Petani Kakao Jual Rp 8 Ribu per Kg
Tingginya curah hujan pada Januari menyebabkan proses pengeringan buah kakao tidak maksimal
TRIBUNNEWS.COM, BANDAR LAMPUNG -- Tingginya curah hujan pada Januari menyebabkan proses pengeringan buah kakao tidak maksimal. Petani kakao pun terpaksa menjual kakao dengan tingkat kekeringan yang tidak maksimal, dengan kisaran harga Rp 8 ribu-10 ribu per kg.
Harga tersebut berlaku untuk buah kakao dengan proses penjemuran satu hari. "Kalau buahnya bagus masih bisa laku Rp 10 ribu. Tapi kalau buahnya kurang bagus, paling banter dihargai Rp 8 ribu," kata Agus.
Dia menjelaskan, minimnya sinar matahari yang mempengaruhi proses pengeringan kakao dengan cara dijemur membuat sebagian besar petani menjual kakao seusai pemetikan buah, dengan harga jual Rp 4 ribu-6 ribu per kg.
"Kalau tidak ada matahari atau petani malas menjemur, biasanya habis dipetik buah langsung dipecah dan dijual dalam kondisi basah. Harganya memang jauh lebih murah, tapi bisa lebih menguntungkan karena tidak perlu menjemur," ungkap Agus.
Meski harga kakao di tingkat petani terbilang murah, harga basis kakao di tingkat agen masih stabil di kisaran Rp 14 ribu per kg. "Itu kalau buahnya memang kering. Tapi kalau cuaca seperti sekarang tidak mungkin menjemur kakao sampai kering. Kalaupun bisa, susut bobotnya juga pasti banyak," imbuh Agus.
Karena itu, petani lebih memilih menjual kakao dalam kondisi basah atau setengah kering dengan harga yang lebih murah tapi bobot timbangan buah jauh lebih berat. "Kalau dihitung-hitung lebih menguntungkan jual basah atau setengah kering. Kalau jual kering dengan curah hujan tinggi seperti sekarang bisa memakan waktu lebih dari satu minggu. Susutnya pasti banyak," katanya.(heribertus sulis/tribun lampung)
Baca juga:
- Produksi Kakao Lampung Turun 50 Persen
- Pengusaha Jadwal Ulang Pengiriman Barang
- Sekjen ICAO Kunjungi GMF
- Medco Tandangani Tiga Kontrak Kerja Sama