Tribunners / Citizen Journalism

Kecanduan Impor Pangan yang Mematikan

Sayangnya, uang itu justru mengalir ke petani negara lain karena impor yang ugal-ugalan,” kata ekonom senior Rizal Ramli, kepada wartawan

Kecanduan Impor Pangan yang Mematikan
ISTIMEWA
Edy Mulyadi

Oleh Edy Mulyadi
Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-“Bayangkan, kalau uang impor produk pangan yang Rp24 triliun dipompakan ke dalam negeri. Pasti petani dan petambak garam kita akan sejahtera.

Sayangnya, uang itu justru mengalir ke petani negara lain karena impor yang ugal-ugalan,” kata ekonom senior Rizal Ramli, kepada wartawan di KPK, Selasa pagi (23 Oktober).

Mantan Menko Ekuin dan Menkeu era Presiden Gus Dur ini datang ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk melaporkan dugaan tindak korupsi pada kebijakan impor pangan. Ditemani sejumlah pengacara, dia membawa hasil laporan audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan sejumlah materi lainnya.
Di KPK Rizal Ramli diterima Komisioner KPK Basaria Panjaitan, Direktur Litbang KPK, Direktur Penindakan KPK dan sejumlah staf lain.

Baca: Bawa Bukti Audit BPK ke KPK, Ini 8 Dugaan Rizal Ramli Terkait Adanya Kasus Korupsi Impor Pangan

Angka Rp24 triliun yang dimaksudkan Rizal Ramli itu adalah devisa yang mengalir ke luar negeri karena impor beras, gula, dan garam.

Jumlah itu belum termasuk nilai impor daging sapi dan bawang putih. Sejatinya, angka yang disebut lelaki yang sejak mahasiswa dikenal gigih menyuarakan ekonomi kerakyatan itu sangat konservatif. Jika dihitung ulang, jumlahnya bisa dua kali kali lipat lebih besar.

Contohnya, impor bawang putih dari Cina yang 556.000 ton pada harga Rp4.500/kg plus ongkos kirim Rp3.000/kg, maka angkanya mencapai Rp4,17 triliun. Sedangkan devisa yang terpakai untuk impor beras asal Thailand dan Vietnam sebanyak 2 juta ton, mencapai Rp17,88 triliun.

Baca: Maruf Amin Sebut Esemka Bakal Diproduksi Massal, Pemerhati Otomotif: Agak Aneh, Tiba-tiba Surprise

Begitu juga dengan impor gula sebanyak 1,1 juta ton membuat devisa yang terbang ke luar negeri sebesar Rp8,66 triliun. Sementara impor daging sapi yang 223.000 ton, nilainya mencapai Rp14,33 triliun. Dengan demkian, total devisa yang terkuras untuk impor empat produk pangan tadi mencapai sekitar Rp45 triliun.

Rugikan perekonomian negara

KPK selama ini membidik para koruptor dengan pasal2 ayat (1) UU no. 3/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Ancaman hukumannya pidana penjara dengan penjara seumur hidup atau paling singkat empat tahun dan paling lama 20 tahun. Ancaman lainnya berupa denda minimal Rp200 juta dan maksimal Rp1 miliar.

Badan antirasuah itu dan aparat penegak hukum selama ini fokus pada aspek merugikan keuangan negara. Sementara aspek merugikan perekonomian negara relatif belum tersentuh. Padahal dampak yang diakibatkan atas terjadinya tindakan yang merugikan perekonomian negara jauh lebih besar dibandingkan ‘sekadar’ merugikan keuangan negara.

Baca: Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh Dilaporkan Rizal Ramli ke Bareskrim

Halaman
123
Editor: Rachmat Hidayat
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved