Menteri Sri Mulyani Klaim Telah Turunkan Persentase Impor Berisiko Tinggi

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) ‎mengklaim program Penerbitan Importir Berisiko Tinggi (PIBT) telah menunjukkan hasil positif.

Menteri Sri Mulyani Klaim Telah Turunkan Persentase Impor Berisiko Tinggi
ALIJA BERLIAN FANI
Sri Mulyani 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Seno Tri Sulistiyono

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) ‎mengklaim program Penerbitan Importir Berisiko Tinggi (PIBT) telah menunjukkan hasil positif.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, PIBT telah menurunkan persentase impor berisiko tinggi yang jumlahnya selama ini tidak lebih dari 5 persen dari seluruh kegiatan impor atau ekspor di Indonesia.

"Importir berisiko‎ tinggi yang melakukan aktivitas setiap harinya, jumlahnya menurun rata-rata sebesar 66 persen. Lalu, importasi oleh importir berisiko tinggi jumlahnya juga turun rata-rata sebesar 70 persen," tutur Sri Mulyani, Jakarta, Selasa (1/8/2017).

Menurutnya, tingkat kepatuhan importir berisiko tinggi juga sudah menunjukkan perbaikan, hal ini terlihat dari pemberitahuan nilai pabean yang semakin mencerminkan harga transaksi sebesarnya serta meningkatkan jumlah bea masuk dan pajak.

"Nama pemilik barang yang sebenarnya juga sudah diberitahukan, sehingga mempermudah administrasi perpajakan oleh Ditjen Pajak," paparnya.

Meski begitu, Sri Mulyani melihat, penerapan program PIBT‎ masih dihadapkan pada beberapa tantangan, khususnya bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) yang tidak dapat memenuhi perizinan larangan terbatas karena skala kapasitas dan aksesibilitas.

Penulis: Seno Tri Sulistiyono
Editor: Fajar Anjungroso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved