Sabtu, 11 April 2026

Surplus 20 Ribu Ton Beras di Tungkal

Produksi padi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar) pada 2011 lalu melimpah.

Editor: Hendra Gunawan

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Jariyanto

TRIBUNNEWS.COM, KUALA TUNGKAL - Produksi padi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar) pada 2011 lalu melimpah. Dari sekitar 25 ribu hektare lahan persawahan mampu menghasilkan 50 ribu ton lebih padi. Ini menyebabkan Tanjabbar surplus beras sebanyak 20 ribu ton.

"Kita mengalami surplus beras sekitar 20 ribu ton di 2011. Untuk 2012 belum kita ketahui, karena menunggu hasil pendataan dari BPS (Badan Pusat Statistik)," ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH), Zainudin kepada Tribun, Minggu (27/1/2013).

Dijelaskannya, puluhan ribu ton beras yang dihasilkan dari beberapa wilayah kecamatan yang memang potensial sebagai daerah persawahan. Antara lain, daerah Parit Pudin, Kecamatan Pengabuan, Teluk IV, Kecamatan Senyerang, Bram Itam Kanan, Kecamatan Bram Itam, dan ada juga di daerah Kecamatan Betara.

Daerah-daerah tersebut, kata Zainudin merupakan daerah pasang surut. Kondisi ini yang dimanfaatkan para petani untuk sistem pengairan areal persawahan. "Mereka (petani. red) membuat tanggul-tanggul sebagai pengontrol pengairan di areal persawahan," ungkapnya.

Menurutnya, hasil panen masyarakat yang bercocok tanam padi hanya satu tahun sekali sebelum 2011. Sejak 2011, Pemkab melalui instansi terkait kemudian membuat program agar petani padi bisa panen dua kali dalam satu tahun.

"Pada 2012 lalu, jadwal tanam terpaksa mundur, karena ada musim kemarau. Biasanya Oktober atau November sudah mulai tanam," kata Zainudin.

Lanjutnya, para petani menanam beberapa jenis padi, di antaranya, IR, beras super, karya, dan tandu. Setelah menjadi beras, harga bahan pangan pokok ini dijual di pasaran berkisar Rp 8 ribu per kilogram. Jadi, harganya masuk dalam kategori bersaing dengan harga beras unggul. "Beras- beras kita paling banyak dikirim ke Pekanbaru serta beberapa daerah lainnya," tutur Zainudin.

Dari data, Tanjabbar memang mengalami surplus beras, namun masih cukup banyak juga beras dari luar yang masuk. Terhadap kondisi ini, Zainudin menyatakan tidak bisa dicegah, karena memang bagian dari perilaku perdagangan. Namun, beras yang masuk sebagian besar hanya di Kota Kuala Tungkal.

Baca juga:

Sumber: Tribun Jambi
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved