Breaking News:
ABC World

'Ini Soal Harga Diri': Warga Papua Kembalikan Uang Beasiswa Veronica Koman

Solidaritas warga Papua telah mengumpulkan uang untuk menutup cicilan Veronica Koman yang diminta mengembalikan beasiswanya. Bagi…

Permintaan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) agar pengacara hak asasi manusia Veronica Koman mengembalikan uang beasiswa untuk menempuh studinya di Australia telah terpenuhi.

Tim Solidaritas Ebamukai, atau uang sukarela, untuk Veronica Koman hari ini (16/09) mendatangi kantor LPDP di Jakarta Pusat untuk mengembalikan uang beasiswa Veronica Koman kepada LPDP Kementerian Keuangan hingga lunas (16/09).

Namun, meskipun peromohonan audiensi sudah disampaikan sejak dua hari yang lalu, kantor LPDP ternyata tutup, sehingga perwakilan kemudian bergeser ke kantor Kementerian Keuangan.

Di Kemenkeu, tidak ada juga perwakilan Kemenkeu yang penemui Tim Solidaritas sehingga akhirnya mereka mendatangi kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan HAM (Kemenkopolhukam) untuk menitipkan beberapa benda simbolis dan diterima oleh petugas keamanan untuk diserahkan ke Menkopolhukam Mahfud MD.

Selain bukti transfer dana pengembalian beasiswa, Tim solidaritas yang diwakili mantan tahanan politik Ambrosius Mulait dan Dano Tabuni didampingi pengacara hak asasi manusia Michael Himan mengembalikan Bendera Merah Putih.

Foto Papua 3

Supplied: Ikang Fauzi: Mereka juga mengembalikan secara simbolis status Otsus dan Dana Otsus dengan menyerahkan bendera merah putih, uang receh sebesar Rp1 juta, dan UU Otsus.

\'Fokus untuk melakukan advokasi internasional\'

Sejak awal tersiar kabar sanksi pengembalian dana beasiswa, Veronica mengatakan banyak orang Papua yang meyakinkan dirinya jika aksi solidaritas mereka akan berhasil mengumpulkan dana sesuai yang diminta LPDP.

"Vero, kamu tidak sendiri. Kami yang akan bayar," kata Veronica Koman mengutip salah seorang orang Papua yang menghubunginya.

Veronica mengaku menerima banyak dihubungi oleh orang Papua yang menyatakan dukungan mereka sambil mengatakan bantuan yang mereka berikan memiliki kaitran dengan harga diri orang Papua.

Ia terharu atas usaha penggalangan dana untuk membayar uang beasiswanya dan tidak sampai hati menolaknya.

"Karena ini soal harga diri mereka, otomatis saya sudah tidak ada di posisi bisa menolak bantuan tersebut," ujar Veronica kepada ABC Indonesia.

"Kalau saya tolak, berarti saya menganggap mereka tidak mampu untuk melakukan [pengembalian dana] ini."

Gerakan solidaritas warga Papua dipandang Veronica sebagai sebuah bentuk komitmen solidaritas yang "luar biasa", apalagi dilakukan di masa pandemi COVID-19.

Kepada ABC Indonesia, Veronica mengatakan akan tetap konsisten dalam mengadvokasi hak-hak asasi manusia.

"Dalam situasi saya yang eksil seperti ini, pilihan saya adalah fokus untuk melakukan advokasi internasional [soal hak asasi manusia Papua]," kata Veronica yang kini berdomisili di Australia.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved