Sabtu, 29 November 2014
Tribunners

Tribunners / Citizen Journalism

Antara Koalisi Demokrat, Gerindra dan “Prabowo Effect”

Minggu, 13 April 2014 00:01 WIB

Antara Koalisi Demokrat, Gerindra dan “Prabowo Effect”
ist
Prabowo dan SBY 

Oleh: Alex Palit

Menurut pengamat politik dari kalangan masyarakat awam yang tidak mau disebutkan namanya, menyebutkan sebagai salah satu alternatif alangkah baiknya jika Partai Demokrat memilih menjalin koalisi dengan Partai Gerindra.

Hal ini dimaksudkan agar di pilpres nanti partai pimpinan SBY ini tidak terpuruk untuk keduakalinya di Pemilu 2014. Pasalnya kalau kedua partai ini menjalin koalisi akan saling mendapat keuntungan secara politis. Ketimbang Partai Demokrat harus berkoalisi dengan partai lain, selain Partai Gerindra.

Dengan mengacu pada pada box tulisan di Harian Kompas (10/4) mengenai sebaran perpindahan suara pemilih Partai Demokrat (2009) ke partai lain (2014), dengan menyebutkan bahwa presentase tertinggi perpindahan suara pemilih Partai Demokrat ke partai lain paling banyak lari alias eksodus ke Partai Gerindra, mencapai 21.3%.

Bisa jadi hal ini dikarenakan banyak kader Partai Demokrat yang masih mendambakan kepemimpinan berlatar militer, SBY – Prabowo sama-sama berlatar militer, atau lantaran kesamaan ideologis, atau justru malah karena “Prabowo Effect”, dimana di sini sosok dan figurisasi Prabowo dianggap merepresentasikan antitesa kepemimpinan SBY.

Lebih lanjut dikatakan oleh pengamat politik tersebut, Prabowo bukan hanya merupakan antitesa kepemimpinan SBY, juga merupakan antitesa kepemimpinan era Orde Reformasi.

Di tengah terjadinya krisis kepemimpinan dan krisis multidimensional lainnya saat ini rakyat Indonesia membutuhkan sosok pemimpin yang tegas dan mimiliki komitmen memerangi korupsi. Dan itu ada dalam diri Prabowo, katanya.

Bahkan pengamat politik tersebut menyebutkan adalah cukup riskan bagi Partai Demokrat jika memaksakan diri merapat berkoalisi dengan partai di luar Gerindra. Apalagi seandainya nanti dalam koalisi tersebut capres yang diusung dianggap kurang sreg di hati kader Partai Demokrat di tingkat grass roots, bisa-bisa dan bukan tidak mungkin di pilpres nanti mereka akan berpaling ke lain hati melirik memilih Prabowo.

Karena seperti tercermin pada sebaran larinya suara Partai Demokrat di pileg secara signifikan dialihkan ke Partai Gerindra. Menurut sang pengamat politik, perpindahan suara pemilih ini tidak lepas dari kuatnya magnet “Prabowo Effect”.

Sudah tentu dalam hal ini Partai Demokrat harus berhitung mengkalkulasi lagi kalau tidak ingin terpuruk keduakalinya di ajang Pemilu 2014 lantaran salah pilih jodoh koalisi di pilpres. Apalagi kalau sampai capresnya tidak sreg di hati nurani kader grass roots, bisa terjadi eksodus perpindahan suara pemilih. Hal ini diperlihatkan dari hasil pemilihan legislatif secara signifikan menunjukkan bahwa “Prabowo Effect” sangat kuat dalam menyedot perpindahan suara pemilih Demokrat.

Kalaupun akhirnya kemudian terjadi koalisi Gerindra – Demokrat. Justru yang jadi pertanyaan sekarang yang tak kalah pentingnya yaitu seandainya Partai Demokrat hendak memajukan cawapresnya, adakah di antara peserta konvensi (pemenangnya) jodoh dan sehati menjadi dwitungal berpasangan dengan Prabowo.

Di sini perlu dibangun komunikasi politik dan konfigurasi untuk menyamakan dan menyatukan persepsi dan visi dalam menyatukan kekuatan antara Partai Gerindra dan Partai Demokrat, antara Prabowo sebagai capres dan pemenang konvensi sebagai cawapres.

Begitu kata sang pengamat politik tersebut dalam analisa kalkulasi politik seputar konfigurasi koalisi antara Partai Demokrat, Partai Gerindra dan “Prabowo Effect”. Kita tunggu amatan dan analisa berikutnya, semoga tokcer dan maknyos!

* Alex Palit, citizen jurnalis “Jaringan Pewarta Independen”.

Editor: Toni Bramantoro
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas