Tribunners / Citizen Journalism

Bali Kini Mulai Waspada, Salah Siapa?

Sering kita dengar jargon bahwa Bali adalah pulau perdamaian, Bali adalah pulau cinta atau pandangan kalau Bali

Bali Kini Mulai Waspada, Salah Siapa?
Foto/KOMPAS/BENNY DWI KOESTANTO
Ribuan umat Hindu di Pulau Bali menghaturkan persembahan pada Hari Raya Kuningan di Pura Sakenan, Denpasar.

TRIBUNNEWS.COM - Sering kita dengar jargon bahwa Bali adalah pulau perdamaian, Bali adalah pulau cinta atau pandangan kalau Bali adalah sarangnya toleransi.

Tentu saja, yang menggagas jargon itu, adalah tokoh – tokoh dari kaum pendatang luar Bali , para investor yang punya kepentingan pragmatis atau bisa juga tokoh Bali yang saya sebut sebagai ”kelompok sok nasionalis”. Selama puluhan tahun, Bali bangga jika disebut – sebut sebagai pusatnya toleransi di Indonesia.

Sejarah sudah membuktikan, sekejam apapun cobaan menghujam Bali, entah itu sekelas Bom Bali I dan II atau Jihad AIDS maupun ekonomi syariah dan gerakan China Charismatic Christian Developer sekalipun , tapi tetap saja orang Bali sabar, diam dan tenang. Ini membuktikan bahwa Bali adalah masterpiece dalam urusan toleransi agama di Indonesia. Tapi tidak lama lagi, hal itu akan menjadi kenang – kenangan sejarah dari legacy komunitas Balinese, karena dari trend yang ada saat ini, orang – orang Bali sudah mulai mempertanyakan apa yang sering saya sebut sebagai ”toleransi satu arah” dan kekuatan ini sepertinya yang sudah mulai digalang orang Bali.

Pascakejadian pembantaian keluarga Hindu Bali yakni Punarbhawa di Jimbaran oleh sejumlah pemuda asal tanah Jawa, pasca rusuh LP Kerobokan yang konon versi akibat sentimen dengan local boy dengan napi pendatang ( secara sebagian besar penghuni penjara dipastikan bukan orang Hindu Bali ) dan juga serentetan sms gelap akhir Februari 2012 tentang isu Front Pembela Islam ( FPI ) menyerbu Bali, maka dipastikan hampir seluruh orang Bali ( baca : Hindu ) sudah mulai menyingsingkan lengan, mulai waspada dan rasa kedaerahannya semakin kental. Belum lagi, maraknya ormas – ormas kepemudaan yang mulai tampil dengan jargon menjaga Bali ( apapun alasan berdirinya ormas itu ) semakin membuktikan tesis bahwa komponen rakyat Bali diam – diam telah waspada terhadap invansi keamananan daerahnya.

Ada juga fenomena kehadiran sebuah forum baru yang berjuang untuk mendapatkan dan merebut hak dan pemerataan bagi Bali, bisa dikatakan sebagai sebuah karma wesana dan grand design leluhur untuk generasi Bali masa kini. Rakyat Bali (sudah) mulai mempertanyakan tentang program Bali Mandara yang digagas oleh Gubernur Bali saat ini (yang kebetulan purnawirawan Polri), dan pertanyaan itu akan semakin kompleks ketika kita disodori dengan meningkatnya aktivitas kriminal beberapa tahun terakhir ini. Apapun argumentasi penguasa di Bali, toh outputnya memang Bali sudah menjadi sarang kriminal.

Untungnya ada usaha dari pusat untuk menenangkan hati orang Bali, diantaranya ya pencopotan Kapolda Bali dan Kepala LP Kerobokan karena dianggap gagal. Kedepan, siapapun yang dianggap tidak mengakomodir kepentingan rakyat Bali yang mayoritas Hindu ( baik itu pimpinan Bank, Forum BUMN, Kanwil Kementrian / Departemen ), ya silahkan saja jika rakyat Bali meminta pusat mencopot mereka, tentu dengan bukti dan fakta.

Dan itu memang saya sarankan. Misalkan Corporate Social Responsibility (CSR) dinilai tidak pro-Hindu. Ibaratnya, jangan sampai perusahaan cari makan di Bali, tapi mereka tidak peduli agama Hindu dan budaya Bali. Janganlah dilupakan, tanah Bali adalah tanah pingit, tanah suci dan tanah yang bernafas dengan kesatuan semesta budaya Hindu Bali, jadi saya percaya, siapapun macam – macam dengan tanah Bali, maka tuaian hukum karma akan sangat cepat menghujam, karena hampir seluruh orang Hindu Bali percaya bahwa alam niskala Bali pun memperhatikan tingkah laku dari para penghuninya. Dan pasca kejadian pembunuhan sebuah keluarga Hindu Bali di Jimbaran dan pasca rusuh oleh para penjahat di LP Kerobokan, Bali sudah mendapatkan citra yang sangat buruk dimata nasional dan internasional.

Bagi orang Bali, tentu yang menyakitkan adalah kriminal demi kriminal ini justru dilakukan oleh pendatang yang seharusnya turut menjaga kesucian tanah Bali. Dalam bahasa mudahnya, orang Bali sudah lelah berupacara, mecaru dan menyucikan tanah Bali, kok malah pendatang seenaknya membuat tanah Bali tercemar. Dan mungkin ini menjadi pemicu bahwa Bali kini membangkitkan dirinya.

Dan kini, yang diperlukan oleh rakyat Bali adalah kepemimpinan yang mampu bersuara dan bertindak untuk menjaga estetika tanah Bali dan pro terhadap nilai – nilai budaya leluhur Bali yang diambil dari sari agama Hindu ( Veda Vedanta ). Dalam hal ini, jargon populis nasionalis pun tidak akan bisa meredam pikiran liar manusia Bali ketika haknya dibaikan oleh siapapun. Bagi saya, budaya Bali sangat terbuka dan universal, tapi saat budaya dan eksistensi orang Bali dilukai, dan tidak dihargai, maka kebanggaan ini akan meledak dan menjadi sebuah gerakan yang mengerikan.

Jika ini tidak diperbaiki, mungkin kerusuhan – kerusuhan SARA akan muncul di Bali. Sama seperti kebanggaan suku Dayak yang mencuat ketika FPI datang ke pulau mereka. Untuk itulah, saya minta kepada pemangku kebijakan publik, dan khususnya para prajuru desa adat disetiap wilayah, bangunlah fondasi ekonomi yang kuat bagi umat Hindu Bali, tegakkan peraturan ( awig – perarem ) yang tegas terhadap para pendatang yang mencoba – coba ingin mengacau Bali, percerdas anak – anak muda di lingkungan desa dan dusun dengan menjadikan mereka sarjana, buat Grand Design pembangunan melek politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, teknologi dan pertahanan Hindu disetiap lingkungan adat.

Karena tanpa sistem, tanpa konsep, tanpa visi yang berani, maka Bali akan menuai kehancuran dan menerima pelecehan – pelecehan macam kejahatan pembunuhan jimbaran dan rusuh LP Kerobokan dan perusuh yang datang dari seluruh Indonesia. Dan kesimpulannya, bahwa serentetan kejadian dan aksi kriminal di tanah Bali yang sudah terjadi ini, sudah menandakan bahwa adat di Bali sudah mulai kehilangan wibawa didepan pendatang. Kita optimis, ini bisa diperbaiki apapun konsekwensinya. Seperti kata Bung Karno, bahwa masyarakat adat, sistem adat adalah bagian dari kekayaan nasional.

*Ini adalah rilis resmi dari The Sukarno Center yang beralamat di Royal Bali Media Center Press Conference Hall Janur Garden Hotel Complex Jl. I Gst Ngrh Rai Sanur Denpasar

Editor: Widiyabuana Slay
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help