BCA Buka Perdagangan Bursa Efek Indonesia

Senin, 8 Agustus 2016 08:59 WIB
BCA Buka Perdagangan Bursa Efek Indonesia

Suasana pembukaan pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) pagi itu terlihat berbeda dari biasanya. Pasar terasa lebih bergairah dan bersemangat dari biasanya. PT Bank Central Asia, Tbk, (IDX: BBCA)  berkesempatan untuk membuka secara resmi perdagangan saham pada akhir pekan dan akhir bulan perdagangan saham di Bulan Juli (29/7) lalu.

Wakil Presiden Direktur BCA, Eugene K. Galbraith pun menekan layar sentuh sebagai tanda resminya pembukaan bursa pada pukul 09.00 WIB pagi itu. Cukup menggembirakan, pada pembukaan tersebut IHSG dibuka naik sebesar 0,11% dibanding penutupan pasar di hari sebelumnya yang mencatat level IHSG sebesar 5.299.  Bahkan bukan hanya IHSG yang mengalami kenaikan, pada pembukaan pasar tersebut saham BCA pun mengalami kenaikan menjadi Rp 14.475 per lembar saham atau naik sebesar 0,35% dari penutupan bursa hari sebelumnya.

Menurut Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, Samsul Hidayat, hari itu BCA tidak hanya berkesempatan membuka secara resmi perdagangan saham di BEI. Akan tetapi BCA juga menyelenggarakan public expose tentang paparan kinerja semester I 2016 yang dapat menggairahkan dan meningkatkan optimisme pasar di BEI.

“Pagi ini pembukaan perdagangan memang sedikit berbeda, dibuka oleh Wakil Presiden Direktur BCA, Eugene K. Galbraith, dan dilanjutkan dengan acara public expose BCA. Hal ini tidak terlepas dari prestasi BCA yang berhasil masuk dalam jajaran Top 2000 listed company di dunia”, papar Samsul.

Menurut Samsul, pergerakan saham BCA di bursa Indonesia sejauh ini cukup cemerlang dan merupakan salah satu pendorong pasar yang utama. Diungkapkannya, di awal BCA masuk ke lantai bursa pada tahun 2000, tercatat harga saham BCA saat itu senilai Rp 1.400,- perlembar saham (sebelum memperhitungkan stock split). Saat ini harga saham BCA diperdagangkan pada kisaran nilai Rp 14.425,- per lembar saham. 

“Ini suatu pencapaian yang patut diapresiasi. Diharapkan ke depannya, BCA akan terus cemerlang dan menggairahkan bursa di Indonesia,” kata Samsul.

Public Expose

Sementara itu pada public expose BCA tersebut, Eugene K. Galbraith menyampaikan, BCA berhasil mempertahankan kinerja positif pada semester I 2016. Di tengah perlambatan ekonomi Indonesia, BCA menerapkan pendekatan yang berhati-hati dalam penyaluran kredit serta melakukan pengawasan secara konsisten terhadap portofolio kredit guna meminimalkan peningkatan kredit bermasalah. Selanjutnya, keunggulan di bidang perbankan transaksi memberikan fleksibilitas bagi BCA dalam mengelola suku bunga dana pihak ketiga.

Outstanding portofolio kredit tercatat sebesar Rp 387,0 triliun pada akhir Juni 2016,
naik 11,5% YoY, didorong oleh penyaluran kredit korporasi yang tumbuh 19,6% YoY menjadi Rp 135,4 triliun. Kredit komersial dan Usaha Kecil & Menengah (UKM) meningkat 6,5% YoY mencapai Rp 146,5 triliun, sementara kredit konsumer naik 9,1% YoY menjadi Rp 105,2 triliun didukung oleh produk pinjaman yang kompetitif. Portofolio kredit pemilikan rumah dan kredit kendaraan bermotor masing-masing naik 8,5% YoY menjadi Rp 61,7 triliun dan 11,4% YoY menjadi Rp 34,0 triliun. Outstanding kartu kredit mencapai Rp 9,5 triliun, meningkat 5,5% YoY.

Di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi, rasio kredit bermasalah (NPL) BCA meningkat menjadi 1,4% pada akhir Juni 2016, dibandingkan 0,7% pada akhir Juni 2015. Meskipun demikian, rasio NPL tersebut masih dalam tingkat risiko yang dapat ditoleransi. Pada semester I 2016 BCA membentuk tambahan biaya cadangan sebesar Rp 2,0 triliun untuk mempertahankan kecukupan cadangan kerugian penurunan nilai aset keuangan. Per Juni 2016, rasio cadangan terhadap total kredit bermasalah tercatat sebesar 193,0%. BCA secara proaktif mempertahankan posisi likuiditas dan basis permodalan yang solid. Pada akhir Juni 2016, rasio kredit terhadap pendanaan (LFR) tercatat sebesar 77,9%, sementara rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 20,3%.

Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga meningkat 7,8% YoY menjadi Rp 490,6 triliun pada akhir Juni 2016, ditopang oleh pertumbuhan rekening giro dan tabungan (CASA). Dana CASA tumbuh 10,2% YoY mencapai Rp 381,3 triliun, berkontribusi sebesar 77,7% terhadap total dana pihak ketiga BCA pada akhir Juni 2016. Dana tabungan tumbuh sebesar 12,6% YoY menjadi Rp 260,9 triliun, sedangkan dana giro naik sebesar 5,4% YoY menjadi Rp 120,4 triliun. Dana deposito relatif stabil sebesar Rp 109,3 triliun.

Kinerja bisnis yang positif berhasil mendukung pertumbuhan laba pada semester I 2016. Pada periode tersebut laba bersih BCA tercatat Rp 9,6 triliun, meningkat 12,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan operasional BCA, yang terdiri dari pendapatan bunga bersih dan pendapatan operasional lainnya, tumbuh 15,5% menjadi Rp 26,1 triliun pada semester I 2016 dari Rp 22,6 triliun pada semester I 2015.

"Memasuki semester II 2016, kami melihat berbagai dinamika yang positif telah mendorong perekonomian Indonesia ke arah yang lebih baik. Program tax amnesty yang mulai berjalan diharapkan akan memberi pengaruh positif terhadap perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Guna menyukseskan program tersebut, sebagai salah satu bank gateway, selain menerima pembayaran tebusan tax amnesty, BCA juga secara aktif menyelenggarakan program sosialisasi kepada para nasabah maupun menyediakan produk-produk perbankan yang dapat dijadikan sebagai sarana investasi atas dana repatriasi asset,” kata Eugene K. Galbraith menambahkan.  

BCA Senantiasa di Sisi Anda
(Berita BCA)
BCA Terdaftar dan Diawasi Oleh OJK

Editor: Advertorial
MOST READ
© 2014 PT Bank Central Asia Tbk dan Tribunnews.com
Atas
// START Nielsen Online SiteCensus V6.0 // COPYRIGHT 2010 Nielsen Online ?>