Tribunners / Citizen Journalism

Pilgub DKI Jakarta

Tentang Video ''Keberagaman Ahok-Djarot''

Video kampanye Keberagaman versi Ahok-Djarot di bagian awal menampilkan kerumunan orang yang sedang marah dan menggedor-gedor mobil.

Tentang Video ''Keberagaman Ahok-Djarot''
Youtube/Facebook Basuki Tjahaja Purnama
Video keberagaman Ahok-Djarot yang menuai kontroversi. 

Oleh: Zaenal A Budiyono
Pengajar FISIP Universitas Al Azhar Indonesia

TRIBUNNEWS.COM - Video kampanye Keberagaman versi Ahok-Djarot di bagian awal menampilkan kerumunan orang yang sedang marah dan menggedor-gedor mobil. Secara sengaja camera men-shoot “para pelaku” yang sebagian menggunakan pakaian dan atribut-atribut keagamaan yang diidentikkan dengan kelompok muslim.

Karena ini video kampanye, maka hampir pasti isinya disetujui oleh Timses dan pasangan kandidat. Oleh karenanya mereka harus menjelaskan ke publik secara resmi, apa pesan yang ingin disampaikan dari video “provokatif” tersebut.

Sejauh ini pendukung Ahok tidak ada yang meminta maaf, namun justru menganggap video tersebut sebagai “realitas di masyarakat”.

Tentu penilaian semacam ini bertolak-belakang dengan realitas yang terjadi di masyarakat, khususnya umat Islam di Jakarta.

Aksi 411 dan 212 yang diklaim sebagai aksi terbesar dalam sejarah republik Indonesia, bahkan oleh pihak keamanan dianggap sebagai aksi damai. Tak ada korban, tak ada caci-maki, tak ada diskriminasi.

Bahkan pasangan agama lain yang tengah melakukan pernikahan, dikawal oleh umat Islam. Maka video keberagaman versi Ahok terkesan menegasikan “realitas di masyarakat” yang mereka klaim. Jelas video ini jauh dari realitas masyarakat Jakarta itu sendiri.

Bila ditarik ke ruang yang lebih luas, konteks negara, video ini juga tidak memiliki basis sejarah yang kuat. Menuduh umat Islam sebagai pembuat onar sama sekali tidak berdasar kalau tidak mau disebut sebagai halusinasi. Mungkin pembuat video ini kurang riset, atau punya tujuan tertentu.

Justru sebaliknya, dalam perspektif yang lebih luas, umat Islam Indonesia lah yang menjadi benteng keberagaman sekaligus mengawal konsolidasi demokrasi. Dan hal tersebut mendapat pengakuan dari dunia dengan rutin digelarnya Bali Democracy Forum (BDF) sejak 2008 hingga saat ini, yang pesertanya setiap tahun terus meningkat.

Bahkan juga melibatkan pemimpin-pemimpin negara. Diakui oleh mereka BDF turut mempengaruhi pembangunan demokrasi di negara-negara berkembang.

Yang harus dicatat bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim, dengan demikian demokrasi bisa mekar (termasuk keberagaman terjaga) salah satunya karena dukungan umat Islam terhadap nilai-nilai kebangsaan dan keberagaman.

Editor: Hasanudin Aco
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help