Senin, 24 November 2014
Tribunners

Blog Tribunners

Pengakuan Penjual Ginjal: Harga Nego

Selasa, 28 Agustus 2012 17:24 WIB

Pengakuan Penjual Ginjal: Harga Nego
IST
Ilustrasi ginjal

Yth. Bapak El Dahs

Salam,

Terima kasih atas perhatian bapak yang mau membeli ginjal saya. Nama saya Iwan (nama disamarkan), bapak dari 2 anak yang masing-masing berumur 5 tahun dan 2 tahun. Saya berumur 32 tahun, tidak pernah alkohol, tidak merokok apalagi narkoba. Dan saya tidak memiliki penyakit serius. Sehat jasmani dan rohani dan bersedia untuk medical check up bila dibutuhkan. Saat ini saya berdomisili di Tangerang.

Saya ingin menjual 1 ginjal saya seharga Rp. 550 juta dan bila bapak masih membutuhkan organ tubuh lainnya, saya bersedia juga untuk menjual hati saya seharga Rp. 250 juta.

Adapun motif saya melakukan itu semua, karena saya saat ini sedang membutuhkan banyak uang untuk membayar utang saya dan buat ibadah. Saya kasihan dengan istri saya yang tidak sanggup menghadapi tekanan. Saya sadar dalam menawarkan ginjal dan hati saya karena bagi saya istri saya dan anak-anak saya adalah yang utama, merekalah BUAH HATI SAYA YANG SESUNGGUHNYA.

Jika bapak berkenan lanjut membeli ginjal atau hati saya, saya ucapkan banyak terima kasih. Mohon jawaban bapak secepatnya.

Terima kasih.

Itulah isi surat elektronik (e-mail) dari seorang bapak kepada saya yang ingin menjual ginjal dan hatinya. Setelah mencoba menelusuri beberapa iklan di dunia maya, maka saya memberanikan diri untuk mencoba menjadi pembeli untuk mengetahui lebih pasti apa mereka serius dalam mendagangkan organ tubuh mereka.

Inilah fenomena yang ada di masyarakat yang mulai menjamur. Dengan harga ginjal dipasar gelap yang menembus angka US$ 262.000 atau sekitar Rp. 2,4 Miliar dan harga Hati yang menembus angka US$ 157,000 atau sekitar Rp. 1,4 Miliar, maka wajarlah bila banyak orang mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalah ekonominya.

Namun berdasar penelusuran saya lebih lanjut, banyak penjual ginjal yang tidak mau mengakui mereka menjual ginjal tapi mendonorkan ginjal. Mungkin kata mendonorkan terdengar manusiawi, namun dibalik itu semua para oknum yang mengaku mendonorkan ginjal tetap meminta sejumlah uang sebagai imbalan.

Pakar kesehatan Indonesia, Tunggal Situmorang, mengatakan “secara medis, pendonor dapat hidup sehat dan normal meski hanya memiliki satu buah ginjal”. “Padahal, jumlah penderita ginjal yang tercatat jumlahnya mencapai 70 ribuan orang dengan fakta dilapangan diperkirakan aekitar 100 ribuan orang” lanjutnya.
Benarkah manusia dapat hidup normal dengan 1 buah ginjal? Saya tidak ingin berdebat dengan pakar kesehatan manapun, namun saya mempunyai pemikiran yang logis. Jika manusia dapat hidup normal dengan 1 buah ginjal, buat apa Tuhan menciptakan 2 buah ginjal pada manusia?

Seperti yang saya kutip di scientificamerican, jika hanya memiliki satu ginjal saja, maka organ tersebut harus bekerja lebih keras. Banyak orang yang sudah menjual ginjalnya mengalami penurunan stamina dan tidak mampu melakukan aktivitas secara normal alias gampang lelah karena fungsi ginjalnya tinggal sebelah. Belum lagi jika ginjal tersebut sudah tidak berfungsi baik, maka si pelaku penjual ginjal harus melakukan cuci darah atau transplantasi ginjal yang mungkin ongkianya lebih mahal saat ia menerima uang dari hasil ginjalnya.

Biarlah maraknya kasus jual beli organ tubuh ini, menjadi cambuk bagi pemerintah untuk memperbaiki kualitas ekonomi kita dan sebagai manusia kiranya ini juga menjadi pelajaran bagi kita untuk mengutamakan sifat sosial. Jangan biarkan terulang kembali gadis 15 tahun harus menjual ginjalnya hanya untuk membantu pelunasan utang orang tuanya dan membiayai pendidikan adik-adiknya. Lalu seperti yang dikatakan salah seorang penjual organ ginjal dan hati lewat e-mailnya kepada saya MEREKALAH BUAH HATI SAYA YANG SESUNGGUHNYA, dapat menjadi pelajaran akan pentingnya sebuah keluarga.

 
Penulis: Elbi Dahs
Editor: Yulis Sulistyawan
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas