Breaking News:

BKPM Beri Kemudahan Berinvestasi Kepada Eks WNI

Saat ini tengah dilakukan rapat BKPM dengan instansi terkait seperti Kementerian Luar Negeri, Kementerian Hukum dan HAM.

Editor: Choirul Arifin
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Menlu Retno LP Marsudi dan Kepala BKPM Franky Sibarani di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (15/3/2016). TRIBUNNEWS/HERUDIN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-  Pemerintah akan memberikan kelonggaran bagi diaspora Indonesia untuk berinvestasi di dalam negeri.

Payung hukum dari kebijakan tersebut ditargetkan akan kelar setidaknya kurang dari empat bulan mendatang.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Franky Sibarani mengatakan, saat ini banyak mantan warga negara Indonesia yang telah lama berada di luar negeri dan tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk serta Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) tertarik untuk menanamkan uangnya di dalam negeri.

"Padahal, dana yang dimiliki oleh para diaspora tersebut besar," kata Franky, pekan lalu.

Untuk menindak lanjuti hal tersebut, saat ini tengah dilakukan rapat BKPM dengan instansi terkait seperti Kementerian Luar Negeri, Kementerian Hukum dan HAM serta Kementeriaan Koordinator Bidang Perekonomian.

Draf beleid itu menurut Franky sudah ada, adapun beberapa poin dari aturan tersebut adalah, pertama, menyamakan paspor dari diaspora sebagai pengganti KTP.

Kedua, rekomendasi dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) sebagai rekomendasi untuk memdapat NPWP.

Dengan dua persyaratan tadi, mantan Warga Negara Indonesia dapat membeli tanah di dalam negeri.

"Hal-hal seperti ini yang kami dorong untuk memastikan tidak sedikit orang Indonesia yang sudah berada di luar negeri atau diaspora yang masih memiliki keinginan untuk masuk ke Indonesia," ujar Franky.

Franky menambahkan Indonesia semestinya dapat meniru India yang lihai dalam mengelola sumber dana dari diaspora untuk berkontribusi menggerakkan perekonomian domestik.

Di India, pemerintah setempat dapat mengelola dana dari diaspora negaranya sampai generasi ketiga.

Reporter: Handoyo

Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved