Breaking News:

Mei Pabrik Beroperasi, Austindo Siap Produksi Tepung Sagu di Papua

Jika tak ada aral melintang, Mei nanti, pabrik pengolahan sagu di Sorong Selatan mulai beroperasi dengan kapasitas produksi 1.260 ton per bulan.

KONTAN
Austindo memiliki izin konsesi perkebunan sagu seluas 40.000 ha. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Setelah dua tahun mempersiapkan diri, pabrik pengolahan sagu milik PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) siap beroperasi secara komersial Mei nanti. Pabrik yang berlokasi di Sorong Selatan, Papua Barat bakal memproduksi sagu curah yang akan dikirim dan dijual ke beberapa daerah.

Istini Siddharta, Presiden Direktur PT Austindo Nusantara Jaya Tbk mengatakan, pabrik sagu merupakan diversifikasi usaha perusahaan  yang sudah dirintis sejak tahun 2014 silam. Austindo memiliki izin konsesi perkebunan sagu seluas 40.000 ha.

Namun, saat ini, kebun yang ditanami seluas 9.000 ha. Seluas 6.500 ha di antaranya merupakan kebun inti, bekerjasama dengan masyarakat setempat.

Jika tak ada aral melintang, Mei nanti, pabrik pengolahan sagu di Sorong Selatan mulai beroperasi dengan kapasitas produksi 1.260 ton per bulan. Targetnya, pabrik yang telah menelan investasi sebesar US$ 40 juta itu akan mengolah dengan kapasitas maksimal sebanyak 3.000 ton sagu per bulan. Produknya: berupa tepung sagu, sebagian dipasarkan di Indonesia Timur, sisanya dikirim ke Surabaya, Jawa Timur.

Pasar industri hilir tepung sagu memang belum berkembang. "Ini akan jadi tantangan bagi kami membentuk pasar pengguna tepung sagu," tuturnya saat berkunjung ke KONTAN. Asal tahu saja, tepung sagu banyak digunakan untuk industri makanan, seperti untuk campuran pembuatan bakso dan empek empek.

Meski begitu, Istini yakin, bisnis ini akan berkembang. Apalagi, dalam bisnis ini, Austindo termasuk industri pioner di bidang produksi tepung sagu. Untuk mendukung pabrik pengolahan sagu, Austindo juga telah membangun pembangkit biomassa berkapasitas 3 megawatt (MW) berbahan baku limbah sagu.

Berdasarkan laporan keuangan tahun 2015, Austindo mencatat kerugian Rp 8,21 miliar. Padahal, di periode yang sama tahun 2014, perusahaan itu masih membukukan laba sebesar Rp 16,42 miliar.

Kerugian perusahaan antara lain disebabkan oleh pendapatan usaha yang turun 21,83% menjadi Rp 133,33 miliar dari sebelumnya Rp 170,58 miliar di tahun 2014.

Saat ini, selain kebun sagu di Papua Barat, Austindo memilih kebun kelapa sawit di Ketapang, Kalimantan Barat; Pulau Belitung; Sumatera Selatan; dan Sumatra Utara. Total jenderal, Austindo memiliki 163.540 hektare (ha) lahan konsesi perkebunan kelapa sawit. Yang dikelola baru seluas 47.606 ha, dengan kapasitas produksi pabrik pengolahan sebanyak 195 ton per jam.

Di luar perkebunan, Austindo memiliki bisnis pembangkit di Jawa, Sumatera, dan Papua. Misalnya, pembangkit biogas di Belitung berkapasitas 1,8 MW.

Reporter: Bagus Marsudi

Editor: Choirul Arifin
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved