Breaking News:
ABC World

Riset Hama Laut IPB dan UWA di Perairan Banda

Terbukanya akses antar negara membuat Biosecurity menjadi isu yang semakin penting. Pesatnya industri pelayaran global menyebabkan…

Terbukanya akses antar negara membuat Biosecurity menjadi isu yang semakin penting. Pesatnya industri pelayaran global menyebabkan penyebaran penyakit dan hama juga terjadi di laut (marine pest). Kerjasama riset antara peneliti Indonesia dan Australia berhasil menyusun sistem peringatan dini hama laut (marine pest) di perairan yang strategis untuk kedua negara.

Australia sejak tahun 2000 telah memiliki Sistem Nasional Pencegahan dan Manajemen Serbuan Hama Laut. Sistem ini menjadi pedoman untuk mencegah hama laut baru masuk melalui kapal-kapal yang masuk ke perairan Australia baik kapal pesiar, perahu nelayan maupun kapal komersil.

Dr Hawis Maduppa dan Dr Joana Dias sedang meneliti marine pest yang ditemukan di perairan Banda.
Dr Hawis Maduppa dan Dr Joana Dias sedang meneliti marine pest yang ditemukan di perairan Banda.

Lab BIODIVS ITK - IPB


Berniat belajar dari Australia tentang system biosecurity laut ini, tim peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB), University of Western Australia (UWA) dan Kementerian Perikanan Australia berkolaborasi untuk meneliti keberadaan hama laut yang bersifat invasif di perairan strategis kedua negara. Perairan Banda di Propinsi Maluku, dipilih karena menjadi salah satu wilayah perairan yang banyak dilewati kapal-kapal dari dan menuju Australia.

Menurut Dr. Hawis Madduppa, dosen dan peneliti IPB yang menjadi Kepala Koordinator Penelitian ini, marine pest atau hama laut adalah biota laut yang menempel di daerah pelabuhan dan sifatnya mengancam biota asli di sebuah perairan.

"Jadi kita bekerja sama untuk memperkuat database Australia dan belajar membangun sistem biosecurity laut untuk Indonesia,” kata Dr. Hawis Madduppa.

Tiga peneliti utama dalam proyek penelitian IPB - UWA
Tiga peneliti utama dalam proyek penelitian IPB - UWA Mareike Huhn(kiri) dari Universitas Kiel, Jerman, Dr Joana Dias (tengah) dari University of Western Australia (UWA) dan Dr Hawis Maduppa (kanan) dari IPB.

Lab BIODIVS ITK - IPB


Penelitian yang didanai oleh Indonesian Project dari Australian National University ini dilakukan sejak akhir tahun 2015 lalu. Selain mahasiswa dan dosen dari Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB, riset ini juga melibatkan peneliti Dr Joana Dias dari Universitas Western Australia, Mareike Huhn dari Universitas Keil Jerman dan Justin McDonald dari Kementerian Kelautan Australia. Hasilnya, penelitian ini menemukan 34 jenis spesies hama laut di perairan Banda.

"Temuan ini memperkaya daftar spesies marine pest yang di miliki Australia. Dan menjadi database marine pest pertama untuk Indonesia,” kata Dr Hawis Madduppa.

Selain mengancam biota laut asli, hama laut atau marine pest juga menjadi ancaman bagi lingkungan, sosial dan kesehatan. Karenanya perpindahan dan keberadaan hama laut ini perlu diawasi dengan ketat agar tidak mengganggu industri berbasis kelautan dan juga kesehatan warga setempat.

“Di perairan Banda saja kita temukan 34 marine pest, padahal di Banda kapal layar komersil cuma lewat satu minggu sekali dan kapal-kapal yacht cuma ramai pada bulan Juli sampai September saja. Bayangkan jika penelitian serupa kita lakukan di Tanjung Priuk berapa marine pest yang kita bisa temukan. Makanya penelitian ini menjadi penting,” tambahnya.

Sesi penelitian yang dilakukan mahasiswa IPB di Perth Australia.
Kerjasama penelitian ini juga mencakup program magang selama 2 bulan untuk mahasiswa IPB di Perth Australia untuk mempelajari sistem marine biosecurity di Australia.

Lab BIODIVS ITK - IPB


Selain melakukan survei langsung di perairan Banda, penelitian juga memberi kesempatan mahasiswa IPB untuk magang selama 2 bulan guna mempelajari sistem biosecurity laut di Kementerian Perikanan Australia di Perth. Selain itu peneliti Australia juga didatangkan ke Indonesia untuk memberikan kuliah dan seminar mengenai biosecurity laut.

“Banyak sekali manfaat dari kolaborasi riset seperti ini, mulai dari transfer ilmu dan teknologi, maupun percepatan pengololaan data dan pendidikan. Karena Australia sudah menyusun database marine pest sejak 4 tahun lalu, jadi data dari Indonesia bisa mendukung data mereka. Jadi saling menguntungkan.”

IPBUWA Banda Research team
Tim peneliti IPB dan UWA berhasil menemukan 34 spesies invasif di perairan Banda, Maluku.

Lab BIODIV – ITK, IPB


Namun manfaat utama dari kolaborasi riset ini adalah Indonesia memiliki model sistem peringatan dini hama laut yang pertama disusun di Indonesia.

“Dengan melatih mahasiswa dan masyarakat lokal yang dilakukan dalam penelitian ini, kami yakin pekerjaan riset hama laut yang kami lakukan di Banda bisa berlanjut dan diterapkan di lokasi-lokasi lain di Indonesia,” Kata Dr. Hawis Madduppa optimistis.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved