Tribunners / Citizen Journalism

Kredibilitas Partai dan Wabah Korupsi

Kritik bagi pemimpin “sok kuasa” seringkali dimaknai sebagai perlawanan, padahal, jika sehat berpikir, justru kader kritislah jauh.

Kredibilitas Partai dan Wabah Korupsi
KOMPAS/PRIYOMBODO
Ilustrasi 

Dosen Hukum Tata Negara UIN Alauddin Makassar 
Direktur Eksekutif Jenggala Center

TRIBUNNERS - Partai kredibel bukan soal gampang tetapi juga tidak susah, sejauh pimpinan partai dan seluruh jajarannya bisa bersepakat satunya kata dengan perbuatan diiringi upaya kuat mewujudkan janji-janji politknya kepada rakyat dan memenuhinya.

Syamsuddin Radjab
Syamsuddin Radjab (Istimewa)

Dalam perspektif budaya, orang Bugis-Makassar menyebutnya dalam konsep “taro ada’, taro gau” (satunya kata dengan perbuatan), atau orang Jawa menyindirnya dengan bahasa, “Kakehan gludhug kurang udan” (banyak bicara tidak ada kenyataan/bukti) dan pelbagai ungkapan local wisdom daerah dan budaya lainnya yang bermakna sama yang menandakan betapa nilai-nilai budaya kita mengajarkan seorang pemimpin ucapannya dapat dipercaya dan perbuatannya dapat dibuktikan.

Neumann (1963) menegaskan bahwa Partai Politik adalah organisasi yang berebut dukungan rakyat melalui persaingan (pemilu) dengan suatu golongan atau golongan lain yang mempunyai pandangan berbeda.

Baca: Gang Sempit di Sukmajaya Depok Dipenuhi Lukisan

Untuk mengatur persaingan itu, di Indonesia kemudian diatur dalam norma hukum perundangan, UU No. 2 Tahun 2011 tentang perubahan atas UU No. 2 tahun 2008 tentang Partai Politik.

Sebagai wadah perjuangan yang berkesinambungan, maka kaderisasi menjadi jantung keberlanjutan Partai Politik dengan tetap mendidik, membina, mengkader guna menghasilkan calon pemimpin yang memiliki kemampuan dibidang politik untuk mengelola kekuasaan pemerintahan dikemudian hari.

Hal itu berbanding terbalik dengan kondisi partai kita belakangan ini, partai lebih banyak dipimpin golongan tua (gerontokrasi) dan mengabaikan kaderisasi internal.

Bahkan beberapa partai dijabat oleh orang yang dulu sebagai dewan pimbina lalu turun tahta menjadi ketua umum karena ingin menguasai dan mengendalikannya secara langsung.

Partai yang tidak memberi ruang bagi generasi muda, yang memiliki sikap kepemimpinan dan kapasitas, berintegritas dan memiliki visi jauh kedepan akan ditinggal tua dan lambat laun akan layu tak dihiraukan para pemilih, apalagi pemilih dikalangan kaum muda yang jumlahnya sekitar 40an juta.

Halaman
1234
Editor: Malvyandie Haryadi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help