Minggu, 23 November 2014
Tribunners

Blog Tribunners

Jokowi dan Sejatinya Musik Rock

Selasa, 28 Agustus 2012 08:52 WIB

Jokowi dan Sejatinya Musik Rock
Achmad Albar & Jokowi (Foto: Ist)
Dua rockers, Achmad Albar dan Jokowi, bintang idola dan penggemar

TRIBUNNEWS.COM - “Jokowi itu penggemar musik rock lho!” kata seorang teman pendukung Jokowi-Ahok, bernama Nanik Deyang. Lalu dipertegas lagi, Jokowi itu penggemar God Bless, mengetahui kedekatan saya secara pribadi dengan para personel grup rock legendaris ini. Wah, apa ya relasinya, relasi Jokowi sebagai penggemar musik rock dengan Pilkada DKI 2012?  

Perjumpaan Jokowi dengan vokalis God Bless – Achmad Albar, adalah perjumpaan seorang penggemar dengan bintang idolanya di sebuah acara halal bihalal, di luar urusan dukung-mendukung. Tapi setidaknya momentum itu menginspirasi saya menulis sekadar sebagai catatan buat sang rockers Jokowi kalau pada akhirnya berhasil (insyah Allah) memenangkan putaran kedua Pilkada DKI 2011, dan jadi orang nomor satu DKI.

Sebagai pencipta rock, Jokowi pasti paham betul makna, spirit, filosofi, dan sejatinya rock itu sendiri. Musik rock itu tidak sekadar dimaknai sebagai musik berirama keras, menghentak, ingar-bingar, melengking dengan balutan efek distorsif. Atau musik rock sekadar dimaknai sebagai ekspresi spirit pemberontakan terhadap establisment dan status quo. Tapi justru bagaimana spirit dan filosofi rock itu sendiri dibangun sebagai pondasi bangunan untuk melakukan perubahan.

Bagaimana simbolisasi, citraan, filosofi dari spirit rock itu sendiri dimaknai. Pada dasarnya musik rock itu sendiri bertolak dari kemerdekaan dan kebebasan berekspresi. Di mana kebebasan ekspresi ini diekspresikan sebagai ungkapan bentuk protes ketidakpuasan atau kegelisahan terhadap kondisi sosial politik dan budaya yang ada. Bahkan spirit rock juga sering diartikan sebagai budaya tandingan atau perlawanan budaya, seperti perlawanan terhadap establisment dan status quo. Itulah sejatinya rock.

Lalu adakah relasi Jokowi, rock, dan Pilkada DKI 2012?  
Sebagai penggemar grup rock legendaris God Bless, Jokowi pasti kenal, hafal lagunya, dan paham betul dengan apa yang tersirat di balik lagu “Balada Sejuta Wajah”.

Sebagai penggemar grup rock thrashmetal Metallica, Jokowi pasti kenal, hafal lagunya, dan paham betul dengan apa yang tersirat di balik dari judul lagu “...And Justice For All”.

Kedua repertoar lagu tersebut setidaknya merepresentasikan realita potret buram wajah Jakarta. Meski tidak kita pungkiri bahwa nyanyian Kompor Meleduk-nya Benyamin S dan Si Komo-nya Melissa yang berkisah tentang kebanjiran dan kemacetan sebagai problematika yang membelit Jakarta tetap menghantui dan selalu menjadi isu sentral setiapkali perhelatan Pilkada DKI. Selain persoalan banjir dan kemacetan, problematika lainnya yang tak kalah pentingnya untuk mendapatkan perhatian adalah bagaimana mengatasi nyanyian “Balada Sejuta Wajah”, dan nyanyian “...And Justice For All”.

Kedua repertoar lagu tersebut setidaknya merepresentasikan nasib orang-orang Jakarta yang terpinggirkan, disingkirkan, tertindas dan termajinalisasi oleh perlakuan-perlakuan tidak adil yang diskriminatif atas nama pembangunan. Kini mereka menunggu di dalam tanya dan harapan, adakah hari esok makmur sentosa bagi wajah-wajah menghiba terhimpit oleh kegelisahan. Dalam tanya dan penuh harap, mereka menunggu kapan datangnya pemimpin yang menentramkan, pemimpin yang punya kepedulian dan berjiwa manusiawi terhadap (nasib) rakyat kecil.

Dan satu lagi yang tak pentingnya untuk mendapat perhatian, yaitu “135 Juta”-nya Rhoma Irama. Sebagai rockers, ternyata Jokowi juga mengaku penggemar si raja dangdut Rhoma Irama, bahkan banyak hafal lagu-lagunya. Sebagai penggemar Rhoma Irama, Jokowi juga pasti kenal, juga pasti hafal lagunya, dan paham betul dengan apa yang tersirat di balik pesan lagu rock dangdut bertitel “135 Juta”, yang merepresentasikan multikulturalisme kehidupan wajah Jakarta.  

Bagaimana mengubah perbaikan nasib “Balada Sejuta Wajah”, bagaimana mengubah citra keadilan “...And Justice For All”, bagaimana mewujudkan dambaan “135 Juta” damai dan berseri, itu yang mereka tunggu, itu yang mereka harap dalam kepemimpian baru sebagai harapan baru “Jakarta Baru”.  

Sebagai penutup, di sini saya sengaja mengutip omongan filsuf Herbert Marcuse, musik memang tidak dapat mengubah dunia atau suatu keadaan, tetapi musik mampu menyumbangkan satu perubahan kesadaran manusia. Dan pada gilirannya, manusia inilah yang mampu mengubah dunia, atau mampu mengubah suatu keadaan.

Artikel ini sekadar catatan saya buat mas rockers Jokowi kalau memang mengaku dirinya sebagai pemimpin berjiwa rock, atau alias sebagai rockers sejati. Itulah sejatinya rockers sejati. Buktikan! Semoga, salam tiga jari.

*Alex Palit, penulis lirik lagu, pendiri Forum Apresiasi Musik Indonesia (Formasi)

TRIBUNNERS POPULER

Penulis: Alex Palit
Editor: Widiyabuana Slay
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas