Petani Ikan di Lampegan Kini Mati Suri
KOLAM dengan lebar sekitar 1,5 dan panjang 3 meter di RT 3/5 Kampung Lampegan, Desa Lampegan, Kecamatan Ibun
TRIBUNNEWS.COM -- KOLAM dengan lebar sekitar 1,5 dan panjang 3 meter di RT 3/5 Kampung Lampegan, Desa Lampegan, Kecamatan Ibun, Selasa (16/10/2012), terlihat memprihatinkan. Tak ada air yang seharusnya membasahi kolam setinggi sekitar 1 meter itu. Tanah yang jadi dasar kolam itu pecah-pecah kekeringan. Hanya tumpukan sampah rumah tangga di dasar kolam. Ayam jago peliharaan warga tampak mengais makanan di dasar kolam tersebut.
Kondisi itu tak hanya terjadi di satu kolam. Ada belasan kolam lainnya mengalami hal serupa meski setiap kolam memiliki ukuran berbeda. "Sebelumnya, 20 kolam di satu lokasi ini dipenuhi ikan," kata Kepala Desa Lampegan, Endang Mahyar di lokasi perikanan Desa Lampegan, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, Selasa (16/10/2012).
Akibat banyak kolam yang kering, banyak warga Lampegan beralih pekerjaan menjadi pekerja kasar di berbagai wilayah. Padahal, kata Endang, warganya terampil mengembangbiakkan ikan. "Desa kami pernah mendapatkan penghargaan kalpataru tentang budi daya ikan," kata Endang.
Endang mengatakan, kondisi tersebut memang ironis. Pasalnya Desa Lampegan memiliki sumber daya manusia yang andal. Namun kemampuan tersebut tak didukung ketersediaan sumber daya alam, yakni air yang memadai. "Tercatat memang baru ada tiga kelompok tani. Tapi yang individu yang menjadi petani ikan juga banyak di desa ini. Bahkan beberapa warga ada yang bekerja di tempat pembibitan ikan di Majalaya," kata Endang.
Para petani ikan di desanya, kata Endang, memang hanya mengandalkan air ketika musim hujan. Sebab, air sungai yang diandalkan menjadi sumber air untuk memenuhi ukuran kolam ikut mengering. Itu sebabnya banyak kolam dibiarkan mengering begitu saja.
Ikan Nila dan Ikan Mas, saat penghujan menjadi andalan para petani ikan di Lampegan. Sebab jenis ikan tersebut diminati pasar. Selain itu cara budi daya ikan nila cukup mudah lantaran mampu bereproduksi cepat. Antara 2-3 bulan dari bibit, ikan nila sudah dewasa dan dapat menghasilkan telur setiap bulan satu kali. "Karena ada kendala yang dihadapi petani di musim kemarau makanya kami hanya memelihara ikan yang cepat dan menghasilkan," kata Endang.
Endang mengatakan, harga ikan mas sekitar Rp 20 ribu per kilogramnya, sedangkan harga jual ikan nila Rp 10 ribu per kg. Karena itu petani bisa langsung meraup keuntungan jika ada pembeli yang datang langsung ke petaninya. "Biasanya pembeli kebanyakan datang dari Bogor, Bandung, dan Jakarta. Bahkan orang Jawa Tengah pun mengambil barang dari sini," katanya.
Peternak yang memanen ikan nila dan ikan mas itu, kata Endang bisa mendapatkan keuntungan lumayan dari modal investasi. Pada ukuran kolam sekitar 500 meter persegi saja, bisa ditanami 5.000 bibit nila atau pun ikan mas. Pada hasil panen bisa menghasilkan sekitar 4.000 ekor yang siap konsumsi. "Bisa untung sekitar Rp 20 juta dari modal awal sekitar Rp 30 juta," kata Endang.
Meski begitu, keuntungan para petani tersebut tak selamanya berjalan dengan mulus. Sebab, para petani ikan di Desa Lampegan harus merugi ketika menghadapi musim kemarau. Apalagi jika musim kemarau berlangsung cukup panjang. "Meski untung besar ketika bisa beternak ikan, namun untung tersebut habis untuk memenuhi kebutuhan hidup di musim kemarau," katanya.
Oleh karena itu, Endang menyebut, para petani ikan di Desa lampegan ibarat hidup tak mau mati pun enggan. Alhasil, kolam-kolam yang menganga di Kampung Lampegan hanya menjadi tempat pembuangan sampah sementara.