Selasa, 2 Juni 2026

Ahok Tawari Dirut Baru Transjakarta dengan 'Dana Tak Berseri'

Pencopotan Kosasih karena Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama tidak puas dengan kinerja PT Transjakarta

Tayang:
Editor: Hendra Gunawan
Tribunnews/Irwan Rismawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) memiliki pimpinan baru. Jabatan Direktur Utama dipegang oleh Budi Kaliwono yang menggantikan Antonius Kosasih.

Budi Kaliwono sebelumnya adalah Wakil Direktur PT Citra Maharlika Nusantara Corpora (CMNC), yang menjalankan layanan bus dan taksi Cipaganti.

Pencopotan Kosasih karena Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tidak puas dengan kinerja PT Transjakarta, meski setahun terakhir Pemprov telah mengubah pengelola busway (Transjakarta) dari Badan La­yanan Umum Daerah (BLUD) menjadi PT Transjakarta.

"Dua tahun kan hampir gak jalan. Beli bus juga enggak. Dua tahun itu lama loh. Kita kan kenapa dipusatkan ke TJ, pikiran saya waktu masuk ke sini kan sederhana juga," kata Ahok di Balai Kota, Kamis (7/1/2016).

Menurut Ahok, dengan bentuk PT, awalnya ia berharap bisa lebih fleksibel. Termasuk penambahan bus jadi lebih mudah karena masalah birokrasinya lebih mudah.

Namun ternyata setahun terakhir penambahan bus juga tak berjalan sebagaimana mestinya.

Akhirnya Ahok kerap harus turun langsung menangani masalah tersebut.

"Kamu lihat aja, bus ada nambah berapa? Yang nambah (bus) Scania segala macem, emang Transjakarta yang usaha? Atau saya? Masa mesti saya. Terus kalau ada bus numpuk-numpuk, bergandeng kosong lima biji, masa mesti saya yang teriak gitu loh. Gak ada sistem monitor, masa mesti saya yang minta ke Go-Jek suruh bikin kontrol Go-Busway, minta clue bantu saya bikinin. Yang Dirut itu siapa?" ujar Ahok kesal.

Oleh karena itu Ahok lalu memilih Budi Kaliwono yang telah biasa menangani masalah operasional bus, untuk menggantikan Kosasih.

Tanpa memikirkan biaya dan jumlah penumpang, maka menurut Ahok menangani Transjakarta cukup mudah.

"Saya gini aja, saya nggak kenal dia (Kaliwono), saya cuma tahu di Bandung yang busnya hebat, gede-gede itu apa namanya? Cipaganti. Kalau jadi Dirut Cipaganti mesti mikirin penumpang loh, mesti tentuin jam berapa jalan, ke Bandung lagi, macet lagi. Mesti kredit bank lagi, bayar lagi," katanya.

Meskipun, lanjut Ahok, Cipaganti juga sempat bermasalah, ia tidak menghiraukannya. "Yang bermasalah kan internal. Justru karena masalah internal kita kesempatan nawarin direkturnya. Iya dong,"ujarnya.

Kepada Budi Kaliwono yang ditugasi memberesi Transjakarta, Ahok juga menjanjikan bakal menyediakan uang tak berseri alias dana tak terbatas.

"Kamu kalau sama saya nggak ada masalah internal. Nggak usah pusingin duit. Duit kita nggak berseri kok, Pemerintah cetak duit aja, kasarnya gitu kan," katanya.

Sejuta penumpang

Sebelum ditunjuk menjadi Dirut Transjakarta, Budi merupakan Wakil Presiden Direktur PT Citra Maharlika Nusantara Corpora yang menjalankan layanan bus dan taksi Cipaganti. Namun, ia memastikan sudah melepas jabatannya itu.

"Saya di Cipaganti itu sejak Juli 2015. Sebelumnya di sebuah dealer di Surabaya. Sebelumnya lagi, saya 22 tahun di financing," katanya usai acara serah terima jabatan yang digelar di Kantor PT Transjakarta, di Cawang, Jakarta Timur, Kamis (7/1).

Dalam memimpin PT Transjakarta, Budi telah menyiapkan sejumlah rencana dan target. Ia menargetkan PT Transjakarta mampu melayani 1 juta penumpang setiap harinya.

"Kita concern ke pelayanan, kalau bisa ditingkatkan sampai 1 juta penumpang per hari dan itu pastinya luar biasa. Selama ini kan bus Transjakarta baru mampu mengangkut 320.000 penumpang per hari," ujarnya.

Untuk mencapai target tersebut, sejumlah langkah pun diambil seperti pengadaan armada bus yang baru hingga sterilisasi jalur busway. Khusus pengadaan bus baru, Budi menargetkan pihaknya mampu menyediakan 1.000 unit pada tahun 2016.

Selain itu, bus-bus yang selama ini bermasalah seperti rusak maupun terbakar, juga akan menjadi fokusnya selama memimpin PT Transjakarta.

"Nantinya kita akan pilih bus dari Eropa karena perawatannya lebih mudah. Tapi ATPM-nya (Agen Tunggal Pemegang Merk) harus eksis di Indonesia. Kan tidak mungkin kita pilih armada yang tidak punya ATPM di Indonesia," jelasnya. (Junianto Hamonangan/Mohamad Yusuf)

Sumber: Warta Kota
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved