Rupiah Terpuruk
Rupiah Tak Bisa Diprediksi, Harga Tahu Tempe Akan Meningkat Pesat
Ketua Umum Gabungan Koperasi Tahu Tempe Indonesia Aip Syarifudin menjelaskan beberapa bulan ke depan harga tahu dan tempe akan meningkat pesat.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Adiatma Putra Fajar
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum Gabungan Koperasi Tahu Tempe Indonesia Aip Syarifudin menjelaskan beberapa bulan ke depan harga tahu dan tempe akan meningkat pesat. Hal ini dikarenakan nilai mata uang rupiah terhadap dollar AS melemah.
Aip pun tak bisa memprediksi kapan harga tahu dan tempe kembali bisa normal lagi. Kendati demikian Kopti berusaha menekan harga dengan cara memasok kedelai dengan mengimpor 300 ribu ton bulan depan.
"Harga kedelai mahal menjadi keluhan sekarang karena kurs dollar, itu yang susah diprediksi," ujar Aip kepada Tribunnews.com, Jumat (23/8/2013).
Aip menjelaskan bahwa pihaknya telah bertemu dengan pemerintah dalam hal ini kementerian perdagangan. Kopti berharap agar pemerintah bisa memberikan izin import dengan cepat untuk menekan harga kedelai yang melambung tinggi.
"Barusan ini saya di kementerian perdagangan dengan Dirjen perdagangan dalam dan luar negeri. Apa yang namanya kurs dollar kebijakan pemerintah, mudah-mudahan bisa terekndali," ungkap Aip.
Aip menambahkan Kopti percaya bahwa pemerintah bisa mengendalikan kurs rupiah kembali normal. Hal yang diminta Kopti selain izin impor adalah penghapusan bea keluar 5 persen yang telah ditentukan oleh pemerintah.
"Saya mau mengusulkan bea masuk 5 persen dihapus, dan harga kedelai bisa dikembalikan lagi Rp 7400 per kilogram," jelas Aip.
Sebelumnya diberitakan Tribunnews.com, harga tahu tempe yang ada di pasaran telah meningkat 100 persen. Di pasar traditional Palmerah harga tahu untuk satu plastik berisi 5 buah seharga Rp 3000, padahal sebelum rupiah melemah harga satu plastik tahu Rp 1500.
Saat ini harga kedelai mencapai Rp 9300 per kilo. Pada bulan sebelumnya harga kedelai berada di kisaran Rp 6000.