Tribunners / Citizen Journalism

Lubang Pembantaian Banyuwangi Melawan Lupa

Puncak konflik menjadj berdarah-darah. Terjadi pada pasca G30S/PKI. Pemberontakan gagal itu diikuti pembersihan PKI di berbagai daerah.

Lubang Pembantaian Banyuwangi Melawan Lupa
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN

Oleh: Tawali Datuganggas
Aktivis Forum Pancasila Banyuwangi

TRIBUNNEWS.COM - Dulu, pada suatu masa, Bung Karno gegap gempita dengan gagasannya membangun aliansi Nasionalis, Agama dan Komunis (Nasakom). Namun di tingkat lokal gagasan itu tidak selalu bisa berjalan mulus.

Ketika itu di Banyuwangi NU dan PNI di satu pihak berseteru dengan PKI di lain pihak. Makin memanas lantaran PKI menunggangi momentun kompetisi politik pemilihan Bupati Banyuwangi sebagai mesin konflik.

Puncak konflik menjadj berdarah-darah. Terjadi pada pasca G30S/PKI. Pemberontakan gagal itu diikuti pembersihan PKI di berbagai daerah.

PKI Banyuwangi unjuk kekuatan: membantai Pemuda Ansor Kecamatan Muncar.

Awalnya mereka diundang pengajian oleh PKI yang menyamar sebagai Pemuda Ansor kecamatan Gambiran di desa Karangasem (sekarang desa Yosomulyo). Kedatangan mereka disambut dan dijamu Gerwani yang menyamar sebagai Fatayat.

Ternyata makanan dan minuman yang disuguhkan sudah dicampuri racun. Usai makan para Ansor lunglai tak berdaya. Saat itulah mereka dibantai PKI. Tercatat 93 orang Pemuda Ansor tewas. Mayatnya ditumpuk dalam lubang yang memang sudah digali sebelumnya.

Tragedi berikutnya terjadi 18 Oktober 1965 di dusun Cemethuk, desa Cluring, kecamatan Cluring, Banyuwangi.

Tercatat 62 orang Pemuda Ansor dibunuh PKI dan mayatnya dikuburkan dalam lubang-lubang yang sengaja sudah dipersiapkan. Di lubang maut Cemethuk ini sekarang berdiri Monumen Pancasila Jaya.

Jangan pernah membiarkan fakta sejarah ini ikut terkubur di lubang-lubang pembantaian Banyuwangi.
Ingat-ingatlah !!!

Agar pengorbanan nyawa ratusan syuhada Banyuwangi itu tidak sia-sia belaka.

Waspada, PKI di sekitar kita bisa menunggang apapun, ternasuk demo masyarakat maupun sidang pengadilan, untuk menebar konflik dan membakar amarah warga.

Editor: Hasanudin Aco
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help