Rabu, 10 Juni 2026

Jual Daging Tetelan Pun Jadi

TAK ada daging, tetelan pun jadi. Mungkin itu prinsip yang dipegang Handi, seorang pedagang daging

Tayang:
Editor: Hendra Gunawan

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG -- TAK ada daging, tetelan pun jadi. Mungkin itu prinsip yang dipegang Handi, seorang pedagang daging sapi di Pasar Sederhana, Kota Bandung. Ketika pasokan daging sapi tidak ada dan pedagang pun memutuskan mogok jualan, Handi tetap mencoba untuk berjualan.

Namun bukan daging sapi yang ia tawarkan, melainkan tetelan, serpihan daging di tulang, sisa. Tetelan itu merupakan sisa yang tak terjual habis pada Minggu (20/1/2013). Daripada dibuang, Handi terpaksa menjualnya kembali kemarin, dengan harapan ada pelanggan yang berminat.

"Ini tetelan sisa kemarin. Tak ada daging karena mulai hari ini semua pedagang daging sepakat untuk mogok jualan. RPH pun tak memotong sapi," kata Handi, kemarin pagi.

Handi mengatakan, sebenarnya banyak pelanggan yang menanyakan daging sapi kepadanya. Namun karena tidak dijual, pelanggan terpaksa pulang dengan tangan kosong. "Mereka maunya daging, bukan tetelan," ujarnya. Satu kilogram tetelan Handi tawarkan Rp 15.000.

Mogok jualan ini membuat konsumen kecewa. Ny Joko, misalnya, mengaku kecewa karena tidak mendapat daging sapi. Padahal, dia membutuhkan daging untuk menjadi isi kue risoles yang akan dibuatnya untuk arisan.

"Tapi mau bagaimana lagi? Saya sudah mencari ke pasar lain juga, tapi tidak ada penjual daging sapi. Saya hanya butuh daging sapi satu kilogram," katanya ketika ditemui di Pasar Soreang, kemarin.

Arif, warga kawasan Ujungberung, pun kesulitan untuk berbelanja daging sapi di Pasar Cihaurgeulis. "Susah sekali ya cari daging sapi. Kabarnya sih, mereka (para pedagang, Red) mogok tiga hari," kata ayah dua anak ini.

Sejumlah pemilik rumah makan pun mengeluh karena tak bisa menjual lauk yang berbahan daging sapi. "Jadinya hari ini (kemarin, Red) saya tidak berjualan rendang daging sapi," ujar pemilik warung makan di depan Polsek Cileunyi, Susi (34), ketika ditemui Tribun, kemarin.

Dikatakan Susi, warungnya bisa menghabiskan sekitar 3 kg daging sapi per hari. "Kalau tahu ada mogok massal selama tiga hari, mungkin saya nyetok daging sapi sebanyak 14 kg. Kalau begini, mau jualan apa?" ujar Susi.

Susi mengaku telah merasakan kenaikan harga daging sapi sejak seminggu yang lalu. Ia sempat mengecek harga daging sapi di Pasar Sehat Cileunyi dan di Pasar Gedebage. Dikatakannya, harga di Pasar Cileunyi lebih mahal ketimbang harga di Pasar Gedebage.

"Seminggu yang lalu, di Pasar Cileunyi harga daging sapi sudah mencapai harga Rp 90 ribu dari harga Rp 84 ribu, sedangkan di Pasar Gede Bage harga daging sapi mencapai Rp 85 ribu dari Rp 78 ribu," ujar Susi.

Namun ketiadaan daging sapi menjadi berkah bagi pedagang daging ayam. Mereka meraup untung karena jualannya laku keras. "Iya ada pengaruhnya. Yang tadinya akan membeli daging sapi, tapi karena tak ada yang jualan akhirnya memilih daging ayam," kata Feri, pedagang daging ayam di Pasar Sederhana, kemarin.

Meski demikian, kata Feri, peningkatan penjualan daging ayam hanya berkisar 20 persen. Sebab, tidak semua konsumen daging sapi beralih ke ayam, terutama untuk pedagang bakso dan warung nasi. (Tribun Jabar/roh/win/cis)

Baca juga;


Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved