Breaking News:

Saatnya Mengembangkan Industri Berbasis Budaya

Ini diperlukan mengingat industri ini akan membuka kesempatan kerja jauh lebih banyak dibandingkan industri elektonik

TRIBUN/DANY PERMANA
Pebulu Tangkis Indonesia Sony Dwi Kuncoro (kanan) mewarnai wayang golek mini dalam acara Welcome Dinner jelang gelaran BCA Indonesia Open Super Series di Jakarta, Senin (16/6/2014). Acara tersebut dilangsungkan sebagai tanda dibukanya turnamen bulutangkis internasional Indonesia Open 2014 yang di gelar pada 17-22 Juni 2014 di Istora Senayan, Jakarta. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Perdagangan RI Rahmad Gobel menilai, Indonesia lebih cocok mengembangkan industri yang berbasis budaya.

Ini diperlukan mengingat industri ini akan membuka kesempatan kerja jauh lebih banyak dibandingkan industri elektonik atau otomotif.

"Industri berbasis budaya dibangkitkan mengingat keberadaannya sampai di desa-desa. Misalnya tekstil, songket, kulit, makanan minuman dan produk herbal," kata Rahmad saat puncak Gerakan Nasional One in Twenty di Jakarta, Senin (6/4/2015) malam.

Ia mencontohkan industri herbal seperti jamu. Sebagai daerah tropis, cukup banyak tanaman obat yang bisa digunakan untuk herbal jamu.

"Saat ini India ekspornya untuk produk ini. Jauh lebih besar dibandingkan Indonesia. Untuk bahan jamu kita ekspor memiliki market share satu persen," katanya.

Yang menyedihkan adalah hadirnya pakaian bekas dari luar negeri yang dijual di Indonesia yang nilainya cukup besar.

"Bukan saja merugikan secara ekonomi tapi juga menurunkan martabat, yakni kita menjadi negara pengguna barang bekas," katanya. (Eko Sutriyanto).

Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved