Sabtu, 20 Desember 2014
Tribunners

Tribunners / Citizen Journalism

Mengurai Mitos-mitos Mengerikan Tata Niaga Tembakau

Selasa, 20 November 2012 19:37 WIB

Mengurai Mitos-mitos Mengerikan Tata Niaga Tembakau
Tribun Medan/DEDY SINUHAJI
Sejumlah pekerja sedang melakukan proses pengeringan tembakau Deli di dalam bangsal gudang permentasi kebuh helvetia PTPN 2 di Jalan Raya Kelambir 5, Deliserdang, Sumut, Senin (21/5/2012). Tahun 2011 lalu, nilai tawar ekspor tembakau Deli menembus angka 65 Euro per kilogramnya, dan diekspor ke sejumlah negara yang ada di Eropa untuk dijadikan cerutu. Tembakau Deli merupakan tembakau dengan kualitas terbaik di dunia. (Tribun Medan/Dedy Sinuhaji)
Oleh: Agus Setiawan*
TRIBUNNEWS.COM - Tata niaga dalam pertembakauan adalah salah satu sisi yang selalu menjadi sasaran tembak dari para penyerang tembakau. Banyak yang menyebut rantainya terlalu panjang.
Tapi, lebih banyak lagi anggapan bahwa dalam tata niaga tembakau terdapat lingkaran setan kemiskinan. Petani, mata rantai pertama niaga, dari mana tembakau diproduksi, dianggap tak memiliki posisi tawar. Mereka tak pernah bisa menentukan harga produk yang dijualnya.
Tuduhan yang paling serius: tembakau hanya memperkaya pemilik pabrik, sementara petani tetap miskin. Menjadi tampak lebih buruk di mata pembenci tembakau adalah kenyataan bahwa tata niaga tembakau terlihat cuma terpusat dan dikuasai oleh sedikit pemain saja, segelintir pabrik rokok raksasa semata. Itu-itu saja pemain utamanya, begitu kira-kira kalimat sederhananya. Tiga sampai empat pabrik rokok inilah yang diprasangkakan menentukan harga tembakau yang dibeli dari petani. Dan, kayalah mereka di atas kemiskinan ratusan ribu petani tembakau.
Tentu saja, beberapa gugatan atas tata niaga tembakau dilakukan dengan niat tulus dan empati yang besar kepada petani. Dan untuk itu, petani tembakau patut berterima kasih. Demikian juga dengan stakeholderspertembakaun secara umum. Sebab, sebagaimana tata niaga hasil pertanian lain di Indonesia, tata niaga tembakau tak sepenuhnya berjalan sebagaimana yang diharapkan, dan karena itu selalu membutuhkan perbaikan demi perbaikan. Namun, tanpa bermaksud melebih-lebihkan, beberapa serangan jelas dilakukan dengan penuh kebencian dan tak ada maksud lain selain penghancuran.
Mereka mencoba mengulik ketidakberesan-ketidakberesan yang ada dalam tata niaga tembakau untuk ditampilkan sebagai representasi serta menyeluruh dari jagat pertembakauan di Indonesia. Dengan demikian, mereka merasa memiliki legitimasi untuk mengenyahkan tembakau dari bumi Indonesia.
Pihak-pihak yang disebut terakhir ini biasanya bekerja dengan kerangka pikir yang telah dicanangkan olehFramework Convention on Tobacco Control (FCTC), dimana target utamanya adalah mewujudkan sebuah dunia tanpa tembakau. Jadi, jika mereka mengajukan kesejahteraan petani tembakau sebagai basis pijakannya untuk menyerang tembakau dan tata niaganya, maka dengan gampang kita bisa baca bahwa tujuan utama mereka bukanlah untuk meningkatkan kesejahteraan petani tembakau, tapi “mengentaskan” mereka dari budidaya tembakau untuk dipindahkan kepada tanaman ekonomi lainnya.
Sebagaimana kalangan ini menciptakan mitos seputar tembakau dan rokok khususnya kretek, mereka juga memproduksi banyak mitos soal tata niaga tembakau. Mitos ini disebarkan kepada khalayak untuk mengundang rasa antipati publik terhadap tata niaga tembakau secara khusus dan pada akhirnya pertembakauan Indonesia secara umum. Mitos ini antara lain: 1) berbelit-belit dan berlikunya jalur tata niaga tembakau; 2) pasar dikuasai oleh segelintir pabrik rokok (oligopsoni); 3) posisi tawar petani yang sangat lemah di depan pedagang dan pabrikan.
Tanpa bermaksud mengabaikan sama sekali kritik terhadap beberapa kekurangan dalam tata niaga tembakau, tulisan berikut adalah semacam rintisan dan upaya sangat awal untuk mencoba membongkar beberapa mitos seputar tata niaga tembakau yang diciptakan para juru bicara sebagaimana disebut sebelumnya.
Tak Serumit Kelihatannya
Pada dasarnya, tata niaga tembakau tak banyak berbeda dengan tata niaga komoditas tanaman ekonomi lainnya, seperti gula, kelapa sawit, kopi, kakao, karet, dan lain sebagainya. Pakemnya adalah dari petani, ke pedagang perantara, kemudian berujung pada industri. Tak lebih dari itu. Kesan rumit dan panjang biasanya akan didapat saat para pengritik tata niaga tembakau mengulik lebih dalam (kadang terlalu dalam dan penuh dramatisasi) lika-liku tata niaga tembakau di wilayah gudang atau grader.
Perlu diketahui, tembakau memang punya karakteristik tata niaga yang khas jika dibanding kebanyakan komoditas tanaman ekonomi pada umumnya. Secara umum bisa dikatakan ada dua jenis tata niaga yang biasa berlaku untuk komoditas pertanian. Pertama, yang segera kembali ke konsumen begitu sampai ke pedagang.
Jenis pertama ini biasanya adalah sembako, sayur mayur, hasil perikanan dan sejenisnya. Kedua, komoditas yang biasanya diserap pasar ekspor untuk memenuhi kebutuhan industri entah di Negara mana atau untuk apa. Kakao, karet, atau kelapa sawit, pasti masuk ke jenis kedua ini. Jenis yang pertama biasanya tata niaganya terlihat lebih simpel: petani – pedagang – konsumen. Jenis yang kedua, pasti lebih rumit, karena paling tidak melibatkan petani – pedagang – eskportir – industri. Tembakau adalah jenis komoditas yang tata niaganya lebih mendekati kelompok kedua.
Namun, perbedaan yang paling besar dari tembakau dengan komoditas-komoditas sekelompoknya adalah pada industri yang menyerapnya. Industri rokok kretek, penyerap terbesar hasil tembakau petani, berada di dalam negeri. Dan, untuk beberapa sentra tembakau terkemuka seperti Temanggung dan Madura, industri ini menampakkan diri di depan petani dengan jauh lebih luas dalam wujud grader atau perwakilan. Karena itu, perlu ditegaskan, grader atau perwakilan pabrik sebenarnya bukan satu mata rantai yang memperantai pedagang dan pabrik, melainkan pabrik itu sendiri. Dengan demikian, pada prinsipnya, dari petani ke pabrik, tembakau hanya melewati tiga titik: petani – pedagang – pabrik.
Uniknya, para juru biacara antitembakau biasanya menuntut tembakau untuk sesederhana komoditas sembako atau sayur-sayuran, dimana petani langsung bisa bertransaksi dengan ujung rantai tata niaga, dalam hal ini pabrik, sementara mereka lupa membuat perbandingan dengan tata niaga komoditas-komoditas lain yang ujung rantainya sama, yaitu industri. (Padahal yang sering tak diungkap, pada tata niaga lain semisal sayur-mayur, justru petani tidak memiliki posisi tawar. Sebab, harga ditentukan sepihak oleh pasar induk, sementara harga tersebut dapat naik-turun setiap jam).
Tapi jika pun mereka ingin menemukan tata niaga tembakau sesederhana sebagaimana yang mereka kehendaki, mereka bisa menemukannya di sentra tembakau seperti di Malang. Rantai tata niaga tembakau di Malang jauh lebih sederhana dibanding tempat lain karena di sekitar sana grader tidak eksis, sebab pabrik tidak membuka perwakilannya (Alamsyah, 2011:116).
Rampung di Atas, Gemuk di Tengah
Ada banyak tuduhan jika tata niaga tembakau dikuasai oleh segelintir pemain yang sangat berkuasa, yaitu pabrik-pabrik rokok besar seperti Djarum, Gudang Garam, Sampoerna, atau Bentoel. Pabrik-pabrik inilah yang dianggap bisa menentukan hitam-putih niaga tembakau. Maka, terjadilah praktik oligopsoni.
Yang pertama-tama perlu diluruskan, pabrik-pabrik rokok besar itu sebenarnya adalah sebagian saja dari penyerap tembakau petani.
Pabrik-pabrik besar itu memang menyerap sebagian besar tembakau petani, tapi kita tak bisa mengesampingkan pabrik-pabrik rokok menengah hingga rumahan. Selain itu, di beberapa tempat seperti Sumedang, Parakan, Malang, dan di beberapa sentra tembakau lain, tembakau petani juga dijual secara eceran di pasar-pasar.
Namun, hal utama yang mesti diketahui, meskipun didominasi oleh beberapa pabrik rokok kretek besar, pasar tembakau tak sesepi itu. Pada kenyataannya apa yang terjadi di lapangan adalah sebuah pasar yang semarak. Hal ini disebabkan setiap pabrikan memiliki pedagang-pedagang perantara dalam jumlah yang sangat besar. Dalam satu sentra tembakau saja, masing-masing pabrik bisa diwakili oleh ratusan hingga ribuan pedagang perantara. Hal ini menyebabkan dalam tata niaga tembakau, sistem yang tampak terlalu ramping di atas itu menggelembung di bagian tengah.
Karena setiap pedagang perantara itu mesti memenuhi target untuk disetorkan ke pabrik, para pedagang perantara ini berlomba-lomba mengumpulkan barang sebanyak-banyaknya dan dengan mutu sebaik-baiknya dari petani. Di sinilah persaingan antarpedagang terjadi lebih semarak dan kadang keras. Petani, baik langsung maupun tidak langsung, akan diuntungkan dengan persaingan di level pedagang perantara ini. Dengan lebih banyak penawar, petani tembakau bisa menaikkan posisi tawarnya.
Petani sebagai Idola
Sebuah lembaga yang bernaung di bawah ormas Islam besar menyatakan tata niaga petani tembakau jauh lebih mencekik petani dibanding dengan RPP Pengendalian Dampak Tembakau. Menurut mereka, sistem tata niaga yang ada saat ini menempatkan petani tembakau sebagai korban dari jaringan mafia tembakau dimana petani tidak mempunyai posisi tawar terhadap hasil panen tembakaunya. Lebih jauh disebutkan, harga tembakau di petani merupakan harga sisa setelah diambil untung oleh para tengkulak, pedagang dan pengepul. Pernyataan-pernyataan minor macam ini adalah pernyataan yang sangat tipikal dari para penyerang tembakau.
Meskipun posisi petani bukannya tanpa masalah dalam tata niaga tembakau, dramatisasi terpinggirkannya petani jelas sangat tendensius. Mereka cenderung membuat kesimpulan terlebih dahulu untuk kemudian mencari pembenaran dengan fakta-fakta yang dipilih. Yang terjadi sebenarnya, dibandingkan dengan kebanyakan petani pada tata niaga jenis komoditas lain, petani tembakau justru lebih memiliki posisi tawar.
Ada dua sebab yang membuat petani tembakau memiliki posisi tawar lebih baik di hadapan pedagang. Pertama, tembakau adalah jenis fancy product, dimana harganya ditentukan oleh mutunya. Jika tembakau petani tembakau bermutu baik, apalagi sangat baik (misalnya dengan kualitas srinthil), petani akan menjadi idola dalam semusim. Bila srinthil muncul, ibaratnya dalam kondisi baru petik saja penawaran akan langsung datang. Pedagang yang jumlahnya banyak dan masing-masing ingin mendapatkan tembakau terbaik akan mengantri guna mendapatkan tembakau terbaik dari petani. Dan dalam kondisi ini, petani bisa menjatuhkan pilihan pada pedagang dengan penawaran terbaik. Untuk tembakau dengan kualitas srinthil, yang datang ke petani bukan hanya pedagang perantara namun langsung dari perwakilan pabrik.
Kedua, karena semaraknya pemain di level pedagang perantara –sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, banyak pedagang yang berburu barang, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, memberi kesempatan petani tembakau untuk memilih penawar terbaik. Jika tembakaunya bermutu baik, sementara angka tawaran dari pedagang kurang menggiurkan, petani tak perlu kuatir untuk menampik. Sebab, begitu pedagang pertama pergi, pedagang berikutnya akan datang mengajukan tawaran yang lebih baik.
Membongkar Mitos, Menyelamatkan Petani
Tentu hanya sekelumit saja mitos-mitos seputar tata niaga tembakau yang sempat disinggung dalam tulisan pendek ini. Jelas masih banyak mitos seram lain yang perlu dijernihkan oleh para pembela tembakau dan petani tembakau. Sebab, membongkar ini semua, tidak saja membutuhkan tulisan yang lebih panjang, tapi mungkin juga sebuah buku yang lebih serius dengan data-data yang lebih terang.
Yang perlu ditegaskan, membongkar mitos-mitos dalam tata niaga tembakau, sebagaimana juga dalam isu-isu tembakau secara umum, harus menjadi agenda penting dan mendesak bagi segenap stakeholders tembakau, termasuk didalamnya para pemerhati tembakau. Sebab, jika titik tolaknya adalah advokasi terhadap nasib petani tembakau, solusinya adalah membongkar mitos-mitos tersebut. Mengekalkan mitos-mitos itu, memperburuk citra tembakau di mata publik, apalagi sampai mengondisikan petani menukar budidaya tembakaunya dengan tanaman lain, tak ubahnya merubuhkan lumbung hanya karena beberapa ekor tikus. ***
*Penulis adalah Sekjen Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI)
 
Editor: Widiyabuana Slay
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas