Blog Tribunners

Indahnya Keberagaman di Indonesia

Indonesia Berduka. Lagi-lagi ada sekelompok oknum yang dengan bangganya meledakan diri dan meneror dengan senjata mereka di kawasan Sarinah, Thamrin,

Indahnya Keberagaman di Indonesia
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Dari kiri, Sekjen PBNU, Helmy Faishal Zaini, Bhiksu YM Dutavira Mahastavira dari Wali Umat Buddha Indonesia (Walubi), Ketua PBNU, Said Aqil Siroj, Pendeta Albertus Patty dari Persekutan Gereja-gereja Indonesia (PGI), dan Romo Edi Purwanto dari Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), saat acara halaqoh Kebangsaan Pancasila Rumah Kita : Perbedaan adalah Rahmat, di kantor PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (26/8/2015). Selain berdiskusi, para tokoh agama ini juga mendeklarasikan seruan perdamaian dan mengedepankan sikap toleransi antar umat beragama di Indonesia. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

Ditulis oleh : Arif Saefudin, Guru SMA Negeri 2 Purbalingga, Alumnus Pascasarjana UNS Solo

TRIBUNNERS - Indonesia Berduka. Lagi-lagi ada sekelompok oknum yang dengan bangganya meledakan diri dan meneror dengan senjata mereka di kawasan Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat.

Perlakuan represif ini merupakan langkah yang naif, karena sikap ini justru merupakan sikap blunder bagi para oknum yang katanya “para pejuang agama” itu.

Padahal didalam Islamn sendiri pembunuhan diharamkan, meski hanya membunuh satu orang yang tidak bersalah maka hal ini bisa diibaratkan membunuh manusia seluruhnya, hal ini bisa kita lihat dalam Qur’an surat Al-Maidah ayat 32.

Kita diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal. Bukannya untuk saling mendominasi satu pihak dengan pihak yang lain.

Kita diuji kedewasaannya karena sikap kita yang termakan oleh sifat egoisme dibandingkan dengan nasionalisme sehingga menciptakan keharmonisn sebagai sebuah bangsa.

Memahami Harmonis

Pelangi indah karena berbeda karena terdiri dari bagian warna yang berbeda, bukan dari satu warna yang sama.

Begitupun dengan harmonis, selama ini kita memahami kata harmonis terlalu sempit, sebagian dari kita berfikir bahwa harmonis selalu tidak ada konflik.

Namun bila dibayangkan keadaan yang tidak ada konflik itu ternyata menimbulkan hilangnya rasa empati antar masyarakatnya. Meskipun mereka hidup dalam satu lingkungan, namun sibuk dengan dunia mereka sendiri.

Konflik akan selalu ada jika masih ada orang yang tidak berfikir secara dewasa. Karena setiap adanya konflik justru mengukur kedewasaan kita, yaitu bisa belajar dari kesalahan, dan membuat bangsa kita menjadi bangsa yang bijaksana dalam menyikapi adanya konflik kedepannya.

Konflik akan muncul karena adanya ketidaksepahaman, dan untuk mengatasi ketidakepahaman itu dibutuhkan rasa kepedulian yang tinggi.

Halaman
123
Penulis: Arif Saefudin
Editor: Samuel Febrianto
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved