Tribunners / Citizen Journalism

Kondisi Gunung Botak di Pulau Buru Kian Menyedihkan

kondisi Gunung Botak di Pulau Buru semakin hari kian memprihatinkan. Berdasarkan penelitian...

Kondisi Gunung Botak di Pulau Buru Kian Menyedihkan
youtube
Ilustrasi penambang liar . 

TRIBUNNERS - Gunung Botak di Pulau Buru Maluku, kondisinya semakin memprihatinkan. Lingkungan alamnya kian rusak. Kerusakan ini akibat serbuan ratusan penambang emas mengeruk isi bumi secara ilegal. Lebih parah lagi, para penambang liar menggunakan bahan kimia berbahaya seperti sianida dan mercury.

Akibatnya Gunung Botak semula hijau kini kering kerontang. Ratusan hektare kawasan yang sebelumnya dipenuhi pohon sagu dan kayu putih, kini merangas, gersang dan menghitam. Pohon yang menjadi sumber kehidupan sudang tinggal kenangan. Sejumlah hewan ternak dilaporkan mati setelah makan rumput dekat areal pertambangan. Ancaman juga membayangi anak cucu masyarakat di Pulau Buru.

Yusthinus T Male, dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pattimura, Ambon, yang terlibat dalam penelitian kondisi Gunung Batok mengakui bahayanya merkuri bagi manusia. "Merkuri dan bahan kimia lainnya masuk ke dalam tubuh manusia melalui rantai makanan," paparnya, Senin (30/01).

Penelitian Yusthinus dimulai pada 2012, setahun setelah aktivitas penambangan massif. Penelitian diawali pada sedimen sungai. Mereka menemukan kadar merkuri di sana sudah sangat tinggi, mencapai 9 miligram (mg) per 1 kilogram (kg) lumpur. Padahal, ambang batas merkuri pada sedimen tidak boleh lebih dari 1 mg per 1 kg lumpur. Sampel dari sedimen di tujuh lokasi.

Penelitian dilanjutkan tahun 2014 dengan fokus pada bahan makanan yang meliputi udang, ikan, kerang-kerangan, dan kepiting yang diambil dari Teluk Kayeli, muara sungai yang sudah tercemar. Konsentrasi merkuri pada 30 persen sampel itu pun sudah melampaui batas atas standar nasional yang hanya 0,5 mg per 1 kg sampel. Temuan pada udah lebih dari tiga kali lipat dibandingkan standar, ikan tujuh kali, kerang enam kali, dan kepiting dua kali.

"Kami juga meneliti kandungan merkuri pada tubuh manusia dengan menjadikan rambut sebagai sampel. Hasilnya, pada rambut penduduk di sekitar tempat pengolahan emas, kadar merkuri 18 mg per 1 kg sampel atau lebih tinggi 36 kali dari standar. Ada lima warga dari petambang yang dijadikan sampel. Pada sampel penduduk yang bukan pekerja tamang ditemukan konsentrasi merkuri di atas dua sampai tiga kali standar. Lima penduduk dijadikan sampel," tandasnya.

Sebelum memublikasikan hasil penelitiannya, Yusthinus dan Albert Nanlohy selaku pemimpin tim penelitian sudah melakukan uji banding hasil analisis sampel sama di Australia dengan melibatkan peneliti Australia, Amanda J Reichelt-Brushett, ahli lingkungan terkenal di dunia. “Walaupun hanya dua sampai tiga kali melebihi ambang batas, hal itu sudah berbahaya. Melalui proses biomagnifikasi, yaitu pelipatgandaan konsentrasi merkuri melalui rantai makanan, manusia yang menempati puncak rantai makanan akan menerima dampak akumulasi merkuri,” paparnya.

Merkuri akan menumpuk di otak sehingga menyebabkan kegagalan motorik, seperti tangan tidak bisa bergerak. Gejala awal adalah kesemutan hingga lumpuh total. Khusus untuk wanita hamil atau menyusui, merkuri akan menular ke janin atau bayi sehingga bisa mengakibatkan cacat fisik dan mental. Merkuri bisa menembus plasenta sehingga dikhawatirkan tragedi Minamata di Jepang bakal terulang di Buru.

Data Dinas Pertanian Maluku, pada 2014, dari produksi padi sebanyak 101.836 ton gabah kering giling, 42,33 persen berasal dari Buru. Padahal, banyak area persawahan di Buru menggunakan air dari sungai yang sudah tercemar itu.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Krisis Kesehatan Dinas Kesehatan Maluku Ritha Tahitu ketika itu juga mengemukakan temuan merkuri yang melebihi ambang batas di sejumlah lokasi, seperti Teluk Kayeli, tempat pemandian umum di Anahoni, serta sumur bor di Desa Wamsait dan Desa Kayeli. Tahun 2014, memang menjadi puncak penyerbuan penambang emas ilegal di Gunung Botak. Diperkirakan jumlah penambang mencapai 60 ribu orang.

Halaman
12
Editor: Malvyandie Haryadi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help