Mulai Hari Ini Toshiba Jepang Turun ke Divisi Kedua Pasar Saham dan Diawasi Ketat

Sedangkan Divisi Pertama untuk perusahaan kelas atas, perusahaan besar seperti Toyota Motor Corporation.

Mulai Hari Ini Toshiba Jepang Turun ke Divisi Kedua Pasar Saham dan Diawasi Ketat
Richard Susilo
Gedung kartor pusat Toshiba Corporation di Tokyo yang tampak tertinggi . 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Toshiba Corporation mulai 1 Agustus 2017 ini turun lokasi transaksi sahamnya ke Divisi Kedua pasar saham Jepang (Tokyo Stock Exchange) dari semula di transaksikan di Divisi Pertama.

Divisi kedua adalah umumnya perusahaan kelas papan menengah Jepang.

Sedangkan Divisi Pertama untuk perusahaan kelas atas, perusahaan besar seperti Toyota Motor Corporation.

Per Juni lalu Toshiba memperkirakan rugi sangat besar sehingga berada di ujung tanduk dan membuat otoritas pengelola TSE meninjau ulang tempat transaksi Toshiba, diturunkan dari Divisi Pertama ke Divisi Kedua.

Hal ini pun juga masih terus dalam monitor pihak otoritas pasar modal karena sampai kini laporan keuangan pasti Toshiba belum dikeluarkan mengingat masih bertikai dengan pihak Amerika Serikat, kerugian besar di Westinghouse dan simpang pendapat dengan pihak buruh Western Digital.

"Pihak otoritas masih memberikan tanda transaksi saham Toshiba dengan "special attention market stock" memonitor ketat keberlanjutan transaksinya di pasar modal walaupun telah turun ke Divisi Kedua," ungkap sumber Tribunnews.com Selasa ini (1/8/2017).

TSE masih terus menunggu laporan tetap Toshiba yang detil mengenai keuangannya saat ini untuk menilai sejauh mana likuiditas Toshiba saat ini.

Toshiba masih terus melakukan diskusi dengan berbagai pihak serta mencari dana baru penyuntikan bagi modal usahanya.

Para pemegang saham melihatnya Toshiba dalam keadaan di ujung tanduk saat ini.

Pengusaha Taiwan, Honghai yang membeli dua pertiga saham Sharp, juga menawar Toshiba dengan harga 3 triliun yen.

Namun Toshiba masih mempertimbangkan hal tersebut dan mendiskusikan dengan banyak pihak.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved