• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 24 April 2014
Tribunners

Blog Tribunners

Waspadai Politik "Lempar Batu Sembunyi Tangan"

Sabtu, 4 Agustus 2012 06:37 WIB
Waspadai Politik
/GANGSANG/ISTIMEWA
JOKOWI MENJALANKAN UMRAH: Calon Gubernur DKI Jakarta Haji Joko Widodo yang akrab dipanggil Jokowi, dalam rangka Bulan Suci Ramadan menjalankan Ibadah Umrah di Madinah Arab Saudi ditemani Istri Hj Iriana Joko Widodo yang disapa Ibu Ana serta kedua anaknya Gibran Rakabuming dan Kahiyang Ayu, berangkat Kamis 26 Juli dan pulang ke tanah air, Senin, 30 Juli 2012 lalu. Haji Jokowi terlihat kusuk saat melakukan sholat di Masjidil Haram Mekah. (FOTO: GANGSANG/ISTIMEWA)

TRIBUNNEWS.COM - "Lempar Batu Sembunyi Tangan”, setidaknya pribahasa ini cukup pantas dikemukakan di tengah semakin memanasnya suhu politik kota Jakarta oleh merebaknya isu politik bertendensi suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang kini mengemuka menjelang putaran kedua Pilkada DKI 2012. Adakah di balik sebaran isu bom SARA sebagai black campaign politik “Lempar Batu Sembunyi Tangan”?

Entah apa yang ada dibenak pelempar bom isu SARA ini, hari gini masih main isu SARA, kapan majunya bangsa ini? Atau jangan-jangan politik “pelempar batu sembunyi tangan” isu bom SARA ini sengaja menebarkan isu bom SARA lantaran mengalami phobia politis. Atau ada semacam prasangka berlebihan takut legitimasinya terancam sehingga bersikap posesif.

Di sini tak ada pretensi berburuk sangka, mencurigai, menebak, apalagi menuding maupun menuduh siapa pihak berkepentingan dengan sengaja memainkan isu sentimen SARA pada Pilkada DKI ini. Walau bukan tidak mungkin di antara kita memiliki persepsi subjektif dalam menebak, siapa gerangan pelempar bom isu SARA ini.

Di sini juga tidak berpretensi menuding dan menuduh bahwa pelempar bom isu SARA ini sengaja dilontarkan oleh kubu Foke-Nara. Meski sempat terlontar dari penyataan pembenaran salah seorang tim kampanye yakni si raja dangdut Rhoma Irama bahwa mengkampanyekan SARA itu dibenarkan.  

Sebaliknya, bukan tidak mungkin bom isu SARA ini sengaja dilontarkan oleh kubunya pasangan pluralis Jokowi-Ahok untuk meraup simpati umpan balik (feed back). Karena dalam dunia politik tak ada yang tak mungkin, politics is the art of the possible,  dan segala carapun dihalalkan walau itu diharamkan.

Atau jangan-jangan ada kepentingan orang pinggiran (outsider) yang ikut bermain “Lempar Batu Sembunyi Tangan”. Karenanya juga bukan tidak mungkin pula bom isu SARA ini sengaja dilontarkan oleh kelompok orang pinggiran di luar kedua kubu Jokowi-Nara dan Jokowi-Ahok yang tidak puas lantaran keterwakilan kepentingan politiknya merasa terancam establismenya. Dengan politik “lempar batu sembunyi tangan”, kelompok ini melancarkan politik seperti pada salah satu judul lagu Bang Haji Rhoma Irama yaitu adu domba. Justru ini yang harus kita waspadai dan dicegah.

Kemenangan Jokowi-Ahok pada putaran pertama jelas di luar kalkulasi politik mereka. Kemenangan pasangan yang disebut-sebut mewakili kelompok pluralis ini dianggapnya merupakan tsunami politik yang mengguncangkan dan menghempaskan, sehingga menimbulkan kegamangan politik bagi kelompok politik ini.

Mari kita jadikan Pilkada DKI ini sebagai barometer proses pendewasaan berpolitik dan berdemokrasi. Hendaknya pendewasaan berpolitik dan berdemokrasi tidak lagi diwarnai tontonan intrik adu jangkrik lewat isu sentimen primodial atau SARA. Pembenaran segala cara adalah naluri animals political.   .

Kita percaya, warga Jakarta sudah dewasa menyikapi isu-isu politik yang bergulir dan berkembang. Kita percaya, warga Jakarta sudah cerdas, kritis, dan tidak dengan sebegitu mudahnya dapat terprovokasi oleh lontaran bom isu politik sentimen primodial maupun SARA. Hari gini masih ngomong isu sentimen primodial atau SARA, kapan majunya bangsa ini?

Rakyat sudah cerdas dan kritis, kedewasaan berpolitik pemimpin tidak lagi harus dipertontonkan lewat dagelan politik “maling teriak maling mencari kambing hitam”,  “lempar batu sembunyi tangan” atau politik adu domba.

Sebagai penutup, saya ingin mengakhiri dengan mencomot pribahasa, “biarkan anjing menggonggong,kafilah tetap berlalu”. Dan satu lagi, “semakin tinggi pohon semakin kencang angin menerpa”.

*Alex Palit, pemerhati politik, pendiri Forum Apresiasi Musik Indonesia (Formasi)

TRIBUNNERS POPULER

Editor: Widiyabuana Andarias
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
793811 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas