Tribunners / Citizen Journalism

2019 Kenapa Harus Prabowo Notonagoro

Awalnya saya ingin menuliskan artikel ini dengan judul “2019 Ganti Presiden”. Tapi nggak enak, selain nanti dikira nyontek hastag #2019GantiPresiden

2019 Kenapa Harus Prabowo Notonagoro
dok alex palit
Prabowo Subianto 

Oleh: Alex Palit

Awalnya saya ingin menuliskan artikel ini dengan judul “2019 Ganti Presiden”.  Tapi nggak enak, selain nanti dikira nyontek hastag #2019GantiPresiden hak cipta Mardani Ali Sera, juga takut dianggap provokatif dengan hastag ini.

Begitupun ketika saya ingin menuliskan dengan judul “2019 Prabowo Presiden”, nanti takutnya dianggap nyontek hastagnya kubu No.02,#2019PrabowoPresiden. Sementara saya bukan timses Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo–Sandi.

Akhirnya saya pilih judul “2019 Kenapa Harus Prabowo Notonagoro”, karena menurut saya judul ini lebih argumentatif, ketimbang dua judul itu, biar nantinya nggak dianggap ikut-ikutan menyebarkan provokatif.

Sebetulnya dari pilihan judul tulisan “2019 Kenapa Haruas Prabowo Notonagoro” saya hanya ingin menterjemahkan semiotika bahasa tanda dari pernyataan Prabowo; Indonesia akan punah jika dirinya kalah di Pemilu 2019.

Pastinya dengan pernyataan yang cukup menyentak ini Prabowo punya landasan argumentatif, melalui hasil pemikiran yang mendalam, tidak grusa-grusuasbun – asal bunyi atau asal jeplak.

Pastinya apa yang disampaikan Prabowo, bukanlah dimaknai secara harafiah bahwa Indonesia akan mengalami kepunahan sebagaimana cerita “The Lost Atlantis”.

Pernyataan capres No.02 prihal Indonesia akan punah adalah sebuah semiotika yang harus kita baca sebagai bahasa tanda yang harus diterjermahkan secara platis dalam konteks realitas politik hari ini. 

Justru pernyataan capres No.02 ini harus dibaca sebagai isyarat politik, dalam terminologi politik kepunahan Indonesia itu akan bisa terjadi manakala kita menjadi bangsa yang gagal tidak mampu lagi pertahankan dan menjaga kemandirian kita sebagaimana amanat “Trisakti – Bung Karno”.

Sebagaimana sering dilontarkan Prabowo bahwa saat ini demokrasi kita dibajak dan sedang dirusak oleh iklim kleptokrasi - komprador. Sehingga sebagai sebuah bangsa tidak lagi memiliki kedaulatan atau kemandirian “Trisakti” sebagaimana yang diamanatkan founding father Bung Karno, yaitu kedaulatan dan kemandirian politik, ekonomi, dan kebudayaan, lantaran sudah berada dalam cengkeraman kendali kekuatan asing.

Halaman
12
Editor: Toni Bramantoro
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved