Lakukan Head Of Agreement, PLN Beli Gas Jambaran Tiung Biru Pertamina

PT Pertamina (Persero) dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) menandatangani Head of Agreement (HoA) untuk pasokan gas bumi Jambaran Tiung Biru (JTB) di

Apfia Tioconny Billy
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Pertamina (Persero) dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) menandatangani Head of Agreement (HoA) untuk pasokan gas bumi Jambaran Tiung Biru (JTB) di wilayah Gresik.

Baca: INDEF Meminta Kota Batam Dikembalikan Fungsi Awalnya

Pasokan tersebut dijual Pertamina selaku operator kepada PLN sebesar 7,6 Dolar Amerika Serikat per MMBTU dengan harga yang tetap selama 30 tahun.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar yang menyaksikan penandatanganan tersebut pun menyambut baik kerjasama tersebut mengingat negosiasi yang dilakukan kedua BUMN tersebut sudah cukup lama.

"Perjalanan panjang sampai HoA karena dulu Jamabaran Tiung itu merah menjadi putih dan sekarang HoA di biru. Merah, biru, putih bukanlah terkait politik, tapi yang jelas lapangan gas ini sudah HoA," ujar Arcandra, saat ditemui di  Ruang Sarulla, Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (8/8/2017).

Baca: Lexus Memampang Spanduk Ucapan Selamat Datang untuk Jusuf Kalla di Venue GIIAS

Pada kesempatan tersebut Arcandra juga memaparkan, awalnya pasokan gas bumi di lapangan yang merupakan salah satu projek strategis nasional yang dicanangkan pemerintah itu PoD-nya ditawarkan Pertamina sekira 2,05 miliar Dolar Amerika Serikat.

Namun bagi PLN harga jual yang sekira 9 Dolar Amerika Serikat per MMBTU plus 2 persen esklasi dinilai terlalu tinggi.

Kemudian Pertamina yang saat itu masih bersama dengan Exxon Mobile mengoperatori lapangan gas bumi itu pun diminta oleh pemerintah untuk menurunkan harga.

"Dengan 170 mmscfd dan biaya PoD 2,05 miliar Dolar Amerika Serikat maka operator akhirnya menawarkan penurunan biaya gas 1,8 Dolar Amerika Serikat per mmbtu. Namun apakah  setelah diturunkan 1,8 dolar Amerika Serikat menjadi keekonomian? Tidak, jadi apakah masih ada ruang untuk menurunkan lagi, karena bagi PLN itu belum masuk keekonomian," papar Arcandra.

Tidak berhenti disana, negosiasi pun kembali berlanjut agar Pertamina menurunkan harga hingga dibawah 8 atau 9 Dolar Amerika Serikat per MMBTU-nya.

Hal tersebut untuk meghindari peningkatan biaya pokok produksi PLN.

Hingga akhirnya, Pertamina kembali menurunkan capex sekira 250 juta Dolar Amerika Serikat hingga menghasilkan perjanjian kerjasama saat ini. 

"Jadi itu akhirnya harga sepakat dengan PLN flat sepanjang tahun sampai kontrak terakhir 7,6 Dolar Amerika Serikat per mmbtu flat 30 tahun. Dengan demikian BPP PLN etlis tidak naik," ungkap Arcandra.

Adapun PLN menggunakan gas tersebut sebagai pembangkit listrik dikawasan Gresik.

Berita Populer
Penulis: Apfia Tioconny Billy
Editor: Samuel Febrianto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved