Tribunners / Citizen Journalism

Jati Diri Bangsa Cara Ampuh SaringBudaya Asing

Seiring perubahan yang begitu cepat di dunia saat ini, pengaruh budaya asing yang ‘menyerbu’ Indonesia tak bisa terelakan.

Jati Diri Bangsa Cara Ampuh SaringBudaya Asing
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Penari Reog Ponorogo melakukan atraksi di area Car Free Day, Bunderan HI, Jakarta, Minggu (20/3/2016). Aksi kesenian Reog Ponorogo yang merupakan aset budaya nasional kini sedang diproses untuk mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Dunia dari UNESCO. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

Ditulis oleh : Arif Saefudin, Guru Sejarah SMA Negeri 2 Purbalingga

TRIBUNNERS - Seiring perubahan yang begitu cepat di dunia saat ini, pengaruh budaya asing yang ‘menyerbu’ Indonesia tak bisa terelakan.

Semua orang, baik suka atau tidak suka harus menerima kenyataan, bahwa pengaruh buruk dari globalisasi terhadap budaya lokal ibarat virus yang berbahaya.

Hal ini dikarenakan globalisasi merupakan budaya negara-negara maju (Barat) yang pasti memiliki budaya sendiri yang berbeda dengan nilai-nlai lokal dinegara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Bagi kita, sebagai warga negara Indonesia, masuknya nilai-nilai budaya Barat yang “membonceng” arus globalisasi merupakan ancaman yang serius terhadap kebudayaan lokal.

Generasi muda mungkin tidak mengenal kebudayaan ebeg, cowongan, atau lengger, mereka lebih bangga terhadap budaya punk, regge,atau rock yang semakin banyak peminatnya, karena dianggap sebagai cerminan modernitas.

Dalam situasi ini, kesalahan merespon dalam menghadapi arus globalisasi akan mengakibatkan semakin ditinggalkan oleh masyarakat yang semakin gandrung pada budaya yang ke Barat-baratan.

Di era modern saat ini, ujian terbesar yang dihadapi budaya lokal adalah mempertahankan eksistensinya ditengah terpaan serangan-serangan negatif efek dari globalisasi.

Cara-cara untuk memproteksi dan menguatkan budaya lokal harus dilakukan dengan membangkitkan jatidiri kita sebagai sebuah bangsa.

Membangkitkan Jati Diri Bangsa

Kemampuan untuk membangun jati bangsa Indonesia, termasuk mencakup tentang budaya dan bahasa semakin memudar.

Budaya lokal yang lahir dari rahim ibu pertiwi ini semakin sulit ditemukan, sementara itu budaya asing lebih mudah merasuk. Hal ini bisa dilihat dari gaya hidup yang mengarah pada gaya westernisasi.   

Jati diri bangsa sebagai identitas masyarakat Indonesia harus dibangkitkan secara kokoh dan diinternalisasikan.

Bagaimana caranya? Caranya dengan menanamkan nilai-nilai kearifan lokal sejak dini kepada para generasi muda. Pendidikan adalah faktor utama dalam menanamkan nilai-nilai kearifan lokal ini, yaitu dengan memasukan kedalam kurikulum nasional dan dimulai dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Perlu digaris bawah, bahwa nilai-nilai kearifan lokal hingga saat ini masih relevan dengan perkembangan zaman.

Contohnya, dalam dunia internasional ada nilai-nilai tentang demokrasi, lingkungan, keselamatan manusia dan melestarikan lingkungan hidup.

Isu-isu ini dapat bersinergi dengan filosofi budaya orang Jawa, memayu hayuning bawana artinya penyelamatan keseimbangan alam dan lingkungan tempat manusia hidup yang mengajarkan tentang harmonisasi, keselarasan, keseimbangan hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam dalam menjalani hidup sebagai seorang warga negara.

Menurut Suwardi Endraswara dalam bukunya Memayu Hayuning Bawana: Laku Menuju Keselamatan dan Kebahagian Hidup Orang Jawa, falsafah ini dapat direalisasikan dengan hamemasuh memalaning bumi, yang berarti membersihkan tindakan-tindakan yang melanggar hak-hak kehidupan makhluk hidup.

Membersihkan dari memalaning Bumi yang berbicara tentang semua aspek yang membahayakan kehidupan manusia dan alam lingkungan sekitarnya.

Sedangkan kreatifitas intelegensia Barat bersinergi dengan hangengasah mingising budi, yang berarti terus menerus mempertajam akal budi. Akal budi manusia yang terasah akan selalu menghasilkan hal-hal yang bersifat luhur dan karya-karya nyata demi kemajuan manusia atau bebrayan agung, falsafah ini termasuk juga untuk melindungi dan melestarikan alam sekitar.

Untuk etos kerja bersinergi dengan filosofi sepi ing pamrih rame ing gawe artinya giat bekerja tanpa memikirkan diri sendiri. Semangat untuk tidak bermalas-malasan dan rajin bekerja akan menjadikan Indonesia menjadi negara maju. Oleh karena itu, akan terbangun kondisi damai dalam menjalin hubungan dengan negara-negara lain sehingga tercipta stabilitas keamanan dari tingkat sub regional, regional bahkan di dunia.

Arus globalisasi yang tidak bisa dihindari harus dihadapi dengan antisipasi dengan membangunkan budaya dan penguatan karakter jati diri dan kearifan lokal yang dijadikan sebagai pondasi berpijak dalam menyusun strategi dalam pelestarian budaya.

Kemampuan dan kemauan untuk memperkuat jati diri daerah dapat dilakukan melalui penanaman nilai-nilai budaya dan sejarah bangsa. Oleh karena itu, perlu dilakukan revitalisasi budaya daerah dan penguatan budaya lokal.

Sebagai langkah selanjutnya dalam pembangunan jati diri bangsa melalui revitalisasi budaya lokal dengan pemahaman atas falsafah budaya lokal. Salah satu langkahnya dengan menggunakan bahasa-bahasa lokal dan nasional yang didalamnya terkandung nilai-nilai khas lokal yang memperkuat budaya nasional.

Oleh karena itu, pembenahan dalam pembelajaran bahasa lokal dan bahasa nasional mutlak harus dilakukan. Caranya dengan meningkatkan kualitas pendidikan dan pemangku kebudayaan secara berkelanjutan.

Pendidik dan pemangku budaya mempunyai tugas secara khusus untuk mengembngkan kesenian tradisional. Penggalakan pentas-pentas budaya di berbagai wilayah harus mutlak dilakukan. Penjadwalan rutin kajian budaya dan sarasehan falsafah budaya juga tidak boleh dilupakan.

Tetapi, semua itu tidak akan menimbulkan efek meluas tanpa adanya penggalangan jejaring antar pengembang kebudayaan diberbagai daerah. Jejaring itu juga harus diperkuat oleh peningkatan peran media cetak, elektronik dan visual dalam mempromosikan budaya lokal.

Senjata Media Massa

Kesuksesan budaya asing dalam merasuk kedalam kebudayaan lokal tidak bisa terlepas dari peran kemajuan teknologi dan informasi.

Di era globalisasi ini, siapa pun yang menguasai media memiliki peluang yang sangat besar untuk menguasai peradaban.

Oleh karena itu, salah satu strategi yang harus dijalankan adalah memanfaatkan akses kemajuan teknologi infotmasi dan komunikasi sebagai tempat pelestaraian dan pengembangan nilai-nilai budaya-budaya lokal.

Budaya lokal yang khas dapat menjadi produk yang memiliki daya tarik berupa nilai jual dan nilai tambah yang tinggi apabila disesuaikan dengan perkembangan media komunikasi dan informasi.

Harus ada upaya untuk menjadikan media sebagai alat untuk memasarkan budaya lokal ke seluruh dunia. Jika ini bisa dilakukan, maka daya tarik budaya lokal akan semakin tinggi sehingga dapat berpengaruh pada daya tarik lainnya, termasuk ekonomi dan investasi.

Untuk itu, dibutuhkan media bertaraf nasional (kalau bisa media internasional) yang mampu mengangkat peran kebudayaan lokal dipentas dunia.

Dalam melakukan itu, semua pihak harus dilibatkan. Pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), kelompok masyarakat, pemerhati budaya, akademisi, dan pengusaha harus mensinergikan diri untuk bekerja sama secara konstruktif dalam pengembangan budaya. Mereka yang berjasa besar harus diberikan apresiasi sebagai penghargaan atas dedikasinya, sehingga budaya lokal akan semakin lestari.

Editor: Samuel Febrianto
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved