Tribunners / Citizen Journalism

Ote Abadi Ciptakan Lagu Untuk Negeri “Damailah Damai”

Bagi fans Leo Kristi pastilah tidak asing lagi dengan sosok Ote Abadi. Pria kelahiran Palu – Sulawesi Tengah, 17 Mei 1958

Ote Abadi Ciptakan Lagu Untuk Negeri “Damailah Damai”
foto: alex palit
Ote Abadi 

Oleh: Alex Palit

Bagi fans Leo Kristi pastilah tidak asing lagi dengan sosok Ote Abadi. Pria kelahiran Palu – Sulawesi Tengah, 17 Mei 1958, namanya pernah tercatat sebagai anggota Konser Rakyat Leo Kristi (1983 – 2006). Dalam berbagai kesempatan Ote masih sering diajak manggung Leo Kristi.

Selain pernah gabung di Konser Rakyat Leo Kristi, dalam kiprahnya di panggung musik Ote juga pernah merilis dua album Di Balik Terali (1989) dan Cinta Terlarang (1995). Saat ini Ote juga gabung dengan musisi-musisi seperti Jelly Tobing membawakan lagu-lagu grup band legendaris The Mercy’s dalam bendera The New Mercy’s.

Sabtu malam (4/11/2017), saya kedatangan tamu Ote Abadi. Cukup lama kita tak bersua, paling-paling kita saling sapa di media sosial. Dalam silahturahmi ini banyak hal yang kita obrolkan dari Leo Kristi sampai menyinggung perkembangan situasi politik yang ada.  

Dalam obrolan itu, Ote pun sempat menyenandungkan lagu Leo Kristi berjudul “Jabat Tangan Erat-Erat Saudaraku” dan “Nyanyian Tambur Jalan Komedi Badut Pasar” 

Dalam obrolan saling tukar pikiran ini Ote mengungkapkan keprihatinannya atas iklim politik yang menurutnya sudah menjurus ke disintegrasi.

Keprihatinan itu antara lain dengan terus merebaknya penebaran politisasi isu-isu bernada sentimen primodialisme kesukuaan dan keagamaan bertendensi SARA.

Dari obrolan itu, akhirnya Ote pun buka cerita. Sebagai wujud atas keprihatinannya itu, menginspirasinya bikin lagu bertemakan kebangsaan yang ia beri judul “Damailah Damai”. “Sebagai musisi dan pencipta lagu, kita hanya bisa bicara dalam bahasa lagu,” kata suami Lilis Hizrani.  

Dikatakan, lewat nyanyian “Damailah Damai”, Ote mengajak anak bangsa dan semua komponen bangsa untuk tidak terus larut terprovokasi dalam pertikaian yang sengaja ditebarkan dengan penggunaan isu-ise sentimen promodialisme kesukuaan dan keagamaan bertendensi SARA yang mengancam disintegrasi bangsa.

Lewat nyanyian “Damailah Damai”, Ote juga berharap lagu ini menjadi penyemangat dan peneguh kembali warisan nilai-nilai momentum historis yang dideklarasikan di Sumpah Pemuda – 28 Oktober 1928 yaitu bertanah air dan berbangsa satu Indonesia untuk senantiasa kita jaga dan rawat.

“Lewat nyanyian, lewat bahasa musik dan lagu, hanya itu yang bisa kita perbuat,” ujar Ote Abadi yang juga berharap lagu ini dapat mendapat apresiasi secara positif demi Indonesia damai, sambil kemudian menyenandung bait coda lagu “Damailah Damai”

* Alex Palit, citizen jurnalis Jaringan Pewarta Independen “Anti Hoax”, admin Forum Apresiasi Musik Indonesia (Formasi)

Editor: Toni Bramantoro
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help