Sabtu, 24 Januari 2026

Neraca Perdagangan Surplus, Ekspor Terus Digenjot

Neraca perdagangan Indonesia menunjukkan angka positif. Pada Juni 2017, mengalami surplus perdagangan sebanyak 1,63 miliar dolar AS.

Editor: Sanusi
Harian Warta Kota/henry lopulalan
PERESMIAN TERMINAL PETI KEMAS - Suasana Terminal Peti Kemas Kalibaru Pelabuhan Utama Tanjung Priok, Jakarta Utara yang baru diresmikan oleh Presiden Joko Widodo, Selasa (13/9). Dengan beroperasinya Terminal Peti Kemas 1 Kalibaru tersebut telah menambah kapasitas terminal peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok menjadi sebesar tujuh juta TEUs per tahun dari yang semula hanya berkisar lima juta. WARTA KOTA/Henry Lopulalan 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Neraca perdagangan Indonesia menunjukkan angka positif. Pada Juni 2017, mengalami surplus perdagangan sebanyak 1,63 miliar dolar AS.

Hal itu akibat total ekspor mencapai 11,64 miliar dolar AS dan impor 10,01 miliar dolar AS.

Menurut Badan Pusat Statistik BPS), surplus itu disebabkan oleh peningkatan perdagangan sektor nonmigas sebesar 1,96 miliar dolar AS. Sepanjang Januari hingga Juni 2017, total ekspor naik sebesar 79,96 miliar dolar AS.

Dengan total impor naik sebesar 72,33 miliar dolar AS. Dengan demikian, sepanjang 2017, neraca perdaganagan Indonesia mengalami surplus sebesar 7,63 miliar dolar AS.

Di tengah terjadinya penurunan pangsa pasar ekspor nonmigas di negara pasar tradisional, ternyata hal itu berdampak positif pasar non-tradisional.

“Sudah ada berbagai upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan ekspor melalui perundingan dengan negara tujuan non-tradisional sekaligus ada pasar-pasar baru,” kata BPS Suhariyanto.

Atas hasil ini, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mensyukuri neraca perdagangan tahun ini. Namun dia mengingatkan, penurunan ekspor juga harus menjadi perhatian. Oleh sebab itu, Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus buka pasar ke berbagai negara.

”Saya baru bertemu duta besar Sri Lanka dan kami akan segera menindaklanjuti kesepakatan antara kedua kepala negara untuk menyusun Preferential Trade Agreement (PTA). Dengan Turki kami kita lakukan hal yang sama, lalu dengan Afrika segera ditindak lanjuti, dan berbagai negara lainnya,” tuturnya.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance Ahmad Heri Firdaus menilai langkah yang diambil oleh pemerintah merupakan langkah yang baik. Menurut dia, upaya tersebut patut didukung dengan dengan promosi produk, dukungan biaya logistik, dan transportasi yang memadai.

“Ya itu salah satu upaya yg baik. Upaya pencarian pasar yang baru itu harus juga didukung sama promosi produk, mensupport biaya logistik dan transportasi untuk eksportir,” tukas Heri.

Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved