Blog Tribunners

Calon Presiden 2014

Antara Iwan Fals dan Rhoma Irama

Di sini saya tidak bermaksud menyandingkan, membandingkan

Antara Iwan Fals dan Rhoma Irama
Iwan Fals - Rhoma Irama (Foto: dok. Ist)

TRIBUNNEWS.COM - Di sini saya tidak bermaksud menyandingkan, membandingkan dan menandingkan popularitas Iwan Fals dengan si raja dangdut Rhoma Irama yang juga sama-sama punya jutaan penggemar dan pengikut yang kini mencalonkan diri sebagai Presiden Indonesia 2014. Apalagi kemudian disandingkan, dibanding-bandingkan dan ditandingkan pula dengan Mick Jagger – vokalis grup rock legendaris The Rolling Stones yang popularitasnya mendunia, nggak levellah!

Ketika baca tulisan saya di Tribunnews (30/12); “Rhoma Irama Kuda Tunggangan Politik Cak Imin”, tiba-tiba ingatan saya melayang nyangkut ke sosok Iwan Fals, calon presiden dari 'partai politik'  Orang Indonesia (Oi). Saya pun masih teringat jelang Pilpres 2004 / 2009 lalu, benyak mendapati anak muda, yang pasti mereka adalah penggemar setia Iwan Fals, memakai kaos oblong bergambar dan bertuliskan; Iwan Fals Presiden 2004 / 2009, berlogo Oi, organisasi massanya penggemar Iwan Fals yang kalau diverifikasi faktual keberadaannya tersebar di Indonesia. Saya juga mendapati banyak penjual T-shirt di kaki lima menjajakan dagangan kaos bergambar Iwan Fals Presiden 2004 / 2009.

Meski Oi ini bukan partai politik peserta Pemilu, tapi ada ulah Iwan Fals Mania yang   mencetak kaos bergambar idolanya sebagai calon presiden versi Oi. Seakan tidak mau kalah bersaing calon presiden lainnya yang diusung parpol peserta Pemilu, Iwan Fals Mania ini membuat sablon kaos oblong, poster, stiker, gantungan kunci bergambar bintang idolanya. Karena bukan tidak mungkin pada Pilpres 1014 ulah ini akan terulang.        

Saya pernah mewawancari Iwan tentang politik, ketika disingggung soal sablon  gambar dirinya di kaos oblong, poster atau stiker, “Buat aku seru aja,” jawabnya singkat. Penyanyi balada yang lagu-lagunya banyak mengangkat tema politik dan kritik sosial mengaku tidak berminat terjun ke dunia politik praktis. Meski pernah diakui ada parpol yang meminangnya jadi calon legislatif, juru kampanye,  termasuk adanya wacana kicauan burung pencapresan dirinya. Tapi semua itu ditolaknya, Iwan Fals tidak tergiur oleh tawaran itu, begitupun penyanyi yang nama aslinya Virgiawan Listanto ini juga tidak lantas terbuai ambisius oleh iming-iming semua itu. “Enak gini jadi orang biasa,” kata pelantun lagu bertema pelajaran politik “Sumbang” dan “Asik Nggak Asik”, yang memiliki jutaan penggemar dan pengikut yang tergabung di Oi.

Sebagai penyanyi yang penggemarnya terdiri dari berbagai lapisan masyarakat dan multikultural, Iwan Fals ingin tetap menjaga eksistensi independensinya, netral tidak terkontaminasi oleh kepentingan politik praktis atau kepentingan kekuasaan politik sesaat, ataupun jabatan kekuasaan. Iwan juga tidak ingin penggemarnya terbelah oleh kepentingan politik praktis. Komitmen ini yang ingin dijaga dan dipelihara oleh pencipta lagu “Di bawah Tiang Bendera”, yang liriknya bercerita tentang retaknya spirit multikulturalisme.

Terkait maraknya nama-nama bursa Calon Presiden 2014 yang muncul dan bertebaran seperti jamur di musim hujan, saya masih ingat, jelang Pilpres 2004, Iwan merilis album yang lagu-lagu sarat muatan politik dan kritik sosial, berjudul Manusia 1/2 Dewa. Dan, saya rasa lagu-lagu di album itu masih kontekstual dengan realita perpolitikan saat ini jelang Pilpres 2014. Dan, saya sendiri tidak tahu di lagu tentang calon presiden “Manusia 1/2 Dewa” konteks sindiran ini ditujukan kepada siapa;  Urus saja moralmu, urus saja ahklakmu... Pasti kuangkat engkau menjadi manusia 1/2 dewa!

Alex Palit, citizen jurnalis ‘Jaringan Pewarta Independen’ (pewartaindependen.blogspot.com), dan pendiri ‘Forum Apresiasi Musik Indonesia’.

TRIBUNNERS POPULER

Penulis: Alex Palit
Editor: Widiyabuana Slay
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help