Rabu, 6 Mei 2026
ABC World

Penemuan Bukti-bukti Kekerasan Polisi Saat Unjuk Rasa Omnibus Law Cipta Kerja

Inilah pengakuan seorang paramedis dan wartawan yang mengalami kekerasan dari aparat kepolisian ketika bertugas saat unjuk rasa Omnibus…

Tayang:

Ketika berangkat menuju lokasi demonstrasi Omnibus Law, Edo*, seorang relawan medis asal Bandung tidak mengira situasinya akan menjadi "sangat kacau".

"Begitu gelap, kebrutalan aparat penegak hukum ini mulai," kata Edo.

"Oknum-oknum aparat penegak hukum beraksi, memukuli semua orang yang berada di lokasi ketika sedang berkumpul. Siapapun itu."

Tidak lama setelahnya, Edo dan seorang relawan lain juga mengalami kekerasan.

"Badan saya tidak terpukul atau apa ya, tapi kaca [ambulan] nyaris pecah dari depan dan belakang," kata Edo kepada Natasya Salim dari ABC Indonesia.

"Dan saya ingat, ada satu pasien dalam mobil [lain] yang ditarik paksa. Saya tidak tahu kondisinya karena pintu belakang ditutup dan pecah."

Terkejut dan siaga, Edo segera berinisiatif untuk mengunci semua pintu ambulan dan menyelamatkan diri ketika ada kesempatan.

Ratusan kilometer dari Bandung, tepatnya di Surabaya, seorang wartawan CNN Indonesia, Miftah Farid Rahman juga menyaksikan dan mengalami kekerasan verbal dari polisi.

Saat itu, Miftah yang bertugas meliput di Gedung Negara Grahadi hari Kamis (8/10) berinisiatif untuk memotret penangkapan beberapa massa aksi.

Namun, anggota polisi segera menghampirinya.

"Saat memotret, sejumlah anggota polisi mengerubuti saya. Mereka mengancam dan memaksa saya menghapus foto di handphone," kata Miftah.

Foto Jurnalis

Koleksi pribadi: Foto yang diambil wartawan CNN, Miftah Farid Rahman di sisi selasar timur belakang Gedung Grahadi. Wajah korban telah dikaburkan oleh ABC Indonesia.

"Ini penting karena polisi memiliki data siapa yang mereka kirim ke tempat tersebut, tim mana yang mereka kirim ke jalan apa, dan ketika sudah tahu jam dan tempatnya, bisa melacak siapa saja nama orang dalam tim ini."

Di sisi lain, ia melihat pentingnya reformasi institusi polisi untuk mencegah terulangnya kembali tindakan kekerasan oleh polisi dalam unjuk rasa.

"Kalau misalnya penanganan aksi ini di mayoritas tempat adalah kekerasan yang dilakukan banyak aparat di mana-mana, ini bukan membicarakan aparat lagi," ujarnya.

"Ini seharusnya sudah membicarakan satu institusi kepolisian, dan bagaimana pengawasan atasan, upaya agresif apa yang sudah dilakukan, dan apakah mereka mendapatkan sanksi untuk hal itu."

*Edo adalah bukan nama sebenarnya. Ia telah minta identitasnya dirahasiakan untuk alasan keamanan.

Ikuti berita seputar pandemi Australia dan lainnya di ABC Indonesia.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved