Tribunners / Citizen Journalism

Trump, Tembok Perbatasan dan Krisis Politik Amerika Serikat

Kebijakan penutupan kantor pemerintah oleh Presiden Trump ini bukan saja berdampak di dalam negeri AS, tetapi juga di luar negeri.

Trump, Tembok Perbatasan dan Krisis Politik Amerika Serikat
NET
AS Hikam

Oleh AS Hikam
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-Normalnya, Pemerintah sebuah Negara berusaha agar ia bisa bekerja secara optimal untuk melayani rakyatnya. Di Amerika Serikat (AS), Presiden Trump justru menutup sebagian kantor pemerintah federal tanpa ada kepastian kapan dibuka kembali.

Implikasi langsung dari kebijakan ini adalah sekitar 800 ribu pegawai Federal harus "dirumahkan" (furloughed) atau harus tetap bekerja tanpa gaji, yang pada gilirannya berakibat tergangggunya pelayanan publik dan disfungsi institusi pemerintahan.

Dampak ekonomi, sosial, dan politik kebijakan absurd ini pasti sangat serius bagi rakyat AS dan, bukan tidak mungkin, berimbas kepada negara-negara lain. Bagaimanapun juga AS adalah negara yang pengaruhnya sangat besar bagi keseimbangan global.

Kebijakan penutupan kantor pemerintah oleh Presiden Trump ini bukan saja berdampak di dalam negeri AS, tetapi juga di luar negeri.

Baca: Nancy Pelosi, Ketua DPR yang terpilih, dan masalah pendanaan dinding Meksiko usulan Trump

Dengan demikian, terlepas dari fakta bahwa kasus ini adalah merupakan masalah domestik di AS, khususnya pertarungan politik antara Gedung Putih dengan Kongres AS tentang tembok perbatasan, masyarakat internasional juga (suka atau tidak) terlibat dalam dinamika krisis pemerintahan Presiden Trump ini.

Keterkaitan kepentingan masyarakat internasional dengan dinamika politik, ekonomi, dan keamanan negara adikuasa itu berkontribusi terhadap "keterlibatan" itu. Terutama di era globalisasi yang makin mempersamar batas-batas dan memperkuat kesalingtergantungan lintas negara dan masyarakat.

Jika pertarungan internal antara Trump vs Kongres (khususnya fraksi Partai Demokrat) tak segera mencapai penyelesaian, bukan saja krisis tsb akan membahayakan stabilitas politik dalam negeri AS, tetapi juga akan berdampak global.

Sayangnya sampai hari ini (setelah 17 hari penutupan sementara), belum ada tanda-tanda akan berakhirnya kemelut tsb. Bahkan setelah Trump berpidato di Oval Office, yang disiarkan media secara langsung, terkait kebijakan perbatasan, reaksi dari pimpinan Senat dan DPR AS sangat keras dan non-kompromi.

Trump mencoba meyakinkan publik bahwa masalah perbatasan dg Mexico tsb adalah krisis kemanusiaan dan ancaman kamnas bg AS. Bagi Trump, membangun tembok perbatasan adalah "sine qua non" untuk mengatasinya.

Tesis Trump inilah yang sejak awal ditolak keras oleh Partai Demokrat, yang sebaliknya menyatakan bahwa keamanan perbatasan tidak bisa diselesaikan hanya dengan membangun tembok perbatasan.

Fakta yang ada, ancaman terhadap kamnas, termasuk terorisme, narkoba, penyelundupan senjata, dan migran gelap, tidak hanya berlangsung di perbatasan darat, tetapi justru yang paling banyak terjadi melalui pelabuhan udara.

Baca: Siapkan shutdown bertahun-tahun dan berlakukan darurat nasional: Apakah Trump mengancam atau menggertak?

Presiden Trump tak mau mengalah dan berkompromi dengan Partai Demokrat, dan lebih memilih membuat kebijakan yang absurd seperti menutup kantor kantor pemerintah Federal utk menekan lawannya dan memobilisasi dukungan basis massanya.

Kemacetan dan ngotot-ngototan inilah, hemat saya, yang sejatinya telah membuat dan menguatkan krisis politik di AS. Bukan soal ada atau tidaknya tembok perbatasan.

Editor: Rachmat Hidayat
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved