Breaking News:

Gejolak Rupiah

Rupiah Terpuruk, Stop Konsumsi Barang Impor

Pemerintah meminta masyarakat untuk mengurangi konsumsi atau penggunaan barang-barang impor di tengah melemahnya nilai tukar rupiah.

Editor: Sanusi
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Petugas memperlihatkan pecahan dolar AS yang akan ditukarkan di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Kawasan Blok M, Jakarta, Senin (24/8/2015). Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS dibuka di kisaran Rp 14.006 dan sempat mencapai posisi tertinggi pada level Rp 14.017 karena imbas dari perang mata uang (currency wars). (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah meminta masyarakat untuk mengurangi konsumsi atau penggunaan barang-barang impor di tengah melemahnya nilai tukar rupiah.

Hingga perdagangan sore hari ini, nilai tukar rupiah turun sebesar 0,03 persen menjadi 14.054 per dollar AS. Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro membenarkan bahwa nilai tukar rupiah yang terus melemah mengganggu daya beli masyarakat.

Pelemahan nilai tukar ini tentu saja, kata Bambang, akan berdampak ke inflasi. Sayangnya, Bambang tidak memaparkan bagaimana pemerintah menjaga daya beli masyarakat di tengah pelemahan rupiah. Ia justru meminta masyarakat untuk mengurangi konsumsi barang impor.

"Saat ini, saat terbaik bagi kita. Kalau sekarang membeli barang impor terasa memberatkan, ya kenapa tidak membeli, mengonsumsi, menggunakan barang produksi dalam negeri?" kata Bambang ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (25/8/2015).

Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, tanpa diminta pun, konsumsi barang impor telah turun. BPS mencatat, nilai impor pada Juli 2015 mencapai 10,08 miliar dollar AS atau turun 22,36 persen dibandingkan impor Juni 2015 yang sebesar 12,98 miliar dollar AS.

Impor barang konsumsi pada bulan itu sudah turun 31,31 persen dibandingkan nilai impor sebulan sebelumnya. Impor barang konsumsi pada bulan Juli 2015 tercatat 706,1 juta dollar AS, turun drastis dibanding Juni 2015 yang mencapai 1,027 miliar dollar AS.

Deputi Bidang Statistik Produksi BPS Adi Lumaksono menuturkan, penurunan impor pada Juli disebabkan salah satunya karena pengaruh melemahnya mata uang beberapa negara.

"Terutama menguatnya nilai dollar terhadap mata uang asing, apalagi beberapa hari lalu, China melakukan devaluasi yuan hampir 2 persen. Ini berdampak pada negara lain, terutama yang menjadi mitra dagang Tiongkok," kata Adi, Selasa (18/8/2015).

Dalam rapat badan anggaran, Selasa (25/8/2015), Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardojo mengatakan, hingga 24 Agustus 2015, nilai tukar rupiah telah melemah 11,8 persen sejak awal tahun atau year to date (ytd).(Estu Suryowati)

Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved