• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 1 November 2014
Tribunners

Tribunners / Citizen Journalism

Perang China-Jepang Semakin Dekat?

Rabu, 16 Januari 2013 20:25 WIB
Perang China-Jepang Semakin Dekat?
IST
Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe.

Oleh: Richard Susilo*

TRIBUNNEWS.COM - Wajah PM Jepang Shinzo Abe langsung berubah tegang dan serius sekali saat ditanya soal masalah Senkaku oleh wartawan asing.  Tribunnews.com  yang juga hadir pada konperensi pers 11 Januari lalu itu di kantor PM Jepang bersama wartawan lain, semua ikut terfokus tajam kepada suasana serius itu. Padahal sebelumnya PM Jepang Abe bicara soal strategi nasional untuk membangun kembali Jepang, dengan gaya normal tanpa ketegangan di raut wajahnya. (Baca juga: Ini Alasan Mengapa Jepang Lebih Berhak atas Pulau Senkaku)
 
“Satu hal yang salah sebagai negara yang ikut dalam masyarakat internasional (China) membiarkan perusahaan Jepang di sana menjadi rusak dan juga keselamatan warga Jepang kurang terjaga baik, hanya karena ingin mencapai tujuannya,” tekan Abe di konperensi pers tersebut, mengacu keributan besar di China September tahun lalu.
 
Kata-kata tersebut sebagai orang Jepang, sudah sangat keras sekali. Bagi warga Jepang mereka langsung menyatakan, “Banzai!” atau “Hidup Jepang!” mengacungkan jempol bagi PM Jepang Abe yang berani mengatakan demikian. Nasionalisme benar-benar bangkit kembali dengan kuat setelah Abe menjadi PM Jepang.
 
Keprihatinan (kalau tak mau disebut kebencian) orang Jepang kepada China, khususnya dari kalangan pengusaha Jepang sebesar 25,5 persen berdasarkan hasil survei yang dilakukan koran besar Nikkei akhir tahun lalu.
 
Di bidang pariwisata Jepang, akhir tahun lalu jumlah wisatawan China yang ke Jepang berkurang sekitar 60-70 persen dibandingkan waktu yang sama tahun 2011. Pengurangan wisatawan China yang luar biasa, dan dapat dikatakan sebagai tanda kebencian China kepada Jepang. Atau ketakutan orang China dianggap penghianat oleh teman-temannya barangkali apabila datang ke Jepang. Demikian pula bisnis perusahaan Jepang di China langsung turun sedikitnya 20 persen, warga China boikot tak mau beli produk Jepang terutama mobil Jepang.
 
Benar-benar parah hubungan kedua negara ini. Bahkan lebih parah lagi pesawat jet China sudah dikerahkan menuju kepulauan Senkaku. F-15 Jepang juga diarahkan ke sana untuk menjaga kedaulatan kepulauan Senkaku. Lalu kapal induk China pun sudah mengarah pula ke arah kepulauan sengketa tersebut. Belum lagi kapal-kapal China yang pura-pura menjadi penangkap ikan atau disebutkan juga ingin melakukan survei pemetaan geografi, seringkali sudah menuju kepulauan Senkaku yang jelas-jelas milik Jepang.
 
Ketegangan yang luar biasa ini juga terlihat dari peningkatan anggaran militer Jepang 210 miliar yen sehingga total anggaran militer pertahanan Jepang tahun fiskal 2012 (berakhir 31 Maret 2013) menjadi 4,7 triliun yen. Angka yang melonjak sangat besar sekali untuk pertahanan Jepang. Tentu saja Jepang melihat sebagai upaya pembelaan diri dari ancaman asing.
 
Kemudian saat ini Jepang melakukan dua kali latihan perang berturut-turut dalam janga waktu dekat. Dalam sejarah latihan perang Jepang tak pernah terjadi hal ini dilakukan dalam waktu berdekatan.
 
Kemarin 15/1 Jepang dan Amerika Serikat mulai menggelar latihan perang udara bersama di perairan Samudra Pasifik, yang melibatkan empat pesawat tempur F-4 milik Pasukan Bela Diri Udara Jepang dan enam pesawat tempur F/A-18 milik AS, berlangsung hingga Jumat.

Latihan tersebut digelar hanya sehari setelah Pasukan Bela Diri Darat Jepang menggelar latihan militer dengan skenario ”merebut kembali pulau terpencil yang diinvasi pasukan musuh”. Latihan, yang digelar di pangkalan Garnisun Narashino di Chiba, dekat Tokyo, itu melibatkan 300 tentara, 20 pesawat tempur, dan lebih dari 30 kendaraan tempur.

Lalu China dalam waktu dekat juga mengumumkan akan melakukan latihan militer besar-besaran dengan tema seolah datang serangan musuh tiba-tiba.
 
Kedua negara ini, Jepang dan China sudah mulai unjuk kekuatan militer dengan nyata dan jelas. Satu bukti ketegangan mulai memuncak. Apakah memang akan terjadi perang antara kedua negara? Inilah yang menjadi banyak tandatangan di kalangan masyarakat dunia saat ini.
 
Yang pasti, nasionalisme PM Jepang Abe, sangat kuat. Kunjungan ke kuil Meiji, 13 Januari lalu, dilakukan  oleh PM Jepang Abe. Kuil Meiji yang telah  enam tahun tak pernah dikunjungi PM Jepang lainnya karena bercitra mirip kuil Yasukuni, tempat penghormatan korban perang dunia kedua, lambang keberanian para pahlawan Jepang, seringkali mendapat kritik keras dari China dan Korea. Meskipun demikian ajudannya mengatakan, “Abe tidak dalam kapasitas PM Jepang tetapi sebagai pribadi ke kuil tersebut.”
 
Keberanian dan ketegasan PM Jepang Abe menghadapi China tampaknya ingin mengatakan kepada dunia luas, bahwa Jepang biar bagaimana pun punya kebanggaan, punya harga diri, tak bisa seenaknya saja “dimaki-maki” negara lain, apalagi sampai mengakui sebuah kepulauan Jepang milik negara lain.
 
Bahkan Jepang selalu menantang China untuk bersama-sama ke Mahkalah Internasional kalau China penasaran, tetapi selalu ditolak China dengan alasan tidak perlu karena 100 persen itu milik China.
 
Aneh memang. Sesuatu milik kita, kalau kita yakin memang milik kita, rasanya ke sidang pengadilan mana pun, dalam pemikiran wajar, kita tak akan takut menghadapinya, bukan? Tidak dengan menolak ke pengadilan menggunakan seribu satu alasan.
 
Lalu apakah memang China ingin kekerasan perang untuk hanya merebut kepulauan Senkaku yang katanya kaya sekali akan sumber daya alam? Sejak pengumuman Perserikatan Bangsa-bangsa tahun 1969, China langsung “terbangun” dari tidur dan langsung “teriak” itu pulau saya!
 
Mungkin China memang mau perang, tetapi yang pasti Jepang tidak mau perang. Negeri Sakura ini sejak berakhir perang dunia kedua sudah memutuskan tidak akan mempersenjatai diri, terbukti dari Pasal 9 UUD nya yang melarang kemiliteran. Itulah sebabnya pasukannya disebut Pasukan Bela Diri, bukan militer.
 
Jepang ingin damai. Semua permasalahan ingin diselesaikan dengan baik. Itulah sebabnya Jepang selalu mengajak China ke Mahkamah Internasional yang adil dan profesional, berada di tengah-tengah, tidak memihak siapa pun. Kalau pun saja China bersedia bersama Jepang ke Mahkamah Internasional, pastilah masalah ini langsung selesai. Kedua negara pun akan akur dan bersahabat kembali dengan baik.
 
Apabila China menyerang Jepang (ada kemungkinan), Jepang pun rasanya tidak akan membalas. Tetapi masyarakat internasional jelas akan mengutuk China dengan sangat keras karena China memulai tangan besi ke negara tetangganya. Apakah China mau dikucilkan masyarakat internasional?
 
Semua permasalahan ini sebenarnya kembali kepada China sendiri untuk memecahkannya. Tetapi apabila China tetap bersikeras, dan ketegangan semakin parah, dampak yang lebih besar ke berbagai negara akan terjadi. Tidak ada yang diuntungkan dengan ketegangan ini, apalagi kalau sampai terjadi perang. Mungkin sudah saatnya pihak China sadar akan bahaya kacaunya dunia, apabila negeri Naga ini tetap keras kepala.
 
*) Penulis adalah Koordinator Forum Ekonomi Jepang-Indonesia (JIEF), 20 tahun berdomisili di Tokyo.

TRIBUNNERS POPULER


Editor: Widiyabuana Slay
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
2 KOMENTAR
1333051 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
  • Ridwan Untono-Rabu, 23 Januari 2013 Laporkan
    Sejarah china menyebutkan bahwa kepulauan senkaku milik china sejak dulu , hanya saja masuk dalam pengawasan AS saat berakhir PD II. Saat itu china masih porak-poranda akibat penjajahan jepang dan perang saudara , sehingga lupa mengurus kepulauan senkaku.
  • Diar Zala-Senin, 21 Januari 2013 Laporkan
    hebat...
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas