Petani di Riau Mulai Beralih dari Sawit ke Hortikultura

Jumlah petani di Provinsi Riau yang beralih dari kelapa sawit menjadi penanam sayuran atau hortikultura semakin banyak

Petani di Riau Mulai Beralih dari Sawit ke Hortikultura
ist
Seorang petani dari Provinsi Riau, Suryono, menjadi salah satu pembicara di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Perubahan Iklim atau COP-22, di Maroko. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Jumlah petani di Provinsi Riau yang beralih dari kelapa sawit menjadi penanam sayuran atau hortikultura semakin banyak, terutama di daerah Kecamatan Tualang Kabupaten Siak yang dimotori oleh seorang petani bernama Suryono.

"Setelah mereka melihat saya berhasil, akhirnya banyak yang mengikuti. Sedikitnya ada tiga sampai empat orang yang membabat sawit mereka, bahkan sampai pinjam alat penumbangnya ke saya," kata Suryono di Dusun Sukajaya Kampung Pinang Sebatang Barat, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, Selasa (15/11).

Suryono mulai beralih dari kelapa sawit ke sayuran sejak 2013, karena melihat permintaan sayuran di daerah itu sangat tinggi, namun sangat bergantung pada pasokan dari Kota Pekanbaru serta Provinsi Sumatera Barat.

Beberapa jenis sayuran yang mulai ditanam Suryono antara lain kangkung, bayam, cabai, melon, semangka, kacang panjang, timun, pepaya, dan jagung.

Ketika menjadi petani sawit dengan lahan dua hektare (ha), Suryono hanya mampu meraih penghasilan maksimal sekitar Rp 2-3 juta per bulan.

Namun, kini dengan mengolah lahan setengah hektare untuk ditanami sayuran, dia berhasil meraup penghasilan sekitar Rp 15 juta per bulan.

Bahkan, pada lahan yang sama itu, Suryono bisa mempekerjakan empat sampai sembilan orang warga setempat.

"Berapa pun sayuran yang bisa kita tanam akan diambil semua dipasar, tanpa perlu memperluas lahan," kata pria 41 tahun ini.

Karena keberhasilannya, Suryono akhirnya diakui oleh Pemerintah Kabupaten Siak melalui penghargaan Adikarya Pangan Nusantara 2015, dan Petani Terbaik Siak Bidang Hortikultura 2016.

Keberhasilan Suryono kini dianggap menjadi inspirasi bagi petani lain, sehingga membawanya untuk menghadiri KTT PBB Perubahan Iklim (COP-22) di Marrakesh, Maroko.

Halaman
12
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved