Senin, 18 Mei 2026

Produk Cina Kuasai Pasar Lampu Hias Jl Banceuy

JALAN Banceuy, Kota Bandung tidak hanya dikenal sebagai sentra suku cadang kendaraan

Tayang:
Editor: Hendra Gunawan

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ida Romlah

TRIBUNNEWS.COM -- JALAN Banceuy, Kota Bandung tidak hanya dikenal sebagai sentra suku cadang kendaraan. Di ruas jalan tersebut juga berjejer puluhan toko lampu hias dengan beragam desain yang bisa dipilih namun harga tetap terjangkau.

Sejak 1960-an, Jalan Banceuy sudah menjadi sentra lampu hias di Kota Bandung. Seiring waktu, jumlah toko yang menawarkan lampu hias pun bertambah dan sampai saat ini mencapai sekitar 30 toko lampu hias.

Ada beragam lampu hias yang ditawarkan di Banceuy, seperti lampu hias gantung, tempel dinding, dan plafon. Desainnya pun beragam. Lampu-lampu itu sebagian besar buatan luar negeri, terutama Cina. Hanya beberapa yang berasal dari dalam negeri, dengan jumlah yang bisa dihitung jari.

"99 persen lampu yang kami tawarkan produk Cina," ujar Cici, salah seorang pemilik toko lampu hias di Jalan Banceuy, Rabu (29/8/2012).

Cici mengatakan lampu hias asal Cina unggul dari segi harga. Jika dibandingkan dengan lampu dari Eropa, harganya bisa sampai 70 persen lebih murah.

Walau murah, kata dia, desain lampu hias asal Cina tidak kalah bagus dari lampu hias asal Eropa. Tak heran jika lampu hias Cina disukai pasar Indonesia. Lampu asal Eropa pun kalah laku.

"Konsumen pada suka ya kita jual. Kalau kita kan tergantung pasar ya," kata Cici. Konsumen, ujar Cicic, umumnya membeli lampu hias dengan harga Rp 200.000-Rp 300.000 per buah. Sangat jarang yang membeli lampu seharga jutaan rupiah.

Cici mengatakan dirinya sudah memulai usaha penjualan lampu hias sejak 1978. Ketika itu sang suami yang berjualan kue kerap bertandang ke Jakarta. Di ibu kota itulah suami bertemu dengan penjual lampu hias grosir sehingga tertarik untuk berbisnis lampu hias.

"Dulu yang jualan lampu hias masih sedikit. Paling sekitar 10 orang. Tapi sekarang sudah banyak sekali, ada sekitar 30 toko," ujar Cici.

Awal bisnisnya di lampu hias, kata Cici, berjalan mulus. Dia pun bisa meraup untung besar walau biaya operasional tergolong besar ketika itu karena harus membeli lampu langsung ke Jakarta dengan kendaraan sendiri.

"Kalau sekarang barang dikirim supplier, tapi karena banyak toko ya saingan juga berat. Untung-untungan lah kalau sekarang," katanya.

Karena saingan itu pula, kata Cici, dirinya tidak berani mengambil untung besar dari penjualan lampu hias. Untung 5 persen saja sudah cukup. Bahkan terkadang ada beberapa lampu yang dijual tanpa ada margin keuntungan.

"Daripada lampu itu tidak laku, terus ada yang nawar murah ya saya kasih saja. Biarin lah tak untung juga," kata Cici.

Dia terpaksa melakukan itu karena lampu tak bisa dikembalikan ke supplier. Pemilik toko lampu hias lain, Totong juga mengatakan serupa. Lampu yang laris dijual adalah yang harga di kisaran ratusan ribu. Sementara yang jutaan rupiah sangat jarang. Karena itu, dia tidak berani menjual lampu yang terlalu mahal.

Menurut Totong, penjualan lampu hias tidak menentu. Apalagi saat ini, di mana banyak toko lampu berdiri di Jalan Banceuy. "Bisa menjual 5 buah lampu dalam sehari saja sudah beruntung," ujarnya.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved