Breaking News:
ABC World

University of Melbourne: 'Tidak Ada Cukup Bukti Ibrahim Malik Melawan Hukum'

University of Melbourne menyatakan tidak ada cukup bukti soal tuduhan pelecehan seksual yang dilakukan mahasiswa asal Indonesia Ibrahim…

Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia

University of Melbourne mengeluarkan hasil investigasi terhadap kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan mahasiswanya asal Indonesia. Sementara di Indonesia, kasus tuduhan dengan 30 pelapor perempuan masih terbuka.

Kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan mahasiswa Indonesia di University of Melbourne berawal saat Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta menyelidiki dugaan pelecehan seksual yang dilakukan alumninya, yang saat itu juga sedang menempuh pendidikan di Melbourne dengan beasiswa dari Pemerintah Australia.

UII merujuk mahasiswa tersebut dengan sebutan "IM", namun LBH Yogyakarta yang mendampingi setidaknya 30 pelapor dalam jumpa persnya menyebutkan nama Ibrahim Malik dengan identitas mahasiswa di University of Melbourne serta penerima beasiswa \'Australia Award Scholarship\'.

Awal Mei lalu, Meila Nurul Fajriah dari LBH Yogyakarta dalam jumpa pers mengatakan lembaganya menerima laporan pelecehan seksual yang dilakukan Ibrahim yang terjadi sejak tahun 2016 dan terjadi di Indonesia dan Australia.

Setelah melakukan investigasi independen yang melibatkan investigator eksternal, pihak Universitas Melbourne akhirnya mengambil keputusan.

"Mahasiswa University of Melbourne tersebut tidak melanggar kebijakan atau kode etik Universitas dan tidak ada cukup bukti bahwa ia bertindak melawan hukum."

A man uses an iphone to log into instagram.

Wikimedia Commons: LBH Yogyakarta menyatakan Ibrahim Malik diduga menghubungi beberapa perempuan melalui telepon seluler.

Sebagai penggagas petisi, Prima mengatakan tidak menerima laporan hasil investigasi dari University of Melbourne dan baru mendengarnya dari ABC.

Hani Yulindrasari, penggagas petisi di change.org yang telah ditandatangani lebih dari 32.000 orang juga mengaku tidak menerima informasi tentang hasil investigasi University of Melbourne.

Meski kecewa, Hani mengaku berusaha memahami keputusan Universitas dengan alasan "tidak cukup bukti".

"Universitas tidak bisa sewenang-wenang dalam mengambil keputusan dan kita juga harus menghargai pilihan korban yang tidak mau melapor secara formal ke universitas.

Namun, Hani menyesalkan tidak adanya tanggapan sama sekali baik dari DFAT atau pihak AAS, bahkan saat petisi tersebut mereka sampaikan melalui email.

Baca beritanya dalam Bahasa Inggris.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved