Tribunners / Citizen Journalism

Pemilu 2019 dalam Kondisi “Darurat”

High cost politics (politik berbiaya tinggi) dalam pemilu menjadi pemicu tingginya angka korupsi di legislatif dan eksekutif.

Pemilu 2019 dalam Kondisi “Darurat”
Ist/Tribunnews.com
Drs H Sumaryoto Padmodiningrat MM.

Oleh: Sumaryoto Padmodiningrat

TRIBUNNEWS.COM - Pemilu 2019, yang akan digelar bersamaan antara Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Umum Presiden (Pilpres), sehingga disinyalir sebagai pemilu paling rumit di dunia, dalam kondisi serba “darurat”, mulai darurat korupsi, darurat narkoba, darurat hoax, darurat hate speech, hingga darurat sumber daya calon anggota legislatif (caleg). Betapa tidak?

Data Indonesia Corruption Watch (ICW), angka penindakan korupsi pada semester I/2018 mencapai 139 kasus dengan 351 orang tersangka. Kerugian negara yang timbul mencapai Rp 1,09 triliun dan nilai suap Rp 42,1 miliar. Modusnya, antara lain, penyalahgunaan wewenang, mark up, suap, pungutan liar, penggelapan, dan laporan fiktif.

Data Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sebanyak 75 bupati/walikota plus 18 gubernur, atau total 93 kepala daerah, terjerat korupsi. Ini belum termasuk kasus-kasus terbaru, serta kasus-kasus korupsi yang ditangani kepolisian dan kejaksaan.

KPK juga mencatat 61 anggota DPR RI dan DPRD telah menjadi tersangka korupsi sepanjang Januari-Mei 2018. Korupsi pun dilakukan secara berjamaah, seperti di DPRD Kota Malang, Jawa Timur, dari total 45 anggota, 41 orang ditangkap KPK. Sebanyak 38 anggota DPRD Sumatera Utara periode 2009-2014 juga menjadi tersangka suap.

High cost politics (politik berbiaya tinggi) dalam pemilu menjadi pemicu tingginya angka korupsi di legislatif dan eksekutif. KPK kemudian merekomendasikan agar parpol dibiayai negara.

Sementara itu, jumlah pecandu narkoba di Indonesia yang terpantau Badan Narkotika Nasional (BNN) mencapai 5 juta orang. Sebanyak 50 orang di Indonesia setiap hari tewas karena narkoba. Data Bea dan Cukai, Januari-Juni 2018 ada 205 kasus narkoba dengan penindakan barang bukti seberat 3,629 ton yang masuk ke Indonesia.

Ironisnya, kasus narkoba juga melibatkan pejabat negara, baik di eksekutif, legislatif maupun yudikatif, seperti Bupati Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Ahmad Wazir Nofiadi Marwadi, yang ditangkap BNN medio April 2018 karena positif narkoba jenis sabu; dan Ibrahim Hasan, anggota DPRD Kabupaten Langkat, Sumut, yang ditangkap BNN, 21 Agustus 2018, dengan barang bukti sabu seberat 105 kg dan ekstasi 30 ribu butir.

Banyak pula oknum polisi dan tentara yang terlibat narkoba. Sebagai public figure,mestinya mereka menjadi teladan.

Seperti menjelang Pileg/Pilpres 2014, hoax atau berita palsu juga bertebaran menjelang Pileg/Pilpres 2019 ini. Data Kementerian Komonukasi dan Informatika, ada sekitar 800.000 situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar hoax.

Halaman
123
Editor: Hasanudin Aco
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved