Blog Tribunners

Terbangkan Cita-citamu Nak Setinggi Langit

Dengan tatapan mata tajam dan mimik muka serius, Marsya (10) menerbangkan pesawat mini ke udara. Melalui kerja sama yang apik dengan sang ibu, ia meny

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - ”Berikan aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia."

Kepercayaan sang proklamator, Soekarno, terhadap anak muda itu seakan direfleksikan para generasi mungil Sutera Mansion, sebuah perumahan kluster di bilangan Pamulang, Tangerang Selatan.

Dengan tatapan mata tajam dan mimik muka serius, Marsya (10) menerbangkan pesawat mini ke udara. Melalui kerja sama yang apik dengan sang ibu, ia menyulap secarik kertas putih polos menjadi pesawat dengan moncong yang lancip.

Tidak kalah tangkas, Vira (7) mengayunkan tangan kanannya dengan penuh keyakinan. Ia menerbangkan pesawat yang dinamai Srikandi. Angin yang bertiup sepoi seakan meningkahi pesawat itu. ”Saya ingin menerbangkan pesawat ini setinggi-tingginya. Saya ingin jadi pilot,” ujar Vira, Sabtu (18/8/2018).

Ajang Lomba Menerbangkan Pesawat dalam perhelatan Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-73 di Kluster Sutera Mansion, RT 008/RW 009, Jalan Inpres, Kelurahan Benda Baru, Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten, itu diselenggarakan untuk mengasah kecerdasan anak-anak dalam membuat sebuah kerajinan tangan berupa pesawat terbang dari bahan kertas. Selain itu, tujuan perlombaan itu untuk menciptakan kecerdikan anak-anak dalam memenangi kompetisi dan tentu saja bergembira bersama.

Panitia tujuh belasan memahami bahwa cara mengisi kemerdekaan di antaranya dengan memfasilitasi anak-anak dan para remaja untuk mengaktualisasikan bakat dan minat sekaligus membentuk karakter baik.

Dalam kesempatan ini, izinkan penulis sekadar menceritakan sedikit tentang Kluster Sutera Mansion. Perumahan dengan sistem ”one gate” ini berdiri di atas lahan bekas kebun seluas lebih kurang 1,5 hektar.

Dikelola oleh Pengembang PT Dwijaya Propertindo, proyek properti itu sukses menangkup untung dengan menjual total 76 unit dalam waktu tidak sampai satu tahun. Perumahan ini bertetangga dengan Perumahan Vila Dago dan Wellington.

Penghuni dimanjakan oleh berbagai fasilitas di sekeliling. Sungguh mudah untuk menjangkau fasilitas pendidikan, kesehatan, kuliner, rekreasi dan sebagainya di lingkungan ini.

Ada beragam sekolah dari level taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Ada berbagai sarana kesehatan dari puskesmas hingga rumah sakit umum dan rumah sakit khusus ibu dan anak. Ada puluhan sarana pertokoan hingga kuliner dari level kaki lima hingga bintang berkelas. Bahkan, diproyeksikan Pamulang 2, letak perumahan Mansion, menjadi sentra kesibukan Tangerang Selatan karena pemerintahan Kota Tangerang Selatan ada di wilayah ini. Pun sungguh tidak jauh menjangkau akses kereta rel listrik dan akses pintu masuk tol.

Warga Mansion yang beragam sangat nyaman tinggal di kompleks ini selama lebih kurang enam tahun terakhir. Moto kerja sama dalam persamaan dan toleransi dalam perbedaan selalu menjadi semboyan hidup bersama.

Beragam profesi digeluti oleh penghuninya. Ada warga yang mengabdi sebagai aparatur sipil negara. Ada pula penghuni yang menekuni profesi pekerja swasta, pengusaha. Lengkap rasanya kapasitas warga Mansion karena ada yang menjadi ustadz, dosen, guru, tenaga kesehatan, dan beberapa profesi mulia lainnya.

Dengan beragamnya kapasitas para penghuninya tersebut, tidak butuh waktu lama, Kompleks Mansion bisa mendirikan mushala bernama Al Harier dan membuat pusat olahraga berupa lapangan basket, lapangan voli, dan sarana olahraga lainnya. Tentu saja sarana yang dikerjakan swadaya tersebut karena kegigihan penghuninya dan peran serta dari Pemerintah Kota Tangerang Selatan dan segenap dermawan yang mulia.

Dalam kesempatan rekleksi HUT Kemerdekaan dan 6 tahun lahirnya perumahan Sutera Mansion, beberapa tokoh Sutera Mansion berkesempatan memberikan testimoni pesan kemerdekaan dalam berbagai perspektif, yang ditujukan bagi penghuni Perumahan Sutera Mansion pada khususnya dan sidang pembaca pada umumnya.

Ismojo ST, MT, pengajar pada Program Studi Teknik Mesin Otomotif Diploma III  Institut Tenologi Indonesia (ITI), salah satu penghuni Perumahan Sutera Mansion yang tinggal di Blok B, mengemukakan, ”Penguasaan ilmu pendidikan dan teknologi bagi generasi muda saat ini sangat dibutuhkan agar kita bisa bersaing dengan negara-negara maju, seperti Jepang dan Korea Selatan.”

Oleh karena itu, generasi muda diharapkan dapat mengisi kemerdekaan ini dengan cara meniru bahkan menciptakan ilmu pendidikan dan teknologi yang lebih baik daripada negara maju dengan tetap mempertahankan budaya Indonesia sebagai bangsa yang beradab.

”Oleh karena itu, kita akan menjadi bangga sebagai generasi muda bangsa Indonesia yang bermartabat dan mengangkat bangsanya di mata dunia,” katanya menambahkan.

Menurut Arif Afwan Taufani, SE. M.Si, Kepala Seksi Pelayanan Perizinan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Tangerang Selatan, yang tinggal di Blok A1, makna kemerdekaan, khususnya bagi aparatur sipil negara, adalah bagaimana berusaha mengekspresikan serta mengimplementasikan seluruh ruang dimensi  sosial secara humanistis dan agamais, yang tentunya semoga bisa bernilai manfaat bagi seluruh elemen masyarakat.

”Bangsa yang besar bukan karena luas dan kayanya bangsa tersebut, melainkan karena penghuninya memiliki potensi jiwa yang ingin mengemas, membangun, dan mengembangkan bangsanya untuk kemakmuran rakyatnya. Tentunya dengan tujuan ibadah dan hubungan baik kepada sesama sebagai bekal untuk yang kekal,” tuturnya.

Penghuni Blok B, Ustadz Joni, LC, menuturkan, ”Dalam rangka HUT Ke-73 Republik Indonesia, mari wujudkan arti merdeka dalam kehidupan nyata. Anak-anak yang masih dalam usia menggemaskan, menyenangkan orantuanya, yang masih kecil mungil, lambat laun bertambah usia, yang kelak di masa yang akan mendatang menjadi pelukis sejarah.”

Peran orangtua, lanjutnya, sangat menentukan nasib para pelukis sejarah. Ketika orangtua waspada dan selalu mempersiapkan fisik dan mental si buah hatinya, maka insya Allah akan terukir sejarah itu dengan indah.

Akan tetapi, ujarnya, jika sebaliknya, apabila orangtua tidak memperhatikannya, maka akan rusaklah generasi bangsa ini. ”Mari kita sebagai orangtua mengambil peran ini dengan sebaik-baiknya,” ucapnya.

Joko Santoso, Ketua RT 008/RW 009 Sutera Mansion, mengapresiasi keseriusan panitia tujuh belasan dalam menjalankan tugasnya. ”Malam puncak yang begitu khidmat dan mengesankan.

Semoga kerukunan, kebahagiaan, perilaku saling menolong dan toleransi, serta rasa nyaman senantiasa hadir di dalam rumah masing-masing warga hingga di kompleks kita secara umum,” ujarnya. Ketua rukun tetangga petahana yang telah menjabat selama dua periode itu berkesempatan mendendangkan lagu ”Sayang” yang dipopulerkan oleh penyanyi Via Vallen. Ia berduet dengan Bu RT, sang istri tercinta.

Shiddiq Sugiono, Ketua Panitia 17 Agustus Sutera Mansion, mengutarakan tujuan lomba-lomba dalam peringatan kemerdekaan 2018 ini.

”Di zaman now, kita sebagai orangtua mempunyai PR besar dalam membina anak-anak dalam meningkatkan nasionalisme. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengingatkan kembali para generasi muda, dalam hal ini anak-anak di kompleks Sutera Mansion, tentang perjuangan para pahlawan Indonesia dalam memperoleh kemerdekaan. Lomba-lomba yang digelar tidak hanya ditujukan buat anak-anak, tetapi juga bapak-bapak dan ibu-ibu. Dengan ini, kami berharap agar rasa persaudaraan dan solidaritas warga tetap terjaga,” paparnya.

Dalam perayaan HUT RI yang dihelat pada tanggal 11, 12, 17, dan 18 Agustus 2018, beragam lomba diadakan di Kluster Sutera Mansion, baik untuk anak-anak, para remaja, kaum ibu-ibu hingga bapak-bapak. Ada pertandinga bulu tangkis, catur, pimpong, gaple. Ada pula perlombaan memasukkan paku ke dalam botol, makan kerupuk, menerbangkan pesawat, memasukkan benang ke dalam jarum, tiup balon, memindahkan bola ke dalam botol, sepeda hias, dan menerbangkan pesawat kertas.

Hingga akhirnya, pesawat Marsya, putri Bapak Johanes, pengoleksi Vespa antik meliuk-liuk di ketinggian langit biru Mansion. Tak kalah lincah, pesawat putri sulung Rajab Aa Kasep, Vira, bermanuver seolah ingin menembus lazuardi setinggi-tingginya. Pesawat mereka beradu dengan pesawat-pesawat anak-anak Mansion lainnya yang melayang-layang tinggi di langit Pamulang. Iya, setinggi cita-cita mereka untuk memberikan yang terbaik buat keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Di tangan kalianlah, Nak, masa depan Indonesia semoga akan damai, bahagia, dan sentosa serta dalam menjaga Indonesia yang gemah ripah loh jinawi ini.

Penulis: Didik Durianto
Editor: Samuel Febrianto
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved