal sains. Sedang Tim Esemka dan Jokowi hidup di zaman dimana masyarakat sadar betul bahwa berbagai teknologi itu mungkin. Dan juga, bahwa bukan mimpi di siang bolong untuk kemudian Indonesia punya mobil nasional buatan anak negeri sendiri. []
_______________
Penulis adalah Wakabid. Kerjasama Lembaga Koperasi Pemuda Indonesia (KOPINDO), Jakarta. Saat ini sedang menyelesaikan studi Pasca Sarjana di Magister Administrasi Publik (MAP) Unsoed, Purwokerto. Penerima Beasiswa Unggulan Double Degree BPKLN Kemendiknas RI.

Editor: Anita K Wardhani
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help