Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Minta Pemerintah Jaga Nilai Tukar Rupiah
"Perlu menjaga kestabilan rupiah yang dapat berdampak negatif terhadap sentimen rumah tangga," kata Darmin.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) meminta pemerintah menjaga kestabilan nilai tukar rupiah, guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam negeri dan menjaga kemampuan perusahaan dalam menjaga pertumbuhan bisnisnya.
Ketua Umum ISEI Darmin Nasution mengatakan, nilai tukar rupiah yang lemah menyebabkan pendapatan rumah tangga yang akhirnya menurunkan daya beli masyarakat dan berdampak mengikiskan keuntungan perusahaan.
"Perlu menjaga kestabilan rupiah yang dapat berdampak negatif terhadap sentimen rumah tangga," kata Darmin saat acara Silaturahim dengan Dunia Usaha di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis (9/7/2015).
Nilai tukar rupiah beberapa bulan ini terus mengalami pelemahan, berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada hari ini rupiah di level Rp 13.347 atau melemah 1 poin dari hari sebelumnya Rp 13.346 per dolar AS.
Menurut Darmin, untuk menjaga kestabilan nilai tukar maka diperluka dorongan pemerintah kepada masyarakat untuk menghidupkan kembali kebiasaan menabung seperti yang pernah dikampanyekan pada 1970-an.
Hal tersebut dinilainya, dapat menyelamatkan ekonomi Indonesia dari defisit transaksi berjalan dan defisit fiskal yang dikenal dengan twin deficit. "Dana yang banyak ditempatkan dulu di bank, walaupun cuman seminggu akan menambah dana yang bisa diputar oleh bank, sehingga bisa menambah kemampuan sektor keuangan kita untuk membiayai investasi yang diperlukan," tuturnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/20140824_031335_mantan-gubernur-bank-indonesia-darmin-nasution.jpg)