Industri Mikro Kecil di Jabar Tumbuh Minus 7,29 Persen
Pertumbuhan industri mikro kecil di Jawa Barat (Jabar) pada triwulan 2013 (q-to-q) turun 7,29 persen
TRIBUNNEWS.COM BANDUNG, - Pertumbuhan industri mikro kecil di Jawa Barat (Jabar) pada triwulan 2013 (q-to-q) turun 7,29 persen dibandingkan triwulan II. Lima belas dari 22 jenis industri mengalami pertumbuhan negatif.
"Industri mikro kecil rentan terhadap pelemahan rupiah," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar, Gema Purwana, kepada wartawan di kantornya, Bandung, Jumat (1/11/2013). Selain itu, ucapnya, industri ini terganggu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan gas.
Selama Juli-September 2013, industri mikro kecil pun dipengaruhi kenaikan tarif dasar listrik (TDL). "Ada dampak juga dari kenaikan tarif tol terutama untuk pendistribusian barang," kata Gema. Banyak industri mikro kecil tak mampu menahan gempuran-gempuran itu.
Padahal, selama April-Juni (triwulan II), industri ini tumbuh sebesar 9,39 persen. Pertumbuhan negatif industri mikro kecil di Jabar di bawah pertumbuhan industri yang sama secara nasional yang juga mengalami pertumbuhan minus 4,45 persen.
Tiga jenis industri mikro kecil yang menurun paling drastis pada triwulan III adalah industri pakaian jadi sebesar 14,65 persen. Selanjutnya, disusul industri alat angkutan lainnya 11,71 persen dan industri teksil sebesar 10,27 persen.
Akibatnya, sebagian tenaga kerja industri mikro kecil beralih ke ke industri lain. Namun, ada tiga industri mikro kecil yang tumbuh posisif yakni industri kendaraan bermotor, trailer, dan semi trailer sebesar 16,67 persen.
Industri farmasi, produksi obat kimia dan tradisional (dengan jumlah pekerja kurang dari 100 orang) naik 13,85 persen. Industri pengolahan tembakau pun naik 13,81 persen. Jika dibanding periode yang sama tahun lalu (y-to-y), produksi industri mikro kecil meningkat 9,33 persen.
Situasi ini berbanding terbalik dengan pertumbuhan industri manufaktur besar-sedang sepanjang triwulan III 2013 (q-to-q) yang naik sebesar 1,75 persen daripada triwulan II. Industri yang paling meningkat adalah farmasi, produksi obat kimia dan tradisional sebesar 4,82 persen.
Industri kertas dan barang dari kertas tumbuh negatif 0,97 persen. produksi industri ini Juli-September tahun ini naik sebesar 5,55 persen daripada (y-to-y) dibanding triwulan III 2012.
Industri farmasi, produksi obat kimia dan tradisional (dengan jumlah pekerja lebih dari 100 orang) dan industri barang logam, bukan mesin dan peralatannya naik masing-masing 10,87 persen dan 10,80 persen.
"Industri besar baik padat karya maupun padat modal tidak serentan industri kecil. Industri padat karya mungkin khawatir dengan demonstrasi buruh sedangkan industri pada modal relatif aman," kata Gema. (*)