Breaking News:

Menangkap Peluang Besar Industri Kreatif di Era Digital

Dalam beberapa tahun terakhir industri kreatif berhasil menjelma menjadi kekuatan ekonomi baru (new economy) di Indonesia.

Penulis: Choirul Arifin
TRIBUNNEWS/CHOIRUL ARIFIN
Aktivitas layanan pelanggan di kantor pusat JNE Express, Jl Tomang Raya No.45 Jakarta. JNE kini tumbuh menjadi industri jasa kiriman ekspres dan logistik terbesar di Indonesia, antara lain karena ditunjang oleh maraknya industri kreatif yang membutuhkan layanan antaran ke konsumen. 

 
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Industri kreatif kini menjelma menjadi sektor ekonomi yang semakin gemilang di Indonesia. Kontribusinya terhadap perekonomian negara makin signifikan. Menariknya, industri kreatif di Indonesia bertumbuh secara unik.

Industri ini tumbuh kuat ditopang oleh kehadiran kelas menengah. Pelaku industri ini juga mampu memahami dan selalu adaptif terhadap minat dan perubahan selera pasar. Hasilnya, produk-produk industri kreatif yang hadir ke pasar selalu inovatif, segar dan disukai konsumennya.

Maraknya para pelaku industri kreatif juga terbukti mampu menciptakan lapangan kerja baru sekaligus membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga di tengah berbagai ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor industri saat ini.

Itu sebabnya, dalam beberapa tahun terakhir industri kreatif berhasil menjelma menjadi kekuatan ekonomi baru (new economy) di Indonesia. Karena, tidak sedikit dari hasil produk industri kreatif Indonesia yang diekspor ke manca negara.

Saat menghadiri acara peresmian Konferensi Internasional Industri Kreatif atau International Conference Creative Industry (ICCI) 2015 di Denpasar, Bali, 11 Agustus 2015 lalu, Menteri Perindustrian Saleh Husin memaparkan, industri kreatif di Indonesia tumbuh 5,76 persen atau tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,74 persen.

Kontribusi industri kreatif terhadap perekonomian RI mencapai 7 persen dari produk domestik bruto (PDB). Jika dirupiahkan, nilainya mencapai Rp 641,8 triliun. Industri ini mampu memberikan lapangan kerja bagi sedikitnya 11,8 juta orang dari sekitar 5,4 juta total unit usaha kreatif yang eksis di Tanah Air saat ini.

Realisasi ekspor industri kreatif di subsektor kerajinan mencapai 11,81 persen, diikuti subsektor fesyen 7,12 persen, periklanan 6,02 persen dan arsitektur 5,59 persen. Pendapatan dari hasil ekspor sektor industri kreatif mencapai Rp 118 triliun atau 5,7 persen dari total nilai ekspor nasional.

Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Ricky Pesik saat tampil sebagai pembicara di acara gathering media dan blogger ‘Industri Kreatif Pada Era Digital’ di kantor pusat JNE di kawasan Tomang, Jakarta Barat, Desember 2015 lalu, menyatakan, tren geliat industri kreatif tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di sejumlah negara lain.

Mengutip data United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), Ricky Pesik menyatakan, sejak 2002 sampai 2011 ekonomi kreatif secara global tumbuh 134 persen. Subsektor ekonomi ini memberi kontribusi 6,1 persen pada perekonomian dunia.

Melalui Badan Ekonomi Kreatif yang baru saja dibentuk, Ricky Pesik berjanji akan terus mendorong pertumbuhan industri ini agar memberi kontribusi lebih signifikan lagi bagi perekonomian RI, termasuk membantu penciptaan lapangan kerja baru.

Halaman
1234
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved