Tribunners / Citizen Journalism

Peran Masyarakat Sipil Penting dalam Pemberantasan Terorisme

Kematian terduga teroris Siyono saat ditahan Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri terus menjadi sorotan publik.

Peran Masyarakat Sipil Penting dalam Pemberantasan Terorisme
(Tribunnews/Abraham Utama)
Editor buku berjudul Menyongsong 2014-2019: Memperkuat Indonesia Dalam Dunia Yang Berubah , Wawan Purwanto dan Muhammad AS Hikam, memberikan keterangan pers di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (20/5/2014). Penerbitan buku ini merupakan hasil kerja sama BINdan LKBN Antara. (Tribunnews/Abraham Utama)

Ditulis oleh : Mohammad Shihab Dosen, Media Relations President University

TRIBUNNERS - Kematian terduga teroris Siyono saat ditahan Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri terus menjadi sorotan publik.

Tindakan aparat yang represif kepada para ‘terduga’ teroris dianggap tidak humanis sehingga cara lain penanganan terorisme dan radikalisme perlu dirumuskan.

Menjadi relevan bagi Fakultas Humaniora President University menyelenggarakan Seminar dan Bedah Buku “Peran Masyarakat Sipil Indonesia Membendung Radikalisme: Deradikalisasi”, karya Dr Muhammad AS Hikam, MA pada 28 April 2016 di Auditorium President University, Cikarang.

Seminar multidisipliner ini menghadirkan para pakar hubungan internasional, komunikasi, dan hukum Prof AA Banyu Perwita (Dosen HI Presuniv), Dindin Dimyati (pakar komunikasi antarbudaya), dan Fennieka Kristianto (praktisi hukum) menjadi pembicara dalam bedah buku ini.

Hikam mengangkat isu radikalisme yang semakin ramai serta peran aktif masyarakat sipil Indonesia (MSI) sebagai kekuatan penting dalam proses deradikalisasi.

Dalam sambutannya, ia menyatakan bahwa pemberantasan terorisme hanya bersifat sementara dan peran masyarakat sipil penting dalam memberantas terorisme.

"Meskipun pendekatan kekuatan keras untuk penegakan hukum telah menunjukkan hasil yang diakui oleh komunitas internasional dan masyarakat Indonesia, tapi juga harus dilengkapi dengan pendekatan lunak (soft power). Hal ini secara khusus dapat dilakukan melalui program deradikalisasi yang dikembangkan dan disosialisasikan secara luas dan inklusif kepada masyarakat sipil,” ungkap Hikam.

Buku Deradikalisasi secara komprehensif menganalisis potensi ancaman yang dihadapi oleh NKRI yang bersumber dari ideologi-ideologi radikal.

Tidak kalah penting, Hikam dalam bukunya juga merekomendasikan upaya penanggulangan radikalisme melalui pendekatan budaya dan peran aktif masyarakat sipil dalam membendung radikalisme.

"Karya Pak Hikam ini sangat relevan dan tepat dengan kondisi Indonesia saat ini, bahkan sangat relevan dengan situasi global. Ketika menangani terorisme, tindakan militer bukanlah satu-satunya cara deradikalisasi. Upaya deradikalisasi adalah instrumen antiterorisme, sementara upaya militer merupakan bentuk perlawanan terhadap terorisme (counter-terorism). Menangkal radikalisme membutuhkan sinergi interdisipliner dari bidang psikologi, budaya, hingga politik. Dan saat ini, peran masyarakat sipil sangat penting untuk mengurangi dampak radikalisme,” kata Banyu, salah satu pembedah buku.

Buku ini memberikan sumbangan pemikiran terhadap penanggulangan radikalisme dan terorisme, khususnya di Indonesia.

Diharapkan, buku ini dapat menjadi rujukan bagi para praktisi, akademisi, dan terutama  Pemerintah yang sedang menghadapi isu-isu radikalisme dan terorisme di Indonesia.

Acara bedah buku ini mengundang berbagai kalangan mulai dari mahasiswa, dosen, praktisi, aparat kepolisian dan TNI, serta perwakilan pemerintah daerah.

Editor: Samuel Febrianto
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help