Perbankan Harus Siap Beradaptasi dengan Disrupsi Digital, Ini Alasannya

"Di luar negeri misalnya persaingan di fintech sudah mengambil alih produk perbankan," ujar Kartika

Perbankan Harus Siap Beradaptasi dengan Disrupsi Digital, Ini Alasannya
TRIBUNNEWS/SYAHRIZAL SIDIK
Ketua Umum Perbanas, Kartika Wirjoatmodjo. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Syahrizal Sidik

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Di era digitalisasi seperti sekarang ini, perubahan besar-besaran dialami banyak sektor karena kemajuan teknologi informasi (IT). Salah satunya di sektor perbankan.

Disrupsi digital adalah perubahan secara besar-besaran menandai perubahan era dari yang sifatnya offline ke online, perubahan ini juga mulai menjadi tantangan bagi industri perbankan dengan adanya pemain baru di industri Financial Technologi (Fintech).

Ketua Umum Perbanas, Kartika Wirjoatmodjo, mengatakan perbankan akan mengalami disrupsi dalam skala besar.

"Di luar negeri misalnya persaingan di fintech sudah mengambil alih produk perbankan," ujar Kartika di Perbanas, Jakarta, Kamis (24/8/2017).

Ia menambahkan, di China, sudah sudah masuk Alibababa dan Tensen yang sifatnya peer to peer landing. Di sinilah perbankan harus masuk produk digital menghadapi disrupsi digital tersebut.

Kartika Wirjoatmodjo
Ketua Umum Perbanas, Kartika Wirjoatmodjo

Seruan terkait Digitalisasi Perbankan ini juga dicanangkan oleh Presiden Jokowi, yang mengatakan di tahun 2019, Indonesia akan menjadi the biggest digital economy di Asia Tenggara.

Inovasi Perbankan Hadapi Disrupsi Digital

Kartika mengatakan, untuk di Indonesia, beragam inovasi perbankan pun dilakukan untuk menghadapi era digitalisasi perbankan.

BTPN misalnya berinovasi melalui Jenius, Mandiri dengan E-Money, BCA dengan Flazz yang pada intinya mendigitalisasi produk perbankan.

"Generasi milenial sekarang tahunya Go-Pay yang bisa dipakai beli martabak misalnya, mungkin mereka tidak mengalami yang namanya buku tabungan," tambah Kartika.

Mengatasi hal tersebut, Kartika mengatakan pentingnya transformasi industri perbankan terhadap revolusi teknologi digital.

Namun, Kartika menekankan terkait digitalisasi perbankan, ada dua tantangan yang dihadapi kelompok besar, yaitu generasi milenial dengan sistem pembayaran online, dan kelompok baby boomers, yang juga harus diedukasi mendigitalkan produk perbankan yang tadinya offline seperti kartu kredit.

"User experience penting, Kita pemain perbankan, pakai istilah dua kaki. Dari yang tadinya offline ke online e-cash dengan venture capital. Suatu saat akan convert yang lebih unggul dan user friendly. Ini kolanorasi organik dan anorganik," ujar Kartika.

Penulis: Syahrizal Sidik
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved